Senin, Mei 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Pattern
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kenapa Guru Harus Demonstrasi untuk Didengar?

by dimas
Mei 17, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Guru terus mengajar di tengah tekanan hidup dan ketidakpastian. Lalu kenapa mereka harus turun ke jalan hanya untuk didengar negara?

Tabooo.id – Di depan Istana, ribuan guru berdiri berjam-jam di bawah panas matahari. Sebagian membawa poster lusuh. Sebagian lain membawa rasa lelah yang mereka simpan bertahun-tahun. Mereka bukan elite politik yang biasa tampil di televisi, mereka juga bukan tokoh besar yang punya akses mudah ke kekuasaan dan mereka hanya guru orang-orang yang setiap hari mengajar anak-anak tentang masa depan, tetapi terus hidup dalam ketidakpastian.

Pertanyaannya sederhana kenapa profesi yang selalu disebut “pahlawan tanpa tanda jasa” justru terus berjuang demi hidup yang layak?

Sepanjang 2025 hingga 2026, aksi guru muncul di berbagai daerah. Guru di Jayapura menuntut tunjangan yang tak kunjung cair. Guru honorer di Cilegon memprotes status kerja mereka. Ribuan tenaga pendidik di Jawa Barat melakukan long march ke DPRD. Guru madrasah memenuhi kawasan Istana untuk meminta pengangkatan ASN.

Deretan aksi itu menunjukkan satu hal keresahan guru tidak lagi bisa disembunyikan.

Pendidikan Dipuji, Gurunya Dibiarkan Bertahan

Negara terus berbicara tentang pentingnya pendidikan. Pejabat ramai mengulang istilah “SDM unggul” dan “masa depan generasi bangsa”. Namun di balik slogan besar itu, banyak guru masih sibuk memikirkan biaya hidup mereka sendiri.

Ini Belum Selesai

Fransisca: Anak 11 Tahun yang Tubuhnya Dihancurkan Kerusuhan

Nyaris Kehilangan Arah, Kini Peluang Revanno Magang ke Jepang

Sebagian guru honorer bekerja dengan gaji minim. Sebagian lain menghadapi status kerja yang tidak jelas. Banyak guru juga harus mengurus administrasi digital yang terus bertambah. Mereka mengisi laporan, mengunggah data, dan mengejar target sistem, tetapi tetap kesulitan mendapat kepastian kesejahteraan.

Ironisnya, publik sering meminta guru tetap sabar dan tulus. Masyarakat memuji pengabdian mereka, tetapi jarang benar-benar melihat tekanan hidup yang mereka tanggung setiap hari.

Masalah terbesar bukan cuma soal gaji.

Masalah terbesar muncul ketika semua orang mulai menganggap penderitaan guru sebagai sesuatu yang normal.

Ketika Keluhan Jadi Rutinitas

Banyak pejabat terlihat terbiasa mendengar keluhan guru. Mereka menggelar rapat, membuat janji, lalu mengulang pola yang sama setiap tahun. Akibatnya, demonstrasi guru berubah seperti agenda rutin, bukan tanda darurat bahwa sistem pendidikan sedang bermasalah.

Situasi itu membuat guru kehilangan ruang untuk bicara secara sehat. Sebagian kepala sekolah bahkan mencoba meredam aksi guru. Beberapa dinas pendidikan mengeluarkan tekanan agar demonstrasi tidak terjadi. Guru akhirnya memilih turun ke jalan karena jalur biasa sering menemui kebuntuan.

Demonstrasi menjadi pilihan terakhir, bukan pilihan pertama.

Dan ketika ribuan guru memilih jalan itu secara bersamaan, negara seharusnya sadar bahwa masalahnya jauh lebih besar daripada sekadar administrasi.

Guru Influencer dan Perlawanan Digital

Media sosial melahirkan fenomena baru: guru influencer. Mereka mulai menyuarakan keresahan guru lewat TikTok, Instagram, YouTube, dan X. Mereka membahas pungli, tekanan birokrasi, sampai kebijakan pendidikan yang terasa jauh dari realitas lapangan.

Fenomena ini menarik.

Negara mendorong guru masuk ke dunia digital. Guru diminta aktif, kreatif, dan adaptif terhadap teknologi. Namun di saat yang sama, banyak dari mereka masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dasar.

Guru akhirnya tidak hanya mengajar di kelas. Mereka juga harus menjadi operator data, pembuat konten, dan wajah promosi kebijakan pendidikan.

Masalahnya, negara terlihat lebih cepat mendigitalisasi guru daripada memperbaiki nasib mereka.

Guru Sering Dibahas, Tapi Jarang Didengar

Banyak tokoh publik berbicara tentang pendidikan. Podcast, seminar, dan diskusi terus membahas sosok “guru ideal”. Namun anehnya, guru sendiri sering tidak hadir sebagai suara utama.

Orang-orang sibuk mendefinisikan guru hebat, guru inspiratif, dan guru masa depan. Tapi sedikit yang benar-benar bertanya bagaimana kehidupan guru hari ini?

Di titik itu, guru berubah menjadi simbol. Semua orang memuji mereka. Semua orang memakai nama mereka. Namun tidak semua orang benar-benar mendengarkan mereka.

Ini bukan sekadar masalah profesi.

Ini soal bagaimana negara memperlakukan orang-orang yang menjaga masa depan generasi berikutnya.

Ketika Guru Kehilangan Harapan

Pendidikan tidak runtuh dalam sehari. Pendidikan runtuh perlahan ketika guru mulai kehilangan harapan.

Kalau kondisi ini terus dianggap biasa, negeri ini tidak hanya kehilangan kualitas pendidikan. Negeri ini juga kehilangan generasi yang percaya bahwa profesi guru masih layak diperjuangkan.

Karena ketika guru mulai merasa sendirian, sebenarnya yang kehilangan arah bukan mereka.

Negara lah yang sedang berjalan tanpa benar-benar mendengar suara orang-orang yang menjaga masa depannya sendiri. @dimas

Tags: Aksi GuruGuru BergerakGuru HonorerKesejahteraan GuruKrisis PendidikanPendidikan Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Revanno dan Ruang Toleransi: Saat Sekolah Agama Tak Lagi Eksklusif

Revanno dan Ruang Toleransi: Saat Sekolah Agama Tak Lagi Eksklusif

by teguh
Mei 18, 2026

Di sebuah sekolah berbasis Islam di Kota Pekalongan, seorang remaja keturunan Tionghoa beragama Katolik justru menemukan ruang yang membuatnya bertumbuh....

Guru Honorer Menunggu Negara: Reformasi Birokrasi atau Krisis Pendidikan Baru?

Guru Honorer Menunggu Negara: Reformasi Birokrasi atau Krisis Pendidikan Baru?

by dimas
Mei 16, 2026

Guru honorer masih menunggu kepastian ASN di tengah reformasi birokrasi. DPR mengingatkan ancaman krisis pendidikan nasional. Tabooo.id: Reality - Bel...

Nyaris Kehilangan Arah, Kini Peluang Revanno Magang ke Jepang

Nyaris Kehilangan Arah, Kini Peluang Revanno Magang ke Jepang

by teguh
Mei 16, 2026

Revanno Adrian Prasetyo pernah kehilangan arah. Saat SMP, semangat belajarnya meredup. Ia lebih sering diam, sulit percaya diri, dan memilih...

Next Post
Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia - Marx Series #1.1

Pilihan Tabooo

Film Pesta Babi: Kita Sedang Diedukasi, atau Sedang Digiring?

Film Pesta Babi: Kita Sedang Diedukasi, atau Sedang Digiring?

Mei 15, 2026

Realita Hari Ini

Heri Black Diperiksa KPK, Kasus Bea Cukai Masuk Babak Baru

Heri Black Diperiksa KPK, Kasus Bea Cukai Masuk Babak Baru

Mei 18, 2026

Kabupaten Sukabumi Gempa 4,6 M: Kecil di Angka, Besar di Kewaspadaan

Mei 18, 2026

Bukan Sekadar Jembatan Putus: Tragedi Wamena Berujung Perang Suku?

Mei 17, 2026

Bank Sampah Winongo Tembus Top 99 SINOVIK 2025, Ubah Sampah Jadi Tabungan Emas

Februari 7, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id