Sabtu, Mei 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kreativitas Tidak Akan Habis, Karena Hati Tidak Bisa Diotomatisasi

by eko
Mei 23, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Kreativitas sedang menghadapi ujian terbesarnya. Di tengah dunia yang mulai dipenuhi lagu buatan AI, Yovie Widianto mengingatkan bahwa karya manusia tidak lahir dari sekadar kecerdasan. Sebaliknya, karya besar tumbuh dari hati, luka, dan pengalaman hidup yang tidak bisa diprogram mesin.

Tabooo.id – Sorotan Jogja Financial Festival 2026 bukan hanya soal panggung megah atau deretan tokoh nasional di Jogja Expo Center. Di tengah riuh festival ekonomi dan kreativitas itu, Yovie membawa keresahan baru tentang masa depan musik. Ia berbicara tentang dunia yang berubah cepat sejak kecerdasan buatan mulai menciptakan lagu lebih cepat daripada manusia merasakan cinta dan kehilangan.

Mesin Sudah Bisa Membuat Lagu

Saat ini, AI mampu membuat lagu hanya dalam hitungan menit. Teknologi menyusun lirik, nada, bahkan aransemen dengan sangat cepat. Karena itu, hasilnya kadang terdengar lebih rapi daripada karya manusia yang menghabiskan malam panjang di studio.

Banyak orang memuji kecepatan tersebut. Namun di balik kekaguman itu, muncul pertanyaan yang terasa makin mengganggu: kalau mesin sudah bisa membuat karya, manusia masih dibutuhkan untuk apa?

Pertanyaan itu menggantung ketika Yovie berbicara dalam sesi Music Talks JFF 2026.

“AI bisa presisi, tapi tidak punya hati. Maka dari hati, kita perlu berjuang.”

Kalimat itu memang terdengar sederhana. Akan tetapi, justru di situlah letak kegelisahannya.

Ini Belum Selesai

Kapolda Perintahkan Begal Ditembak: Tegas atau Langgar HAM?

Smart City Modern: WiFi Kencang, Chaos Saat Hujan

Hari ini, dunia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang cepat. Semua harus instan. Semua harus viral. Bahkan industri kreatif mulai memperlakukan karya seni seperti produk cepat konsumsi. Orang membuatnya cepat, menikmatinya sebentar, lalu melupakannya begitu saja.

Musik Tidak Lahir dari Server Dingin

Menurut Yovie, musik bukan sekadar hasil akhir. Musik lahir dari perjalanan emosional manusia.

Di balik sebuah lagu, manusia menyimpan rasa kecewa, kehilangan, amarah, dan harapan. Oleh sebab itu, pengalaman nyata melahirkan lagu besar, bukan sekadar kumpulan data.

AI mungkin bisa membaca pola nada. Namun mesin tidak pernah benar-benar memahami rasanya ditinggalkan seseorang yang dicintai. Selain itu, mesin juga tidak memahami bagaimana manusia menghadapi kegagalan, kecewa, lalu bangkit kembali.

Karena perubahan itu, banyak pekerja kreatif mulai merasa cemas. Mereka melihat teknologi menghasilkan karya serupa dalam waktu jauh lebih singkat. Sementara itu, dunia justru semakin menghargai kecepatan daripada proses kreatif itu sendiri.

Jogja dan Energi Kreatif yang Tidak Akan Habis

Di tengah pembicaraan soal AI, Yovie juga menyinggung kekuatan Jogja sebagai ruang kreativitas.

Menurutnya, kota ini hidup dari semangat anak muda yang terus menciptakan musik, seni, dan gagasan baru. Karena itu, Jogja tetap menjadi rumah bagi banyak karya yang lahir dari proses panjang dan pengalaman nyata.

“Jogja gudang musik. Semangat kerja keras. Sumber daya alam habis. Tapi karya dan pemikiran kreatif tidak akan habis.”

Kalimat itu terasa lebih dalam daripada sekadar pujian untuk sebuah kota.

Saat ini, sumber daya paling mahal bukan lagi tambang atau minyak. Sebaliknya, kemampuan manusia untuk tetap memiliki rasa justru menjadi hal paling berharga di tengah dunia yang makin otomatis.

AI Bukan Musuh, Tapi Jangan Sampai Menggantikan Jiwa

Yovie tidak melihat AI sebagai musuh. Sebaliknya, ia percaya manusia dan teknologi bisa berjalan berdampingan.

AI memang dapat membantu proses produksi menjadi lebih cepat. Selain itu, teknologi juga membuka peluang baru di industri kreatif. Namun manusia tetap harus menjadi pusat dari setiap karya.

Sebab kreativitas bukan cuma soal presisi. Kreativitas adalah perjalanan batin.

Sampai hari ini, belum ada mesin yang benar-benar mengerti bagaimana rasanya menjadi manusia. Belum ada algoritma yang memahami kenapa seseorang menangis diam-diam saat mendengar lagu tertentu.

Lebih dari itu, belum ada sistem yang mengerti bahwa karya besar sering lahir dari luka yang terlalu lama dipendam.

AI mungkin akan terus berkembang. Mesin mungkin suatu hari mampu membuat jutaan lagu dalam sehari.

Namun ada satu hal yang belum bisa diotomatisasi: hati manusia.@eko

Tags: AIJogja Financial FestivalKreativitasOtomatis

Kamu Melewatkan Ini

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

by eko
Mei 22, 2026

AI bisa bikin lagu, tapi tak punya hati. Kalimat itu menjadi kegelisahan utama Yovie Widianto saat berbicara dalam sesi Music...

Purbaya vs Ekonom TikTok: Pertarungan Data dan Ketakutan Publik

Purbaya vs Ekonom TikTok: Pertarungan Data dan Ketakutan Publik

by dimas
Mei 22, 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadhewa menepis ketakutan krisis 1998 di tengah pelemahan rupiah. Namun di era TikTok, publik justru lebih...

Ekonomi Tumbuh, Publik Tetap Gelisah: Data Negara vs Realita TikTok

Ekonomi Tumbuh, Publik Tetap Gelisah: Data Negara vs Realita TikTok

by dimas
Mei 22, 2026

Data ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, tetapi publik tetap merasa hidup semakin berat. Purbaya menilai media sosial ikut membentuk keresahan...

Next Post
Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Publik Tetap Takut?

Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Publik Tetap Takut?

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Rupiah Rp15 Ribu: Target Berani atau Cara Halus Menenangkan Pasar?

Rupiah Rp15 Ribu: Target Berani atau Cara Halus Menenangkan Pasar?

Mei 23, 2026

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Mei 21, 2026

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Mei 22, 2026

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Mei 22, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id