Pemerintah daerah ramai bicara smart city. Kamera pengawas bertambah, aplikasi layanan publik terus muncul, dan slogan kota modern memenuhi baliho.
Tabooo.id – Tapi di pinggir Jalan Raya Dusun Seruni, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, kenyataannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih bau. Warga masih kebingungan mencari tempat buang sampah.
Kota Pintar Ramai Dipromosikan, Jalan Raya Malah Berubah Jadi Tempat Sampah
Tumpukan sampah liar di Desa Banjartanggul kini tidak cuma merusak pemandangan. Bau menyengat dari limbah rumah tangga terus mengganggu pengguna jalan, terutama saat cuaca panas.
Ironisnya, lokasi itu berada di jalur padat menuju kawasan industri Ngoro.
“Saya tiap hari lewat sini untuk kerja. Kadang baunya sangat menyengat saat panas,” kata Irfan (34), pengguna jalan yang rutin melintas, Rabu, 22 April 2026.
Tumpukan sampah itu juga tidak muncul mendadak. Warga setempat, Buadi (56), mengatakan orang terus membuang sampah di lokasi itu selama tiga tahun terakhir.
“Siang hari sudah menumpuk. Kadang juga ada yang membakar,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar biasa. Tapi justru di situlah masalahnya.
Indonesia terus bicara kota modern. Sementara itu, sebagian warga masih menyelesaikan sampah dengan cara membuang atau membakarnya di pinggir jalan.
Warga Diminta Sadar Lingkungan, Fasilitasnya Justru Belum Tersedia
Buadi mengaku warga sebenarnya sadar tindakan itu salah. Namun, mereka juga menghadapi persoalan yang lebih mendasar.
“Di kampung kami tidak ada fasilitas angkut sampah. Warga mungkin bingung mau buang ke mana,” katanya.
Pernyataan itu membuka ironi yang lebih besar.
Pemerintah terus meminta masyarakat menjaga lingkungan. Namun di beberapa wilayah, sistem pengelolaan sampah dasar bahkan belum berjalan maksimal.
Pengamat lingkungan dari Universitas Airlangga, Dr. Rizki Mahendra, menilai banyak daerah terlalu fokus membangun citra kota modern daripada memperkuat layanan dasar.
“Smart city tidak dimulai dari aplikasi. Smart city dimulai dari layanan dasar yang bekerja,” ujarnya kepada Tabooo.id, Jumat, 24 April 2026.
Menurutnya, sampah liar menunjukkan negara belum benar-benar hadir di level paling dekat dengan warga.
“Kalau warga masih bingung membuang sampah, berarti sistem dasarnya belum selesai,” katanya.
Produksi Sampah Naik, Kapasitas TPA Terus Menurun
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono, mengakui volume sampah meningkat drastis selama Lebaran 2026.
Dalam kondisi normal, TPA Karangdiyeng menerima sekitar 90 ton sampah per hari. Namun saat Lebaran, jumlahnya melonjak hampir dua kali lipat.
“Ada lonjakan produksi sampah hingga sekitar 100 ton per hari,” ujarnya.
DLH kini mengoptimalkan TPS3R dan bank sampah untuk menekan beban TPA Karangdiyeng.
Selain itu, pihaknya juga mengampanyekan penggunaan tumbler, tas non-plastik, dan pemilahan sampah sejak dari rumah.
Namun persoalan di lapangan tetap sama. Produksi sampah terus naik, sementara daya tampung dan sistem pengelolaannya belum bergerak secepat pertumbuhan limbah.
Negara Bicara Masa Depan, Warga Masih Berhadapan Dengan Bau Sampah
Sosiolog perkotaan, Nur Aini Rahmawati, melihat fenomena ini sebagai potret paradoks pembangunan.
“Kita hidup di era branding kota pintar. Tapi urusan sampah masih sering selesai lewat kesadaran warga tanpa sistem pendukung,” ujarnya.
Budayawan Mojokerto, Budi Santoso, juga menilai tumpukan sampah liar mencerminkan hubungan masyarakat dengan ruang publik.
“Ketika jalan berubah jadi tempat sampah, masyarakat mulai kehilangan rasa memiliki terhadap ruang bersama,” katanya.
Menurutnya, masyarakat akhirnya terbiasa hidup berdampingan dengan kekacauan.
“Orang jadi menganggap keadaan seperti ini normal karena terlalu lama dibiarkan,” ujarnya.
Kerja Bakti Mungkin Bisa Membersihkan Jalan, Tapi Belum Tentu Membersihkan Masalah
DLH Kabupaten Mojokerto menyatakan akan menggelar kerja bakti bersama warga dan pemerintah desa pada Jumat pagi, 24 April 2026.
“TRC DLH besok akan melakukan giat bersama warga dan kepala desa terkait penanganan sampah liar di jalan raya tersebut,” kata Rachmat.
Langkah itu memang penting. Tapi pertanyaannya belum selesai.
Apakah sampah akan benar-benar hilang?
Atau tumpukan itu hanya pindah sebentar sebelum kembali muncul beberapa minggu lagi?
Kota Pintar Tidak Gagal Karena Sampah, Tapi Karena Sistemnya Belum Selesai
Ini bukan sekadar soal warga membuang sampah sembarangan.
Ini tentang pembangunan yang terlalu sibuk mengejar simbol modernitas, tapi belum menyelesaikan layanan paling dasar untuk masyarakat.
Karena kota pintar tidak lahir dari baliho. Kota pintar lahir ketika warga tidak lagi menjadikan pinggir jalan sebagai tempat terakhir membuang masalah. @teguh





