Soeharto mundur setelah Jakarta dilanda kerusuhan besar Mei 1998. Reformasi lahir dari amarah, ketakutan, dan luka sosial yang belum benar-benar hilang.
Tabooo.id – Jakarta pernah berubah jadi kota yang takut pada dirinya sendiri. Asap hitam membumbung dari pertokoan. Kaca-kaca pecah seperti suara kemarahan yang terlalu lama dipendam. Orang-orang berlari sambil membawa televisi, beras, kursi, bahkan pintu toko. Sementara itu, di sudut lain, ibu-ibu menangis sambil memeluk anaknya karena api melalap rumah mereka.
Mei 1998 bukan sekadar kerusuhan. Peristiwa itu menjadi ledakan panjang dari rasa marah yang akhirnya kehilangan tempat pulang.
Seminggu sebelum Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998, Jakarta lebih dulu runtuh secara psikologis.
Jalanan yang Berubah Jadi Arena Ketakutan
Tanggal 14 Mei 1998 kemudian tercatat sebagai salah satu hari paling kelam dalam sejarah Indonesia modern.
Jalanan Jakarta dipenuhi api, penjarahan, dan kepanikan. Massa membakar kendaraan di Cawang. Mereka merusak pertokoan di Pasar Baru sampai habis. Selain itu, kelompok massa juga melempari gedung-gedung di kawasan Diponegoro dan Proklamasi dengan batu. Api melahap pos polisi. Bahkan, sebagian orang bertepuk tangan ketika seseorang berhasil membawa televisi atau kulkas hasil jarahan.
Perlahan, kota kehilangan batas antara putus asa dan kegilaan.
Di depan Kampus UI Salemba, massa terus bergerak liar. Batu beterbangan ke arah aparat antihuru-hara. Aparat lalu mundur perlahan. Setelah itu, Marinir datang untuk menenangkan situasi. Namun, bentrokan tetap pecah di kawasan Matraman.
Peluru menewaskan dua orang. Salah satunya masih siswa SMA berusia 18 tahun.
Bandara yang Berubah Jadi Tempat Berlindung
Ironisnya, di tengah kekacauan itu, sebagian warga justru mencari perlindungan di Bandara Soekarno-Hatta.
Hotel penuh oleh pengungsi. Petugas bahkan mengubah ruang kesehatan menjadi tempat tidur darurat. Orang-orang itu tidak sedang liburan. Mereka hanya ingin merasa aman selama beberapa malam.
Di titik itulah Reformasi sebenarnya mulai menemukan wajahnya.
Reformasi tidak lahir di ruang sidang. Reformasi juga tidak tumbuh dari pidato elite politik. Sebaliknya, Reformasi muncul dari jalanan yang terbakar, dari wajah rakyat yang lelah, dan dari tubuh kota yang babak belur karena krisis ekonomi serta ketimpangan sosial.
Reformasi dan Ingatan yang Mulai Pudar
Masalahnya, sejarah sering hanya mengingat tanggal jatuhnya kekuasaan. Namun, banyak orang mulai melupakan rasa takut yang datang sebelumnya.
Generasi sekarang mengenal Mei 1998 lewat foto hitam-putih dan potongan dokumenter. Padahal, saat itu Jakarta benar-benar terasa seperti kota tanpa masa depan. Orang takut keluar rumah. Telepon rumah terus berdering untuk mencari kabar keluarga. Selain itu, suara sirene menjadi musik latar hampir sepanjang malam.
Karena itu, kisah Mei 1998 bukan sekadar cerita tentang lengsernya seorang presiden. Peristiwa itu menunjukkan pola ketika negara terlalu lama menutup telinga terhadap rakyatnya sendiri.
Ketika harga melambung, pemerintah menganggap suara rakyat sebagai gangguan. Selain itu, banyak pihak memperlakukan kritik seperti ancaman. Akibatnya, kemarahan sosial perlahan mencari jalannya sendiri. Kadang kemarahan itu tidak datang lewat diskusi. Kadang ia datang lewat api.
Luka yang Belum Benar-Benar Pergi
Dan mungkin, bagian paling mengerikan dari sejarah bukan hanya kerusuhannya.
Bagian paling mengerikan justru muncul ketika bangsa ini perlahan melupakan bagaimana semuanya bermula.
Sebab, negeri yang lupa rasa sakitnya sendiri sering berjalan pelan menuju luka yang sama. @dimas







