Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

25 Minimarket Ditutup: Kenapa Pemerintah Baru Tegas Setelah Ritel Menjamur?

by teguh
Mei 22, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Pemkab Lombok Tengah memilih langkah tegas. Pemerintah menghentikan operasional 25 Minimarket karena lokasi mereka melanggar aturan zonasi pasar rakyat.

Tabooo.id – Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Lombok Tengah, Dalilah, menegaskan bahwa pemerintah hanya menjalankan aturan yang sudah berlaku sejak 2021 dan korbannya 25 Minimarket resmi ditutup.

“Minimarket kurang dari satu kilometer dari pasar akan ada sanksi administratif, penghentian sementara kegiatan usaha hingga pencabutan izin,” ujar Dalilah, Kamis (21/05/2026).

Secara hukum, pemerintah memang punya pijakan kuat. Tetapi publik tetap menyimpan pertanyaan: kalau aturan sudah hadir sejak 2021, kenapa pemerintah baru bergerak sekarang? Karena izin usaha tidak muncul begitu saja.

Pemerintah memeriksa berkas, menerbitkan izin, lalu mengawasi operasional toko.

Jadi ketika hari ini pemerintah menyebut 25 gerai melanggar aturan, publik wajar bertanya siapa yang membiarkan pelanggaran itu tumbuh selama bertahun-tahun?

Pertanyaan itu bukan serangan. Publik hanya ingin memahami pola kerja pengawasan daerah. Karena ketika negara bergerak terlambat, masyarakat kecil biasanya menanggung dampak paling besar.

Ini Belum Selesai

Anggaran BGN 2027 Turun Rp30 Triliun, MBG Tetap Dominan

Patungan Rp10 Ribu, Massa Datangi Kemensos Gugat Desil Bansos

Benturan Dua Model Ekonomi

Di permukaan, persoalan ini terlihat seperti konflik izin usaha.

Namun di lapisan lebih dalam, Lombok Tengah sedang menghadapi benturan dua cara bertahan hidup pasar rakyat melawan ritel modern.

Pasar tradisional tumbuh dari hubungan sosial. Pedagang mengenal pembeli. Mereka membuka ruang tawar-menawar. Bahkan beberapa pelanggan masih bisa berutang.

Sementara minimarket menawarkan kenyamanan. Mereka membuka toko lebih lama, memakai sistem distribusi besar, dan menggoda pembeli lewat promo rutin.

Sebagian warga tentu merasa lebih praktis. Namun banyak pedagang kecil mulai merasakan tekanan.

Saat ritel modern berdiri terlalu dekat, sebagian pelanggan mengubah kebiasaan belanja mereka. Akibatnya, omzet pasar rakyat sering ikut turun.

Masalah utamanya bukan sekadar harga murah Masalah sebenarnya muncul saat dua pelaku usaha masuk ke arena yang tidak seimbang.

Warung kecil bertahan dari keuntungan tipis. Sebaliknya, jaringan waralaba bergerak dengan modal besar dan distribusi nasional.

Pola Nasional yang Terus Berulang

Lombok Tengah bukan kasus pertama. Daerah lain juga pernah menghadapi konflik serupa. Pemerintah daerah sering berdiri di tengah dilema.

Kalau pemerintah terlalu longgar, pasar rakyat kehilangan ruang hidup. Namun kalau pemerintah terlalu keras, pekerja ritel ikut kehilangan sumber penghasilan.

Data di Lombok Tengah memperlihatkan dilema itu secara gamblang. Dari total 139 gerai modern, pemerintah menghentikan 25 gerai, terdiri dari 18 Alfamart dan 7 Indomaret.

Di balik angka itu, sekitar 150 pekerja lokal kini menghadapi ketidakpastian. Mayoritas berasal dari lulusan SMA.

Bagi mereka, minimarket bukan sekadar tempat kerja. Gerai itu membuka akses pekerjaan formal dengan upah tetap.

Supriadi, salah satu perwakilan pekerja, menyampaikan keresahan yang terasa sangat manusiawi.

“Saking senang dan alhamdulillah dapat pekerjaan di Alfamart, dengan gaji UMR dengan background SMA. Harapan saya dan teman-teman agar gerai ini tetap diberikan izin buka,” ujarnya saat aksi damai, Rabu (20/05/2026).

Kalimat itu terasa sederhana Namun kenyataannya berat. Karena di balik debat soal zonasi, banyak keluarga masih menghitung cicilan, biaya sekolah, dan kebutuhan dapur.

Siapa yang Paling Menanggung Luka?

Pedagang pasar takut kehilangan pelanggan. Pekerja minimarket takut kehilangan penghasilan. Pemerintah menerima kritik karena baru bertindak setelah masalah membesar.

Sementara perusahaan ritel harus mencari jalan keluar. Dalilah mengatakan pemerintah menawarkan dua pilihan: mengubah model bisnis atau memindahkan lokasi usaha agar sesuai aturan.

Pemkab juga meminta perusahaan menempatkan pekerja ke gerai lain agar PHK tidak terjadi.

“Sebisa mungkin melakukan mutasi internal ditempatkan di gerai yang masih ada,” tegas Dalilah.

Namun kenyataan di lapangan sering lebih rumit. Perusahaan harus menghitung biaya relokasi. Pekerja belum tentu bisa pindah lokasi.

Ini Bukan Sekadar Toko Tutup Tapi Ini Pola.

Cerita Lombok Tengah sebenarnya lebih besar dari angka 25 gerai. Kasus ini memperlihatkan pola lama negara sering bergerak setelah masalah tumbuh terlalu besar.

Saat ritel berkembang, pengawasan terlihat longgar. Saat dampak mulai terasa, pemerintah baru bergerak keras.

Akibatnya, konflik selalu jatuh ke bawah. Pedagang kecil berhadapan dengan pekerja kecil. Padahal akar persoalannya mungkin bukan mereka.

Publik justru perlu bertanya kenapa pengawasan baru terasa tegas setelah ekonomi warga ikut bergantung pada sistem yang dianggap melanggar?. @teguh

Tags: AlfamartEkonomi DaerahEkonomi KerakyatanIndomaretKebijakan PublikLombok TengahNTBPasar TradisionalPemkab Lombok TengahPengangguranRitel ModernUMKM

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Lima Tahun Menjaga Rasa, Lontong Kikil Bang J Melawan Ketidakpastian

Lima Tahun Menjaga Rasa, Lontong Kikil Bang J Melawan Ketidakpastian

by teguh
September 7, 2026

Semangkuk lontong kikil bang J seharga Rp18 ribu tampak sederhana. Lontong, kikil, tahu, dan kuah kaldu tersaji dalam satu mangkuk...

Lontong Kikil Bang J: Dari Pinggir Jalan, Sampai Pelanggan Luar Kota

Lontong Kikil Bang J: Dari Pinggir Jalan, Sampai Pelanggan Luar Kota

by teguh
September 3, 2026

Di pinggir jalan Dusun Gedang Klutuk, Mojokerto, semangkuk lontong kikil bang J punya cara sendiri untuk memanggil orang datang. Bukan...

Next Post
Nusantara Sudah Punya Smart City, Tapi Kita Lupa Mengkopi

Nusantara Sudah Punya Smart City, Tapi Kita Lupa Mengkopi

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id