Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Soeharto Mundur dan Jakarta yang Pernah Menjadi Neraka Terbuka

by dimas
Mei 15, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Soeharto mundur setelah Jakarta dilanda kerusuhan besar Mei 1998. Reformasi lahir dari amarah, ketakutan, dan luka sosial yang belum benar-benar hilang.

Tabooo.id – Jakarta pernah berubah jadi kota yang takut pada dirinya sendiri. Asap hitam membumbung dari pertokoan. Kaca-kaca pecah seperti suara kemarahan yang terlalu lama dipendam. Orang-orang berlari sambil membawa televisi, beras, kursi, bahkan pintu toko. Sementara itu, di sudut lain, ibu-ibu menangis sambil memeluk anaknya karena api melalap rumah mereka.

Mei 1998 bukan sekadar kerusuhan. Peristiwa itu menjadi ledakan panjang dari rasa marah yang akhirnya kehilangan tempat pulang.

Seminggu sebelum Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998, Jakarta lebih dulu runtuh secara psikologis.

Jalanan yang Berubah Jadi Arena Ketakutan

Tanggal 14 Mei 1998 kemudian tercatat sebagai salah satu hari paling kelam dalam sejarah Indonesia modern.

Jalanan Jakarta dipenuhi api, penjarahan, dan kepanikan. Massa membakar kendaraan di Cawang. Mereka merusak pertokoan di Pasar Baru sampai habis. Selain itu, kelompok massa juga melempari gedung-gedung di kawasan Diponegoro dan Proklamasi dengan batu. Api melahap pos polisi. Bahkan, sebagian orang bertepuk tangan ketika seseorang berhasil membawa televisi atau kulkas hasil jarahan.

Ini Belum Selesai

Asal Usul Kebo Bule Kyai Slamet, Penolak Bala Karaton Surakarta

Politik di Balik Sinkretisme Jawa

Perlahan, kota kehilangan batas antara putus asa dan kegilaan.

Di depan Kampus UI Salemba, massa terus bergerak liar. Batu beterbangan ke arah aparat antihuru-hara. Aparat lalu mundur perlahan. Setelah itu, Marinir datang untuk menenangkan situasi. Namun, bentrokan tetap pecah di kawasan Matraman.

Peluru menewaskan dua orang. Salah satunya masih siswa SMA berusia 18 tahun.

Bandara yang Berubah Jadi Tempat Berlindung

Ironisnya, di tengah kekacauan itu, sebagian warga justru mencari perlindungan di Bandara Soekarno-Hatta.

Hotel penuh oleh pengungsi. Petugas bahkan mengubah ruang kesehatan menjadi tempat tidur darurat. Orang-orang itu tidak sedang liburan. Mereka hanya ingin merasa aman selama beberapa malam.

Di titik itulah Reformasi sebenarnya mulai menemukan wajahnya.

Reformasi tidak lahir di ruang sidang. Reformasi juga tidak tumbuh dari pidato elite politik. Sebaliknya, Reformasi muncul dari jalanan yang terbakar, dari wajah rakyat yang lelah, dan dari tubuh kota yang babak belur karena krisis ekonomi serta ketimpangan sosial.

Reformasi dan Ingatan yang Mulai Pudar

Masalahnya, sejarah sering hanya mengingat tanggal jatuhnya kekuasaan. Namun, banyak orang mulai melupakan rasa takut yang datang sebelumnya.

Generasi sekarang mengenal Mei 1998 lewat foto hitam-putih dan potongan dokumenter. Padahal, saat itu Jakarta benar-benar terasa seperti kota tanpa masa depan. Orang takut keluar rumah. Telepon rumah terus berdering untuk mencari kabar keluarga. Selain itu, suara sirene menjadi musik latar hampir sepanjang malam.

Karena itu, kisah Mei 1998 bukan sekadar cerita tentang lengsernya seorang presiden. Peristiwa itu menunjukkan pola ketika negara terlalu lama menutup telinga terhadap rakyatnya sendiri.

Ketika harga melambung, pemerintah menganggap suara rakyat sebagai gangguan. Selain itu, banyak pihak memperlakukan kritik seperti ancaman. Akibatnya, kemarahan sosial perlahan mencari jalannya sendiri. Kadang kemarahan itu tidak datang lewat diskusi. Kadang ia datang lewat api.

Luka yang Belum Benar-Benar Pergi

Dan mungkin, bagian paling mengerikan dari sejarah bukan hanya kerusuhannya.

Bagian paling mengerikan justru muncul ketika bangsa ini perlahan melupakan bagaimana semuanya bermula.

Sebab, negeri yang lupa rasa sakitnya sendiri sering berjalan pelan menuju luka yang sama. @dimas

Tags: Kerusuhan Mei 1998reformasi 1998Sejarah IndonesiaSoeharto MundurTragedi Jakarta

Kamu Melewatkan Ini

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

by teguh
Juni 10, 2026

Konflik pusaka Karaton Solo kembali mencuat. Benarkah pusaka milik raja atau dinasti? ini seakan menjadi akar legitimasi yang belum selesai....

Agus Salim: Ketika Kecerdasan Tidak Berujung pada Kekayaan

Agus Salim: Ketika Kecerdasan Tidak Berujung pada Kekayaan

by teguh
Juni 9, 2026

"Agus Salim, Orang tua yang sangat pintar ini seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, paling sedikit...

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

by Tabooo
Juni 8, 2026

Di awal berdirinya republik, Tan Malaka menuntut Merdeka 100%, sementara Soekarno-Hatta memilih jalan negara, pengakuan internasional, dan kalkulasi politik yang...

Next Post
Adrenalin: Mesin Kreativitas di Era Tekanan

Adrenalin: Mesin Kreativitas di Era Tekanan

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id