Senin, Juni 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

by teguh
Mei 14, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Pemerintah menyebut tidak ada pelarangan. Namun mahasiswa justru kehilangan ruang menonton. Film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita memicu perdebatan baru tentang kebebasan berekspresi di Indonesia.

Tabooo.id – Di satu sisi, pemerintah menegaskan tidak pernah melarang pemutaran film dokumenter Pesta Babi tersebut. Akan tetapi, sejumlah mahasiswa di kampus mengaku mengalami penghentian acara, penutupan layar, hingga pembatalan diskusi. Karena itu, publik mulai mengajukan satu pertanyaan yang sulit diabaikan jika pemerintah tidak melarang, siapa yang membuat mahasiswa gagal menonton?

Pemerintah Tegas Tidak Ada Larangan

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, membantah tudingan bahwa negara membatasi pemutaran film dokumenter tersebut.

Dalam keterangan tertulis pada Kamis (14/05/2026), Yusril menegaskan pemerintah tidak pernah menginstruksikan pelarangan nonton bareng (nobar) Pesta Babi.

Sebaliknya, ia menyebut persoalan administratif sebagai penyebab utama penghentian acara di beberapa kampus.

“Di Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok, nobar film itu dilarang karena persoalan prosedur administratif saja,” ujar Yusril.

Selain itu, Yusril menunjuk sejumlah kampus di Bandung dan Sukabumi yang tetap menggelar pemutaran tanpa hambatan. Menurutnya, fakta itu menunjukkan tidak adanya instruksi terpusat dari pemerintah maupun aparat penegak hukum.

Ini Belum Selesai

Gus Ipul: Sekolah Rakyat Bukan Ruang Titipan

Suran Agung PSHWTM ke-123, Persaudaraan Jadi Kekuatan

“Pembubaran nobar film Pesta Babi bukanlah arahan dari Pemerintah ataupun aparat penegak hukum yang biasanya terpusat.”

Lebih jauh, Yusril justru mendorong masyarakat untuk menonton lalu mendiskusikan isi film tersebut secara terbuka.

“Biarkan saja masyarakat menonton, lalu setelah itu silakan gelar diskusi dan debat.”

Dengan kata lain, pemerintah ingin menunjukkan bahwa kritik tetap memiliki ruang dalam sistem demokrasi.

Namun, Pengalaman Mahasiswa Menunjukkan Cerita Berbeda

Meski pemerintah menyampaikan penjelasan tersebut, mahasiswa di lapangan mengalami situasi yang tidak sepenuhnya sama.

Pada 07/05/2026 malam, ratusan mahasiswa di Universitas Mataram menggelar nobar film itu. Akan tetapi, pihak kampus menghentikan kegiatan sebelum forum berkembang menjadi diskusi.

Petugas keamanan kampus menutupi layar proyektor. Pihak rektorat mengawasi laptop mahasiswa. Akibatnya, peserta menghentikan kegiatan dan meninggalkan lokasi.

Tak lama kemudian, kejadian serupa muncul di Universitas Islam Negeri Mataram. Rencana pemutaran kembali gagal berjalan.

Bagi publik, pemandangan layar yang tertutup jauh lebih mudah dipahami dibanding penjelasan administratif. Masyarakat tidak melihat proses izin di balik meja birokrasi. Sebaliknya, mereka melihat forum berhenti sebelum diskusi dimulai.

Karena itu, banyak orang mulai mempertanyakan batas antara tata kelola kampus dan pembatasan ruang berekspresi.

Persoalan Administrasi atau Sensor yang Lebih Halus?

Di titik inilah perdebatan berkembang menjadi lebih rumit. Jika pemerintah benar-benar tidak melarang, mengapa sejumlah kampus tetap menghentikan pemutaran?

Dalam praktik demokrasi modern, pembatasan tidak selalu hadir lewat larangan resmi. Sebaliknya, institusi sering memakai jalur administratif, prosedur izin, atau alasan keamanan untuk mengendalikan kegiatan yang dianggap sensitif.

Pandangan Michel Foucault membantu membaca situasi seperti ini. Menurut Foucault, kekuasaan modern jarang bekerja secara frontal. Sebaliknya, kontrol sering bergerak melalui aturan administratif yang terlihat biasa, tetapi tetap membentuk batas perilaku publik.

Oleh sebab itu, pertanyaan publik terasa semakin relevan apakah prosedur kampus menjaga ketertiban, atau justru mengecilkan ruang kritik?

Film Papua yang Menyentuh Saraf Politik

Kontroversi ini tidak bisa dilepaskan dari isi filmnya. Film Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita mengangkat kritik terhadap proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan. Secara khusus, film tersebut menyoroti pembukaan lahan, isu lingkungan, hak ulayat masyarakat adat, dan relasi kuasa negara terhadap Papua.

Yusril menolak anggapan bahwa proyek tersebut mencerminkan kolonialisme modern.

Menurutnya, pemerintah memulai proyek itu sejak era pemerintahan Joko Widodo pada 2022. Setelah itu, pemerintah saat ini melanjutkannya sebagai bagian dari agenda ketahanan pangan dan energi nasional.

“Papua adalah bagian integral dari NKRI. Pemerintah Pusat Republik Indonesia bukanlah Pemerintah Belanda dulu,” kata Yusril.

Meski demikian, Yusril mengaku tetap membuka ruang evaluasi apabila pelaksanaan proyek menghadirkan persoalan di lapangan.

Di sisi lain, sejumlah aktivis lingkungan dan kelompok masyarakat sipil justru mendorong kampus untuk membuka ruang diskusi yang lebih luas terhadap kritik semacam ini.

Kampus dan Kebebasan Akademik

Banyak akademisi memandang universitas sebagai ruang paling sehat untuk mempertemukan gagasan yang saling bertabrakan.

Pemikir publik Noam Chomsky pernah menegaskan bahwa kebebasan berekspresi baru memiliki arti ketika masyarakat tetap memberi ruang pada pendapat yang tidak mereka sukai.

“Jika kita tidak percaya pada kebebasan berekspresi bagi orang yang kita benci, maka kita tidak percaya pada kebebasan berekspresi sama sekali.”

Karena itu, polemik Pesta Babi tidak lagi sekadar berbicara tentang isi film. Sebaliknya, publik mulai membahas pertanyaan yang lebih besar masihkah kampus cukup berani menjaga ruang kritik?

Tanpa ruang debat, universitas berisiko berubah menjadi tempat yang hanya menyampaikan jawaban, bukan tempat menguji pertanyaan.

Negara Punya Narasi, Mahasiswa Punya Pengalaman

Pada akhirnya, kasus ini memperlihatkan benturan yang sering muncul dalam demokrasi Indonesia narasi resmi negara tidak selalu berjalan seiring dengan pengalaman warga.

Yusril menegaskan tidak ada pelarangan. Namun mahasiswa mengalami penghentian acara.

Secara administratif, dua kenyataan itu mungkin dapat berdiri berdampingan. Akan tetapi, secara sosial, publik tetap menyimpan rasa curiga.

Kalau negara benar-benar tidak melarang, mengapa ruang menonton dan berdiskusi terasa semakin mudah berhenti?. Sebab demokrasi tidak hanya hidup dari pernyataan resmi.

Demokrasi tumbuh ketika warga tetap memiliki ruang untuk bertanya, menonton, dan berdebat tanpa rasa takut. @teguh

Tags: AdatFilm Dokumenter Pesta BabiKampusKolonialismeMahasiswaMasyarakat AdatNKRINobar FilmPapua SelatanPemerintah IndonesiaPolitik IndonesiaProsedur Izin FilmProvokatifPSNRuang KritikYusril Ihza Mahendra

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

by teguh
Juni 25, 2026

Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui pihak yang diduga membiayai sejumlah aksi demonstrasi. Ia menyampaikan klaim itu saat menghadiri Puncak Pekan...

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

by teguh
Juni 20, 2026

Ribuan mahasiswa mendatangi Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (19/06/2026). Mereka membawa satu kegelisahan yang kini makin keras terdengar karena...

Next Post
Perempuan-Perempuan di Kiri Indonesia

Perempuan-Perempuan di Kiri Indonesia

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id