Ada anak-anak yang tumbuh sambil memendam cemas. Mereka tidak takut ujian sekolah. Mereka takut satu hal yang lebih sunyi berhenti belajar karena orang tua tak lagi sanggup membayar kebutuhan hidup.
Tabooo.id – Di banyak rumah sederhana, sekolah sering terasa seperti kemewahan. Ketika harga kebutuhan naik dan penghasilan tetap kecil, pendidikan sering kalah oleh urusan makan sehari-hari. Namun di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sebagian anak-anak mulai menemukan ruang baru untuk bertahan.
Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang hadir bukan hanya sebagai tempat belajar. Sekolah ini memberi ruang aman bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tumbuh, belajar, dan menata masa depan.
Selasa, 12 Mei 2026, Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Wamen PANRB) Purwadi Arianto datang langsung meninjau sekolah tersebut. Ia melihat bagaimana program Sekolah Rakyat membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya kesulitan masuk sekolah.
Menurut Purwadi, kolaborasi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan program itu. Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang, tenaga pendidik, hingga pengelola sekolah ikut membangun fondasi yang sama: memberi kesempatan hidup lebih baik lewat pendidikan.
“Kami mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak, mulai dari Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota, tenaga pendidik, hingga pengelola sekolah yang bersama-sama mendukung penyelenggaraan program ini,” ujar Purwadi.
Purwadi juga menegaskan, pendidikan tidak sekadar mengisi kepala dengan pelajaran. Pendidikan membantu anak membangun keberanian hidup.
Karena itu, ia menilai sistem berasrama memberi banyak manfaat. Anak-anak belajar disiplin, membangun kepercayaan diri, dan tumbuh dalam lingkungan yang lebih stabil.
“Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran berasrama seperti ini menjadi bagian dari upaya membangun karakter, kemandirian, kedisiplinan, dan kepercayaan diri sejak dini,” katanya.
Orang Tua Tidak Lagi Menanggung Takut Sendiri
Bagi banyak keluarga miskin, biaya sekolah sering berubah menjadi tekanan harian. Orang tua tidak hanya memikirkan uang seragam atau buku. Mereka juga menanggung rasa takut jika anak harus berhenti belajar di tengah jalan.
Maria Tefa, seorang warga Kupang, mengaku program pendidikan gratis membuat keluarganya sedikit bernapas lega.
“Kalau sekolah harus bayar semua, kami bingung. Kadang uang makan saja susah. Yang penting anak bisa sekolah dan punya masa depan lebih baik,” katanya.
Ucapan sederhana itu menggambarkan satu kenyataan besar: kemiskinan sering memaksa keluarga memilih antara bertahan hidup hari ini atau menjaga mimpi anak untuk esok.
Kepala SRMP 19 Kupang, Felipina Agustina Kale, melihat langsung perubahan itu. Ia menyebut Sekolah Rakyat berhasil menjangkau anak-anak yang sebelumnya sulit mengakses pendidikan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo yang telah memberikan program sekolah rakyat. Merupakan satu program yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Felipina berharap semua pihak terus mengawal program itu agar lebih banyak anak tetap memiliki kesempatan belajar.
Sekolah Bukan Sekadar Gedung
Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Dedi Supriadi, menilai sekolah gratis berbasis asrama bisa membantu memutus rantai kemiskinan. Namun, menurutnya, pemerintah juga harus menjaga kualitas pengajar dan pendampingan siswa.
“Anak dari keluarga rentan tidak hanya membutuhkan ruang belajar. Mereka membutuhkan rasa aman, pola hidup stabil, dan dukungan emosional,” katanya.
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Imam Prasodjo, juga melihat sekolah sebagai ruang untuk memulihkan harapan.
“Ketika seorang anak merasa masa depannya sempit, sekolah bisa mengembalikan rasa percaya dirinya,” ujarnya.
Masalahnya, sekolah gratis tidak cukup jika kebijakan berhenti di tengah jalan.
Karena ini bukan sekadar soal membangun ruang kelas. Ini tentang keberanian negara menjaga mimpi anak-anak yang hampir kehilangan kesempatan.
Di ruang-ruang belajar sederhana itu, anak-anak mungkin sedang menulis sesuatu yang lebih besar dari nilai rapor keyakinan bahwa lahir dari keluarga miskin tidak harus membuat masa depan ikut miskin. @teguh





