Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

by dimas
Mei 15, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Jurnalis di Kalimantan Tengah diteror usai ajak nobar film “Pesta Babi”. Ancaman air keras memicu kekhawatiran atas kebebasan pers dan ruang diskusi publik.

Tabooo.id: Kalimantan Tengah – Unggahan TikTok milik seorang jurnalis di Pangkalan Bun mendadak berubah jadi sumber teror. Ajakan menonton film dokumenter justru memicu ancaman serius yang menyeret nama aktivis Kontras, Andrie Yunus.

Budi Baskoro, jurnalis lingkungan di Kalimantan Tengah, menerima pesan intimidatif setelah mengunggah ajakan nobar film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Pengirim anonim itu bahkan menyebut Budi bisa mengalami nasib serupa seperti Andrie Yunus yang beberapa waktu lalu terkena serangan air keras.

Ancaman tersebut masuk lewat WhatsApp pada Selasa (12/5/2026), beberapa hari setelah acara nobar berlangsung di Pangkalan Bun. Pengirim menyertakan tautan video TikTok milik Budi lalu meminta unggahan itu segera dihapus.

“Jika tidak, jangan terkejut kalau kejadian Andrie Yunus akan terjadi kepada anda!” tulis pengirim pesan tersebut.

Nomor itu memakai identitas yang mengatasnamakan Direktorat Tindak Pidana Siber Polri. Namun sampai sekarang, belum ada kepastian mengenai siapa pelaku sebenarnya.

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Bagi Budi, pesan itu bukan sekadar gangguan digital. Ancaman semacam ini membawa tekanan psikologis dan menebar rasa takut terhadap kebebasan berekspresi.

Pertanyaan besarnya sederhana sejak kapan ajakan menonton film dianggap cukup berbahaya hingga memicu intimidasi?

Film yang Memantik Ketegangan

Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kini memang menjadi bahan perdebatan nasional. Film tersebut membahas Papua lewat pendekatan sejarah, antropologi, investigasi jurnalistik, dan analisis kebijakan.

Istilah “kolonialisme” dalam judul menjadi titik paling sensitif. Banyak pihak menilai kata itu memancing kontroversi sekaligus membuka luka lama tentang Papua.

Salah satu sutradara film, Cypri Paju Dale, menjelaskan bahwa tim produksi memilih istilah tersebut untuk menggambarkan situasi Papua secara lebih utuh. Menurutnya, istilah seperti konflik atau ketimpangan pembangunan belum mampu merangkum persoalan yang terjadi.

Film itu membawa satu pertanyaan yang terasa sederhana, tetapi memicu kegelisahan besar: apakah Indonesia sedang melakukan penjajahan di Papua?

Pertanyaan tersebut rupanya cukup kuat untuk memancing tekanan terhadap sejumlah pemutaran film di berbagai daerah. Watchdoc mencatat sedikitnya 21 intimidasi serius selama agenda nobar berlangsung. Aparat memantau kegiatan, beberapa kelompok membubarkan acara, sementara sebagian panitia menerima telepon intimidatif.

Di tengah situasi itu, Yusril Ihza Mahendra justru menegaskan pemerintah tidak melarang pemutaran film tersebut. Ia meminta publik tetap menonton lalu mendiskusikannya secara terbuka.

Namun suasana di lapangan menunjukkan hal berbeda. Rasa takut telanjur menyebar sebelum diskusi benar-benar dimulai.

Ancaman terhadap Ruang Pers

Ketua AJI Persiapan Banjarmasin, Rendy Tisna, mengatakan pelaku juga mengirim pesan bernada serupa kepada kerabat Budi di Yogyakarta. AJI Indonesia bersama AJI Persiapan Banjarmasin kini bersiap melaporkan kasus tersebut ke Mabes Polri.

AJI mengecam keras intimidasi itu dan mendesak aparat segera mengusut pelaku beserta motif ancamannya. Organisasi tersebut menilai teror terhadap jurnalis dapat mempersempit ruang kebebasan berekspresi.

Masalahnya kini tidak lagi berhenti pada satu film dokumenter. Situasi ini mulai memperlihatkan atmosfer ketakutan yang tumbuh perlahan di ruang publik.

Saat jurnalis mendapat ancaman hanya karena membagikan ruang diskusi, publik sebenarnya kehilangan sesuatu yang lebih penting: keberanian untuk bertanya.

Sejarah juga berulang kali menunjukkan pola serupa. Ketika pertanyaan mulai dianggap ancaman, demokrasi biasanya sedang menghadapi masalah serius.

Ketika Diskusi Mulai Menakutkan

Indonesia pernah melewati masa ketika penguasa melarang buku, membubarkan diskusi, dan menempelkan label berbahaya pada kritik publik. Reformasi semestinya membuka ruang lebih bebas. Namun hari ini, tekanan muncul lewat bentuk baru seperti intimidasi digital, doxing, hingga ancaman anonim.

Media sosial yang dulu menjanjikan ruang bebas berekspresi kini sering berubah menjadi alat pengawasan sosial. Satu unggahan dapat memancing tekanan nyata di dunia offline.

Kasus yang menimpa Budi menjadi penting bukan hanya karena menyangkut seorang jurnalis di Kalimantan Tengah. Persoalan ini menyentuh batas paling dasar dalam demokrasi: apakah warga masih bisa menonton, berdiskusi, dan berbeda pendapat tanpa rasa takut?

Kalau jawabannya mulai terasa kabur, mungkin masalahnya memang jauh lebih besar dibanding satu film dokumenter.

Sebab terkadang, yang paling ditakuti bukan layar filmnya. Melainkan percakapan yang lahir setelah lampu ruangan menyala kembali. @dimas

Tags: Intimidasi JurnalisKebebasan PersPapua IndonesiaPesta BabiRuang Sipil

Kamu Melewatkan Ini

Munir, Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Impunitas

Munir, Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Impunitas

by dimas
September 23, 2026

Munir, Andrie Yunus dan bayang-bayang impunitas kembali membuka pertanyaan tentang kekerasan terhadap pembela HAM dan ruang sipil. Tabooo.id - Malam...

September Hitam di Tugu Jogja: Aksi Kamisan Menolak Lupa Tragedi HAM

September Hitam di Tugu Jogja: Aksi Kamisan Menolak Lupa Tragedi HAM

by dimas
September 11, 2026

September Hitam di Tugu Jogja, Aksi Kamisan Yogyakarta menolak lupa tragedi HAM dan menyerukan pentingnya menjaga ingatan serta ruang sipil....

Polisi Aktif Masuk Jabatan Sipil, MK Kembali Diuji

Polisi Aktif Masuk Jabatan Sipil, MK Kembali Diuji

by dimas
September 7, 2026

Gugatan terhadap UU Polri kembali menguji batas penempatan polisi aktif di jabatan sipil serta dampaknya terhadap ruang dan kesempatan warga...

Next Post
Film “Timur” : Iko Uwais Membuka Luka Masa Lalu

Film "Timur" : Iko Uwais Membuka Luka Masa Lalu

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id