Fransisca seorang anak 11 tahun yang tubuhnya dihancurkan kerusuhan Mei 1998 menjadi simbol luka kemanusiaan, kekerasan seksual massal, dan trauma reformasi yang hingga hari ini belum benar-benar diselesaikan negara.
Tabooo.id – Malam itu Jakarta seperti kota yang kehilangan nurani. Api menyala di sudut-sudut pertokoan. Asap hitam menggantung rendah di langit ibu kota. Orang-orang berlari sambil menjerit. Massa menjarah toko dan membakar gedung tanpa ampun. Sementara itu, di tengah kekacauan Mei 1998, telepon rumah dan pager milik Ita Fatia Nadia terus berbunyi tanpa henti.
Satu laporan datang dari Pluit. Seorang perempuan mengalami pemerkosaan di sebuah apartemen.
Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk dari Glodok. Kali ini, tiga perempuan Tionghoa mengalami kekerasan seksual.
Malam pun terasa semakin gelap.
Bukan karena listrik padam. Melainkan karena manusia mulai kehilangan hati nuraninya sendiri.
Ita, yang saat itu aktif di lembaga pemerhati perempuan Kalyanamitra, langsung menyusuri laporan demi laporan bersama relawan lain. Di dekat pertokoan Glodok, ia melihat tiga perempuan berpakaian compang-camping berdiri gemetar di tengah kerumunan pria. Tatapan mereka kosong. Rasa takut bercampur malu memenuhi wajah mereka. Seolah seseorang baru saja merenggut hidup mereka secara paksa.
Kerusuhan Mei 1998 tak hanya melalap bangunan dan pusat perdagangan. Kerusuhan itu juga menghancurkan rasa aman perempuan-perempuan Tionghoa.
Namun perlahan, sejarah justru memilih diam.
Anak Kecil Bernama Fransisca
Di antara puluhan laporan pemerkosaan massal yang diterima Ita, ada satu nama yang terus tinggal di kepalanya Fransisca.
Usianya baru 11 tahun.
Pada malam 14 Mei 1998, Ita menerima telepon yang meminta dirinya segera datang ke sebuah klinik di kawasan Kota Lama, Tangerang. Seorang anak perempuan menjadi korban kekerasan seksual brutal.
Ketika tiba di klinik itu, Ita melihat tubuh kecil yang nyaris tak lagi sanggup melawan rasa sakit.
Ibunya sudah meninggal. Kakaknya pun meninggal setelah mengalami kekerasan seksual serupa. Kini, hanya Fransisca yang masih bertahan hidup, meski tubuhnya hancur.
“Dia diperkosa memakai botol, lalu botol itu dipecahkan di dalam tubuhnya,” kenang Ita bertahun-tahun kemudian.
Pendarahan terus mengalir tanpa henti.
Sementara itu, dokter mengatakan kondisi Fransisca sangat kritis.
Di ruangan kecil yang sunyi itu, Ita memangku kepala Fransisca seorang diri. Tak ada keluarga yang tersisa. Tak ada pelukan yang mampu menenangkan anak kecil itu. Hanya ada seorang aktivis perempuan yang mencoba menjadi manusia terakhir di sisi Fransisca saat hidupnya perlahan menjauh.
Dengan suara lirih, Ita membisikkan kalimat yang hingga hari ini terasa seperti luka kolektif bangsa ini.
“Tidak apa kalau pergi. Di sana sudah ada ibu dan kakak yang menunggu.”
Tak lama kemudian, remasan kecil di jari Ita mulai melemah.
Fransisca mengembuskan napas terakhir di pangkuannya.
Dan mungkin, sebagian nurani Indonesia ikut mati malam itu.
Setelah Api Padam, Trauma Tetap Hidup
Cerita Fransisca bukan satu-satunya luka dalam tragedi Mei 1998.
Banyak perempuan korban pemerkosaan hidup dengan trauma berkepanjangan. Sebagian memilih diam karena takut. Sebagian lain pindah ke luar negeri demi melupakan mimpi buruk itu. Bahkan, beberapa korban memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tak kuat menanggung luka yang terus menghantui.
Selain itu, ada keluarga di Jawa Timur yang disebut meracuni anaknya sendiri karena tak tega melihat trauma sang anak setelah mengalami pemerkosaan massal.
Ironisnya, setelah reformasi datang, negara justru perlahan melupakan mereka.
Nama-nama korban menghilang dari percakapan publik. Kisah mereka tenggelam di balik pidato demokrasi, perayaan reformasi, dan nostalgia politik.
Padahal, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mencatat sedikitnya 66 korban pemerkosaan dalam kerusuhan Mei 1998. Sementara itu, Tim Relawan untuk Kemanusiaan menemukan angka yang lebih besar, yakni 165 korban.
Namun hingga hari ini, publik belum melihat pengadilan yang benar-benar mengungkap pelaku dan dalang kekerasan seksual massal tersebut.
Negara belum menghadirkan penuntasan yang utuh. Negara juga belum memberi pengakuan yang mampu menyembuhkan para penyintas.
Kini, yang tersisa hanya ingatan para korban.
Selain itu, dering telepon yang dahulu terus berbunyi masih hidup di kepala orang-orang seperti Ita.
Reformasi yang Dibayar Tubuh Perempuan
Selama ini, banyak orang mengenang Mei 1998 sebagai momen runtuhnya Orde Baru.
Namun bagi perempuan-perempuan Tionghoa, Mei bukan sekadar catatan politik. Mei adalah tubuh yang dihancurkan. Masa kecil yang direnggut. Trauma yang diwariskan diam-diam kepada generasi berikutnya.
Ini bukan sekadar kerusuhan.
Ini pola tentang bagaimana tubuh perempuan sering menjadi medan perang paling sunyi ketika negara runtuh dan massa kehilangan arah.
Karena itu, pertanyaan paling menyakitkan hari ini bukan lagi tentang apa yang terjadi saat itu.
Melainkan, kenapa setelah 28 tahun, bangsa ini masih takut membicarakannya dengan jujur? @dimas




