Saat sebagian besar warga masih tertidur lelap, air tiba-tiba masuk ke rumah-rumah di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dalam hitungan jam, sekitar 300 rumah terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 80 hingga 150 sentimeter.
Tabooo.id: Banjir mulai menggenangi permukiman warga sekitar pukul 01.30 WIB, Jumat dini hari. Air merendam perabot rumah tangga, kendaraan bermotor, hingga kandang ternak warga. Di beberapa rumah, sofa bahkan terlihat mengapung karena derasnya debit air. kurang lebih 300 rumah terendam dalam banjir ini
Sebagian warga langsung mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun, sebagian lain memilih bertahan demi menyelamatkan sapi mereka. Warga membawa ternak ke pinggir jalan raya yang tidak ikut terendam.
Dana, warga Kutorenon, mengaku heran karena hujan deras tidak terjadi di wilayah mereka saat banjir datang. Ia hanya melihat gerimis singkat, tetapi debit air di Sungai Menjangan terus meningkat sepanjang malam.
“Kalau di sini tidak hujan, tadi cuma gerimis bentar, sepertinya di atas (hulu) hujan deras,” kata Dana di Lumajang, Jumat (15/05/2026).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, mengatakan banjir dipicu oleh meluapnya Sungai Menjangan akibat tingginya intensitas hujan di kawasan hulu, terutama di Kecamatan Senduro dan Gucialit.
Debit air yang meningkat menyebabkan bendungan Sungai Menjangan jebol dan air meluber ke kawasan permukiman.
“Meluapnya air Sungai Menjangan karena intensitas hujan yang tinggi di daerah hulu yang ada di Kecamatan Senduro dan Gucialit,” ujar Isnugroho.
BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, empat warga harus dievakuasi ke Puskesmas Sukodono setelah mengalami kedinginan akibat terlalu lama terjebak di tengah genangan.
“Untuk dampak selain rumah terendam ada empat orang yang dievakuasi ke Puskesmas. Untuk sektor pertanian yang terendam masih dalam asesmen dari dinas pertanian,” kata Isnugroho.
Banjir Datang, Mitigasi Masih Jadi PR
Masalahnya, ini bukan sekadar banjir musiman. Peristiwa di Kutorenon menunjukkan satu pola lama yang terus berulang daerah hilir menanggung dampak, sementara hujan deras justru terjadi di kawasan hulu.
Akademisi kebencanaan dari Universitas Brawijaya, Eko Teguh Paripurno, pernah menegaskan bahwa banjir kiriman sering terjadi ketika sistem peringatan dini dan pengelolaan daerah aliran sungai belum berjalan optimal. Menurutnya, wilayah hilir sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk bersiap ketika debit sungai meningkat drastis.
Sosiolog lingkungan menilai pola seperti ini juga memperlihatkan tantangan ketahanan daerah menghadapi cuaca ekstrem. Ketika curah hujan di hulu meningkat, warga di wilayah bawah sering menjadi pihak pertama yang menerima dampaknya.
Bagi warga Kutorenon, malam itu bukan cuma soal rumah terendam. Mereka kehilangan rasa aman saat tidur. Sebab, ketika air datang tanpa peringatan, waktu untuk menyelamatkan diri terasa sangat singkat.
Lalu pertanyaannya sampai kapan banjir kiriman terus dianggap kejadian tahunan, bukan alarm serius soal mitigasi?. @teguh





