Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kalau Kamu Jadi Bupati, Pilih Pasar Tradisional atau 150 Pekerja?

by teguh
Mei 23, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Bayangkan kamu duduk di kursi bupati. Di satu sisi, ada aturan daerah yang jelas minimarket modern tak boleh terlalu dekat dengan pasar rakyat. Di sisi lain, ada sekitar 150 pekerja lokal yang terancam kehilangan penghasilan. Kalau kamu yang memutuskan, kamu pilih mana?

Tabooo.id – Pertanyaan itu mendadak jadi debat panas setelah Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menghentikan operasional 25 gerai Alfamart dan Indomaret dimana sekitar 150 pekerja lokal yang terancam PHK, karena dinilai melanggar aturan zonasi pasar rakyat. Kebijakan ini bukan cuma soal toko tutup. Ini soal benturan dua realitas melindungi ekonomi kecil atau menyelamatkan pekerjaan orang kecil.

Publik Terbelah: Pasar Harus Dilindungi atau Pekerja Jangan Jadi Korban?

Media sosial dan ruang obrolan warga langsung terbagi dua kubu.

Kubu pertama percaya pemerintah sudah benar. Mereka menilai ekspansi minimarket terlalu agresif dan selama ini perlahan memukul usaha kecil serta pasar tradisional. Argumennya sederhana: kalau aturan zonasi diabaikan, pasar rakyat bisa mati pelan-pelan.

“Kalau minimarket terus dekat pasar, pedagang kecil mau hidup dari apa?” begitu kira-kira suara publik yang mendukung penertiban.

Namun di kubu lain, muncul pertanyaan yang lebih emosional kenapa aturan baru terasa tegas setelah bisnis berjalan dan orang telanjur bekerja?

Ini Belum Selesai

Purbaya Dicopot Usai Rombak Pajak dan Bea Cukai, Kebetulan atau Konflik?

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Sekitar 150 pekerja, mayoritas warga lokal Lombok Tengah, kini menghadapi ketidakpastian. Mereka bahkan mendatangi Kantor Bupati pada Rabu, 20/05/2026, menyampaikan keresahan secara langsung.

“Total kurang lebih 150 karyawan yang sekarang tidak memiliki pekerjaan jika ditutup seperti ini, Pak. Teman-teman semua mengeluh. Kalau tidak ada pekerjaan, tanggungan kami masih banyak,” ujar Supriadi, perwakilan pekerja Alfamart Jelojok.

Pernyataan itu bikin debat makin rumit. Sebab faktanya, banyak pekerja minimarket adalah lulusan SMA yang sulit mendapat pekerjaan formal dengan upah setara UMR.

Pemerintah Terlalu Kaku atau Justru Terlambat Tegas?

Pemkab Lombok Tengah berdalih mereka hanya menjalankan aturan. Kepala DPMPTSP Lombok Tengah, Dalilah, menyebut keputusan ini merujuk pada Perda Nomor 7 Tahun 2021 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Swalayan.

Aturannya jelas: minimarket waralaba harus berjarak minimal 1 kilometer dari pasar rakyat.

“Katakanlah minimarket kurang dari satu kilometer dari pasar, akan ada sanksi administratif, penghentian sementara kegiatan usaha, sampai pencabutan izin,” ujar Dalilah pada Kamis, 21 Mei 2026.

Masalahnya, publik mulai bertanya kalau aturan ini sudah ada sejak 2021, kenapa penertiban baru terasa keras sekarang?

Pertanyaan lain ikut muncul haruskah kebijakan seperti ini punya masa transisi?

Sosiolog perkotaan kerap mengingatkan, penegakan aturan memang penting. Tapi kebijakan publik yang baik biasanya juga mempertimbangkan efek sosial, terutama soal pekerjaan dan ekonomi keluarga.

Di sisi lain, pengamat ekonomi kerakyatan sering melihat pasar tradisional memang membutuhkan perlindungan nyata agar tidak kalah oleh kekuatan modal besar. Artinya, ini bukan konflik hitam-putih.

Solusi Ada, Tapi Cukup Realistis?

Pemkab mengklaim tidak ingin ada PHK massal. Opsi yang ditawarkan adalah relokasi gerai atau mengubah model bisnis, sementara pekerja diupayakan mendapat mutasi internal.

“Sebisa mungkin melakukan mutasi internal ditempatkan di gerai Alfamart dan Indomaret yang masih ada,” kata Dalilah.

Tapi publik masih bertanya apakah solusi itu realistis untuk semua pekerja?

Karena di atas kertas, mutasi terdengar baik. Di dunia nyata, tidak semua orang punya biaya, akses, atau fleksibilitas pindah lokasi kerja.

Polling Tabooo

🔥 Kalau kamu jadi Bupati Lombok Tengah, kamu pilih apa?

A. Lindungi pasar tradisional, aturan tetap jalan
B. Selamatkan pekerjaan 150 warga, beri masa transisi
C. Cari jalan tengah pasar terlindungi, pekerja tetap aman

Karena kadang masalah terbesar bukan memilih siapa yang benar.

Tapi menentukan siapa yang harus menanggung harga dari keputusan itu.

Kalau Dua-duanya Rakyat, Siapa yang Dipilih?

Aturan memang harus ditegakkan. Tapi kalau yang jatuh duluan justru orang kecil, siapa sebenarnya yang sedang dilindungi?. @teguh

Tags: AlfamartBupati Lombok TengahEkonomi DaerahEkonomi KerakyatanIndomaretKebijakan PublikLombok TengahNTBPasar TradisionalPemkab Lombok TengahPengangguranRitel ModernUMKM

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Lima Tahun Menjaga Rasa, Lontong Kikil Bang J Melawan Ketidakpastian

Lima Tahun Menjaga Rasa, Lontong Kikil Bang J Melawan Ketidakpastian

by teguh
September 7, 2026

Semangkuk lontong kikil bang J seharga Rp18 ribu tampak sederhana. Lontong, kikil, tahu, dan kuah kaldu tersaji dalam satu mangkuk...

Lontong Kikil Bang J: Dari Pinggir Jalan, Sampai Pelanggan Luar Kota

Lontong Kikil Bang J: Dari Pinggir Jalan, Sampai Pelanggan Luar Kota

by teguh
September 3, 2026

Di pinggir jalan Dusun Gedang Klutuk, Mojokerto, semangkuk lontong kikil bang J punya cara sendiri untuk memanggil orang datang. Bukan...

Next Post
Kapolda Perintahkan Begal Ditembak: Tegas atau Langgar HAM?

Kapolda Perintahkan Begal Ditembak: Tegas atau Langgar HAM?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id