Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ekonomi Tumbuh, Publik Tetap Gelisah: Data Negara vs Realita TikTok

by dimas
Mei 22, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Data ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, tetapi publik tetap merasa hidup semakin berat. Purbaya menilai media sosial ikut membentuk keresahan ekonomi masyarakat.

Tabooo.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadhewa melontarkan pengakuan yang terdengar jujur sekaligus menggelitik saat tampil di Jogja Financial Festival (JFF) 2026 di Jogja Expo Center, Jumat (22/5/2026).

Ia mengaku bingung.

Bagaimana mungkin inflasi tetap rendah, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen, dan konsumsi masyarakat meningkat, tetapi publik justru merasa hidup semakin berat?

Mengapa banyak orang mengeluh harga kebutuhan naik, lapangan kerja sulit, dan pemutusan hubungan kerja terus muncul, sementara data resmi negara menunjukkan ekonomi masih tumbuh?

Di tengah diskusi bersama Founder CT Corp Chairul Tanjung, Purbaya akhirnya melontarkan kesimpulan yang langsung memancing perhatian publik.

Ini Belum Selesai

25 Minimarket Ditutup: Kenapa Pemerintah Baru Tegas Setelah Ritel Menjamur?

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

“Setelah saya analisa lebih lanjut, ternyata itu kebanyakan adalah analisa ekonom di TikTok,” katanya.

Ruangan langsung dipenuhi tawa kecil. Namun di balik kalimat itu, muncul persoalan yang jauh lebih besar dibanding candaan soal media sosial.

Indonesia hari ini menghadapi pertarungan baru: pertarungan antara data resmi negara dan realitas emosional yang hidup di timeline publik.

Ketika Statistik Kehilangan Pengaruh

Diskusi itu bermula saat Chairul Tanjung mempertanyakan jarak yang semakin terasa antara statistik pemerintah dan pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen. Inflasi terkendali. Tingkat pengangguran terbuka turun. Angka kemiskinan ikut menurun.

Namun di luar ruang statistik, keresahan publik justru terus membesar.

Sebagian masyarakat merasa harga kebutuhan hidup semakin mahal. Banyak anak muda mengaku sulit mencari pekerjaan. Gelombang PHK juga terus menghantui sejumlah sektor industri.

Media sosial kemudian memperkuat keresahan itu lewat video pendek, potongan grafik, dan narasi pesimistis tentang ekonomi Indonesia.

Chairul Tanjung lalu mengajukan pertanyaan penting: apakah ada jurang antara data statistik dan kenyataan yang dirasakan masyarakat?

Pertanyaan itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Saat publik mulai meragukan data negara, yang runtuh bukan cuma angka statistik. Rasa percaya terhadap keadaan ikut melemah.

Di era digital, rasa percaya sering kalah cepat dibanding algoritma.

TikTok dan Produksi Ketakutan Ekonomi

Purbaya kemudian menjelaskan bahwa dirinya mengecek ulang sejumlah indikator ekonomi. Ia menemukan penjualan mobil meningkat. Penjualan motor naik. Konsumsi listrik tumbuh. Penjualan semen bergerak positif. Penggunaan bahan bakar minyak juga terus naik.

Menurutnya, data itu menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat.

“Konsumsi masyarakat trennya masih naik kencang. Artinya kelihatannya daya beli masyarakat nggak sejelek yang dikatakan oleh ekonom-ekonom di TikTok,” ujar Purbaya.

Kalimat itu terdengar satir. Namun justru di situlah inti persoalannya.

Hari ini, media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan. TikTok berubah menjadi ruang produksi opini ekonomi massal.

Masalahnya, algoritma bekerja berdasarkan emosi, bukan akurasi.

Konten yang menakutkan biasanya lebih cepat viral dibanding penjelasan ekonomi yang rumit. Video bertema “Indonesia mau krisis”, “ekonomi hancur”, atau “masa depan generasi muda suram” jauh lebih mudah menarik perhatian dibanding laporan statistik resmi.

Akibatnya, banyak orang mulai membangun persepsi ekonomi berdasarkan potongan video pendek, bukan pemahaman utuh.

Publik akhirnya tidak hanya hidup berdasarkan kondisi ekonomi nyata.

Mereka juga hidup berdasarkan rasa cemas yang terus muncul setiap hari.

Negara Bicara Angka, Publik Bicara Pengalaman

Tetapi persoalannya tidak sesederhana “TikTok salah” atau “masyarakat terlalu pesimis”.

Pengalaman hidup masyarakat tetap nyata.

Banyak keluarga memang merasa pengeluaran semakin besar. Banyak pekerja muda merasakan persaingan kerja semakin keras. Sebagian kelas menengah mulai menghadapi tekanan ekonomi yang terus meningkat.

Di titik itu, konflik besar mulai terlihat.

Negara berbicara lewat angka.

Publik berbicara lewat pengalaman hidup.

Dan pengalaman sehari-hari sering terasa lebih kuat dibanding statistik nasional.

Seseorang mungkin tidak membaca laporan inflasi. Tetapi ia sadar harga makan siang langganannya naik. Ia mungkin tidak memahami data pertumbuhan ekonomi. Namun ia merasakan biaya hidup semakin berat setiap bulan.

Karena itu, perdebatan ekonomi hari ini bukan lagi sekadar soal data benar atau salah.

Persoalannya berubah menjadi soal kepercayaan.

Siapa yang lebih dipercaya publik: data resmi negara atau keresahan kolektif yang muncul di media sosial?

Algoritma Pesimisme dan Industri Konten Krisis

Di era digital, ketakutan berubah menjadi komoditas.

Konten pesimistis sering mendapat perhatian lebih besar karena manusia secara alami lebih responsif terhadap ancaman dibanding kabar baik. Algoritma media sosial memahami pola itu dengan sangat baik.

Semakin menakutkan isi konten, semakin lama orang menonton.

Semakin emosional narasinya, semakin tinggi interaksinya.

Dari situ muncul fenomena baru: industri pesimisme digital.

Siapa pun kini bisa tampil sebagai “ekonom TikTok” hanya dengan kamera ponsel, potongan data, dan narasi krisis. Banyak kreator membungkus konten ekonomi dengan gaya dramatis dan emosional meski sering kehilangan konteks utuh.

Lama-kelamaan, publik mulai memandang ekonomi melalui rasa takut, bukan analisis menyeluruh.

Ironisnya, rasa takut itu ikut memengaruhi ekonomi nyata.

Ketika masyarakat terlalu takut belanja, konsumsi melambat.

Ketika publik terus merasa pesimis, kepercayaan ekonomi ikut turun.

Padahal ekonomi sangat bergantung pada keyakinan masyarakat terhadap masa depan.

Ini Bukan Sekadar Debat Statistik

Purbaya juga menjawab kritik yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bergantung pada belanja pemerintah. Menurutnya, Presiden mendorong distribusi belanja negara lebih merata sejak awal tahun sehingga pertumbuhan belanja pemerintah mencapai 21,8 persen.

Namun dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen, konsumsi rumah tangga justru menyumbang 2,94 persen dan investasi mencapai 1,79 persen.

“Di sini kelihatan sekali bahwa belanja masyarakat kita masih kuat,” kata Purbaya.

Tetapi angka tetap tidak selalu mampu menghapus kecemasan publik.

Di tengah dunia digital hari ini, manusia tidak hanya mengonsumsi barang.

Mereka juga mengonsumsi ketakutan.

Dan mungkin, di situlah inti persoalan ekonomi modern sekarang.

Ini bukan sekadar pertarungan antara data negara dan ekonom TikTok.

Ini pertarungan antara realitas statistik dan emosi publik yang terus dibentuk algoritma setiap hari.

Lalu pertanyaannya menjadi semakin rumit: ketika masyarakat lebih percaya timeline dibanding data resmi, siapa sebenarnya yang sedang mengendalikan cara kita melihat keadaan? @dimas

Tags: Data EkonomiEkonomi IndonesiaInflasi IndonesiaJogja Financial FestivalPurbaya Yudhi SadewaTikTok Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

by dimas
Mei 22, 2026

Jogja Financial Festival 2026 resmi dibuka di Jogja Expo Center (JEC), Bantul. Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Ova Emilia...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Rupiah Rp16.800, Ekonomi 6,5%: Janji Fiskal atau Ujian Realitas 2027

Rupiah Rp16.800, Ekonomi 6,5%: Janji Fiskal atau Ujian Realitas 2027

by jeje
Mei 20, 2026

Rupiah masih bergerak di wilayah yang bikin banyak orang waswas. Harga kebutuhan belum terasa ringan, biaya hidup makin terasa sempit,...

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id