Kota modern saat ini terus berlomba menjadi smart city, tetapi masih gagal menyelesaikan masalah paling dasar yaitu banjir, krisis air, dan ruang hidup yang makin sesak. Ironisnya, ratusan tahun lalu leluhur Nusantara justru sudah membangun sistem kota yang memahami cara air bergerak, tanah bernapas, dan manusia hidup berdampingan dengan alam. Lalu apakah masyarakat modern lebih bijak dari pada cara leluhur memahami alam itu sendiri?
Tabooo.id: Kota modern suka menyebut dirinya maju.
Gedung tumbuh tinggi.
Jalan melebar.
Mall menyala sampai tengah malam.
Memasang teknologi di setiap sudut kota.
Tapi setiap musim hujan datang, banyak kota tetap panik seperti belum pernah belajar apa-apa.
Banjir datang.
Air bersih langka.
Udara makin panas.
Ruang hijau hilang.
Banyak manusia semakin stress hidup di kota.
Ironisnya, ratusan tahun lalu, leluhur Nusantara justru memahami sesuatu yang sekarang terasa makin mahal:
cara hidup berdampingan dengan alam.
Majapahit membangun kanal.
Sriwijaya menyesuaikan kota dengan rawa.
Bali menciptakan sistem distribusi air berbasis musyawarah lewat Subak.
Mataram Kuno memahami lereng gunung dan pola air vulkanik.
Mereka tidak punya AI.
Tidak punya sensor digital.
Tidak punya jargon smart city.
Tapi mereka punya sesuatu yang mulai hilang dari peradaban modern:
kesadaran.
Kota Modern Bangun Kecepatan, Bukan untuk Bertahan
Salah satu masalah terbesar pembangunan modern adalah obsesi pada kecepatan.
Semua harus cepat:
pembangunan cepat,
investasi cepat,
ekspansi cepat,
pertumbuhan cepat.
Akibatnya, banyak membangun kota bukan berdasarkan karakter alam, melainkan berdasarkan kebutuhan ekonomi jangka pendek.
Penimbunan rawa untuk dijadikan perumahan.
Mempersempit sungai demi pembangunan jalan.
Membabat hutan kota demi apartemen.
Tanah resapan berubah jadi parkiran beton.
Lalu ketika banjir datang, manusia pura-pura kaget.
Padahal air hanya mencari jalannya kembali.
Leluhur Nusantara tampaknya memahami bahwa manusia tidak bisa membangun kota tanpa menjaga keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Mereka membangun mengikuti aliran air, arah angin, struktur tanah, dan siklus musim.
Hari ini, banyak pengembang dan pemerintah justru membangun kota dengan logika yang melawan alam.
Dan setiap perlawanan selalu punya harga.
Modernitas Ajarkan Manusia untuk Merasa Paling Pintar
Ada kesombongan tersembunyi dalam peradaban modern:
keyakinan bahwa teknologi bisa mengendalikan segalanya.
Karena itu manusia mulai percaya:
semua bisa direkayasa,
bisa memindahkan semua hal,
dan bisa menaklukkan semua.
Memotong gunung.
Alih fungsi sungai.
Pantai direklamasi.
Pengundulan hutan.
Semuanya atas nama kemajuan.
Masalahnya, alam tidak pernah benar-benar kalah.
Ia hanya menunggu waktu untuk bereaksi.
Dan ketika reaksinya datang dalam bentuk banjir, longsor, kekeringan, atau krisis udara, manusia menyebutnya bencana alam—seolah semua itu muncul tanpa campur tangan manusia sendiri.
Padahal banyak “bencana” modern sebenarnya adalah tagihan dari kesombongan pembangunan.
Leluhur Nusantara Tidak Pisahkan Teknologi dan Filosofi
Hari ini manusia sering memisahkan teknologi dari nilai hidup.
Yang penting efisien.
Yang penting untung.
Dan yang penting cepat jadi.
Sementara leluhur Nusantara membangun sistem yang bukan cuma teknis, tapi juga filosofis.
Subak di Bali bukan sekadar irigasi. Ia adalah sistem sosial yang mengajarkan keseimbangan, gotong royong, dan distribusi adil.
Petirtaan bukan cuma tempat ritual, tapi juga bagian dari sistem pemurnian air alami.
Kanal Majapahit bukan cuma saluran air, tapi cara menjaga kota tetap hidup saat musim berubah.
Mereka memahami bahwa teknologi tanpa kesadaran hanya akan menghasilkan kerusakan yang lebih cepat.
Dan mungkin, di situlah kota modern mulai tersesat.
Kota Hari Ini Kehilangan Hubungan dengan Manusia
Banyak kota modern terasa megah.
Tapi kota-kota modern justru membuat manusia semakin sulit hidup nyaman di dalamnya.
Macet panjang.
Udara buruk.
Biaya hidup tinggi.
Ruang publik minim.
Orang hidup berdempetan, tapi merasa makin sendirian.
Kota berkembang.
Manusia justru mengecil.
Pembangunan hari ini terlalu fokus pada angka:
berapa investasi masuk,
berapa gedung berdiri,
dan berapa proyek selesai.
Tapi jarang bertanya:
apakah manusia di dalamnya hidup lebih baik?
Leluhur Nusantara mungkin tidak punya pencakar langit.
Tapi mereka tahu bahwa kota harus menjaga hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.
Modernitas justru sering memutus hubungan itu.
Kita Tidak Kekurangan Teknologi tapi Kurang Kerendahan Hati
Hari ini dunia punya teknologi paling canggih sepanjang sejarah.
Tapi banyak kota tetap gagal mengatasi masalah paling dasar:
air,
udara,
sampah,
dan ruang hidup manusia.
Mungkin masalahnya bukan kurang inovasi.
Mungkin kita terlalu sibuk menciptakan masa depan sampai lupa mendengarkan masa lalu.
Leluhur Nusantara meninggalkan banyak jejak pengetahuan:
tentang air,
tentang tanah,
pentingnya keseimbangan,
tentang hidup yang tidak rakus terhadap bumi.
Tapi modernitas sering menganggap masa lalu sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan.
Padahal jawabannya sudah ada dan leluhur Nusantara sudah mengantisipasinya.
Karena, gambaran sebuah kota masa depan bukanlah kota digitalisasi.
Tapi kota yang paling mampu hidup selaras dengan kehidupan.

