Guru terus mengajar di tengah tekanan hidup dan ketidakpastian. Lalu kenapa mereka harus turun ke jalan hanya untuk didengar negara?
Tabooo.id – Di depan Istana, ribuan guru berdiri berjam-jam di bawah panas matahari. Sebagian membawa poster lusuh. Sebagian lain membawa rasa lelah yang mereka simpan bertahun-tahun. Mereka bukan elite politik yang biasa tampil di televisi, mereka juga bukan tokoh besar yang punya akses mudah ke kekuasaan dan mereka hanya guru orang-orang yang setiap hari mengajar anak-anak tentang masa depan, tetapi terus hidup dalam ketidakpastian.
Pertanyaannya sederhana kenapa profesi yang selalu disebut “pahlawan tanpa tanda jasa” justru terus berjuang demi hidup yang layak?
Sepanjang 2025 hingga 2026, aksi guru muncul di berbagai daerah. Guru di Jayapura menuntut tunjangan yang tak kunjung cair. Guru honorer di Cilegon memprotes status kerja mereka. Ribuan tenaga pendidik di Jawa Barat melakukan long march ke DPRD. Guru madrasah memenuhi kawasan Istana untuk meminta pengangkatan ASN.
Deretan aksi itu menunjukkan satu hal keresahan guru tidak lagi bisa disembunyikan.
Pendidikan Dipuji, Gurunya Dibiarkan Bertahan
Negara terus berbicara tentang pentingnya pendidikan. Pejabat ramai mengulang istilah “SDM unggul” dan “masa depan generasi bangsa”. Namun di balik slogan besar itu, banyak guru masih sibuk memikirkan biaya hidup mereka sendiri.
Sebagian guru honorer bekerja dengan gaji minim. Sebagian lain menghadapi status kerja yang tidak jelas. Banyak guru juga harus mengurus administrasi digital yang terus bertambah. Mereka mengisi laporan, mengunggah data, dan mengejar target sistem, tetapi tetap kesulitan mendapat kepastian kesejahteraan.
Ironisnya, publik sering meminta guru tetap sabar dan tulus. Masyarakat memuji pengabdian mereka, tetapi jarang benar-benar melihat tekanan hidup yang mereka tanggung setiap hari.
Masalah terbesar bukan cuma soal gaji.
Masalah terbesar muncul ketika semua orang mulai menganggap penderitaan guru sebagai sesuatu yang normal.
Ketika Keluhan Jadi Rutinitas
Banyak pejabat terlihat terbiasa mendengar keluhan guru. Mereka menggelar rapat, membuat janji, lalu mengulang pola yang sama setiap tahun. Akibatnya, demonstrasi guru berubah seperti agenda rutin, bukan tanda darurat bahwa sistem pendidikan sedang bermasalah.
Situasi itu membuat guru kehilangan ruang untuk bicara secara sehat. Sebagian kepala sekolah bahkan mencoba meredam aksi guru. Beberapa dinas pendidikan mengeluarkan tekanan agar demonstrasi tidak terjadi. Guru akhirnya memilih turun ke jalan karena jalur biasa sering menemui kebuntuan.
Demonstrasi menjadi pilihan terakhir, bukan pilihan pertama.
Dan ketika ribuan guru memilih jalan itu secara bersamaan, negara seharusnya sadar bahwa masalahnya jauh lebih besar daripada sekadar administrasi.
Guru Influencer dan Perlawanan Digital
Media sosial melahirkan fenomena baru: guru influencer. Mereka mulai menyuarakan keresahan guru lewat TikTok, Instagram, YouTube, dan X. Mereka membahas pungli, tekanan birokrasi, sampai kebijakan pendidikan yang terasa jauh dari realitas lapangan.
Fenomena ini menarik.
Negara mendorong guru masuk ke dunia digital. Guru diminta aktif, kreatif, dan adaptif terhadap teknologi. Namun di saat yang sama, banyak dari mereka masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Guru akhirnya tidak hanya mengajar di kelas. Mereka juga harus menjadi operator data, pembuat konten, dan wajah promosi kebijakan pendidikan.
Masalahnya, negara terlihat lebih cepat mendigitalisasi guru daripada memperbaiki nasib mereka.
Guru Sering Dibahas, Tapi Jarang Didengar
Banyak tokoh publik berbicara tentang pendidikan. Podcast, seminar, dan diskusi terus membahas sosok “guru ideal”. Namun anehnya, guru sendiri sering tidak hadir sebagai suara utama.
Orang-orang sibuk mendefinisikan guru hebat, guru inspiratif, dan guru masa depan. Tapi sedikit yang benar-benar bertanya bagaimana kehidupan guru hari ini?
Di titik itu, guru berubah menjadi simbol. Semua orang memuji mereka. Semua orang memakai nama mereka. Namun tidak semua orang benar-benar mendengarkan mereka.
Ini bukan sekadar masalah profesi.
Ini soal bagaimana negara memperlakukan orang-orang yang menjaga masa depan generasi berikutnya.
Ketika Guru Kehilangan Harapan
Pendidikan tidak runtuh dalam sehari. Pendidikan runtuh perlahan ketika guru mulai kehilangan harapan.
Kalau kondisi ini terus dianggap biasa, negeri ini tidak hanya kehilangan kualitas pendidikan. Negeri ini juga kehilangan generasi yang percaya bahwa profesi guru masih layak diperjuangkan.
Karena ketika guru mulai merasa sendirian, sebenarnya yang kehilangan arah bukan mereka.
Negara lah yang sedang berjalan tanpa benar-benar mendengar suara orang-orang yang menjaga masa depannya sendiri. @dimas





