Pemerintah menargetkan rupiah kembali ke Rp15 ribu per dolar AS lewat aturan baru DHE SDA. Tapi apakah pasar benar-benar percaya?
Tabooo.id: Reality – Rupiah masih tertahan di level Rp17 ribuan per dolar AS. Namun, di tengah tekanan global yang belum reda, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru melontarkan target agresif membawa rupiah kembali ke Rp15.000.
Pernyataan itu langsung menyedot perhatian pasar. Sebab, saat banyak negara justru sibuk bertahan dari penguatan dolar AS, pemerintah Indonesia malah bicara soal penguatan rupiah secara drastis.
Bahkan, Purbaya secara terbuka meminta para pemegang dolar segera melepas mata uang AS tersebut.
“Saya bilang pemain valas cepat-cepat buang dolarnya. Kita akan dorong rupiah ke Rp15.000 per dolar AS,” ujar Purbaya dalam Jogjakarta Financial Festival 2026.
Kalimat itu terdengar penuh keyakinan. Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah rupiah benar-benar bisa kembali ke level Rp15 ribu?
Aturan Baru DHE Jadi Senjata Utama
Pemerintah ternyata tidak hanya mengandalkan pernyataan optimistis. Mulai 1 Juni 2026, aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) resmi berlaku.
Melalui PP Nomor 21 Tahun 2026, eksportir wajib menempatkan 100 persen devisa hasil ekspor di bank nasional. Selain itu, sektor nonmigas harus menahan dana tersebut selama 12 bulan di rekening khusus.
Artinya, pemerintah sedang mencoba memastikan dolar tidak terus keluar dari sistem keuangan domestik.
Secara teori, langkah ini memang bisa memperkuat pasokan dolar di dalam negeri. Jika suplai dolar meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi menurun.
Namun, pasar keuangan tidak hanya bergerak berdasarkan teori ekonomi.
Masalahnya, Pasar Tidak Hidup dari Optimisme
Investor global melihat lebih dari sekadar cadangan devisa. Mereka juga memperhatikan stabilitas politik, arah suku bunga Amerika Serikat, tensi geopolitik, hingga potensi perlambatan ekonomi dunia.
Karena itu, target rupiah Rp15 ribu tidak semudah menahan dolar eksportir di dalam negeri.
Apalagi, dolar AS masih menjadi “tempat berlindung” utama saat dunia menghadapi ketidakpastian. Ketika konflik global meningkat atau ekonomi melemah, investor biasanya langsung memburu dolar.
Di titik inilah tantangan terbesar pemerintah muncul.
Jika Indonesia ingin benar-benar membawa rupiah ke Rp15 ribu, pemerintah harus memastikan arus modal asing terus masuk. Selain itu, stabilitas obligasi negara juga harus dijaga agar investor tidak kabur.
Karena alasan itu, Kementerian Keuangan mulai aktif membeli obligasi di pasar sekunder. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga yield tetap stabil dan meredam arus modal keluar.
Menurut Purbaya, strategi itu mulai menunjukkan dampak positif. Investor asing disebut mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Rupiah Bukan Sekadar Angka
Meski begitu, target Rp15 ribu tetap dianggap ambisius.
Sebab, sejarah menunjukkan bahwa rupiah sangat sensitif terhadap sentimen global. Sedikit gejolak dari Amerika Serikat saja sering langsung menekan nilai tukar domestik.
Selain itu, pasar juga bisa membaca pernyataan agresif pemerintah dengan dua cara berbeda.
Di satu sisi, pasar mungkin melihat pemerintah sangat percaya diri. Namun, di sisi lain, pasar juga bisa menganggap negara sedang berusaha keras menahan kepanikan.
Ironisnya, semakin keras pemerintah berbicara soal penguatan rupiah, semakin besar pula ekspektasi yang dibangun di mata publik.
Jika target itu gagal tercapai, efek psikologisnya bisa berbahaya. Kepercayaan pasar dapat terganggu karena pemerintah dianggap terlalu jauh membangun harapan.
Karena itu, isu ini bukan sekadar soal kurs mata uang.
Ini soal kepercayaan.
Dan di dunia finansial, rasa percaya sering jauh lebih mahal dibanding cadangan devisa.
Human Impact: Dampaknya Buat Kamu
Kalau rupiah benar-benar menguat, harga barang impor bisa lebih murah. Tekanan terhadap harga BBM dan bahan baku juga berpotensi menurun.
Namun, jika target itu gagal dan rupiah justru terus melemah, dampaknya bisa langsung terasa ke kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan pokok berpotensi naik, biaya produksi meningkat, dan tekanan ekonomi rumah tangga makin berat.
Artinya, pertarungan rupiah bukan cuma urusan elite ekonomi atau trader valas.
Dompet masyarakat ikut jadi taruhannya. @dimas

