AI bisa bikin lagu, tapi tak punya hati. Kalimat itu menjadi kegelisahan utama Yovie Widianto saat berbicara dalam sesi Music Talks di Jogja Financial Festival 2026. Di tengah ledakan teknologi generatif, Yovie mengingatkan bahwa musik sejatinya lahir dari pengalaman manusia dari luka, cinta, kehilangan, hingga perjalanan emosional yang tidak bisa diprogram mesin.
Tabooo.id: Yogyakarta – Di tengah derasnya musik buatan mesin, Yovie mengingatkan satu hal yang mulai langka: hati manusia. Menurutnya, AI memang mampu menghasilkan musik dalam hitungan menit. Namun kreativitas sejati tetap lahir dari pengalaman, emosi, dan perjalanan batin yang tidak bisa diprogram.
Jogja dan Kreativitas yang Tidak Akan Habis
Dalam sesi Music Talks JFF 2026, Yovie melontarkan kalimat yang langsung menyentuh keresahan banyak pekerja kreatif.
“AI bisa presisi, tapi tidak punya hati. Maka dari hati, kita perlu berjuang.” ungkapnya.
Ucapan itu terdengar sederhana. Namun di tengah industri kreatif yang mulai dibanjiri teknologi generatif, kalimat tersebut terasa seperti peringatan.
Yovie menilai Jogja memiliki kekuatan besar di sektor kreativitas. Baginya, sumber daya alam bisa habis. Akan tetapi, ide dan karya manusia tidak akan pernah benar-benar hilang.
“Jogja gudang musik. Semangat kerja keras. Sumber daya alam habis. Tapi karya dan pemikiran kreatif tidak akan habis,” ujarnya.
Menurut Yovie, kota seperti Jogja hidup dari energi kreatif anak mudanya. Musik, seni, dan gagasan baru terus tumbuh karena lahir dari pengalaman manusia yang nyata.
Ketika Mesin Mulai Meniru Manusia
Dunia musik kini sedang menghadapi perubahan besar. AI sudah mampu membuat lagu, lirik, bahkan aransemen hanya dalam sekali klik. Proses yang dulu membutuhkan waktu panjang kini bisa selesai dalam hitungan menit.
Namun bagi Yovie, musik bukan sekadar hasil akhir.
Di balik sebuah lagu, ada rasa kecewa, kehilangan, patah hati, dan perjuangan hidup. Semua itu membentuk karakter sebuah karya. Mesin mungkin bisa meniru pola nada. Tetapi mesin tidak pernah benar-benar memahami rasa ditinggalkan atau gagal sebagai manusia.
Karena itu, banyak pekerja kreatif mulai merasa cemas. Mereka mempertanyakan apakah proses panjang dalam berkarya masih memiliki nilai ketika teknologi mampu menghasilkan sesuatu yang terlihat serupa dalam waktu singkat.
AI Bukan Musuh, Tapi Tidak Bisa Menggantikan Jiwa
Meski demikian, Yovie tidak melihat AI sebagai musuh. Ia percaya manusia dan teknologi seharusnya berjalan berdampingan.
Menurutnya, AI bisa membantu mempercepat proses produksi. Namun inti kreativitas tetap berada di tangan manusia. Sebab karya bukan hanya soal presisi, melainkan juga tentang rasa yang hidup di dalamnya.
Di titik ini, pembicaraan tentang AI sebenarnya bukan sekadar soal teknologi. Ini tentang identitas manusia di era serba instan.
Karena mungkin suatu hari mesin bisa membuat jutaan lagu.
Tetapi tidak semua lagu bisa lahir dari luka yang nyata. @eko




