Minggu, Juni 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi moralnya.

Tabooo.id – Negara jarang runtuh karena dentuman senjata. Lebih sering, ia retak ketika rakyat berhenti merasa menjadi bagian darinya.

Retakan itu tidak selalu terdengar dari ruang sidang parlemen atau podium pidato. Ia tumbuh diam-diam di warung kopi, di halte bus, di ruang kelas yang bocor, hingga di lini masa yang penuh keluhan. Orang-orang tidak tiba-tiba membenci negaranya. Mereka hanya mulai bertanya, apakah negara masih mengingat alasan mengapa ia berdiri?

Pertanyaan itu membawa kita pada satu gagasan tua yang justru semakin relevan hari ini kontrak sosial.

John Locke pada 1689 dan Jean-Jacques Rousseau pada 1762 menjelaskan bahwa negara lahir dari kesepakatan moral. Rakyat menyerahkan sebagian hak dan kebebasannya agar negara melindungi, menyejahterakan, dan menghadirkan keadilan. Sebagai gantinya, negara memperoleh legitimasi untuk memimpin.

Hubungan itu bukan sekadar hubungan hukum.

Ini Belum Selesai

RUU Pemilu dan Ancaman Penyempitan Ruang Demokrasi

Olimpiade Komentar: Netizen Bertanding, Algoritma Melesat

Hubungan itu adalah hubungan kepercayaan.

Ketika Kepercayaan Mulai Retak

Masalah terbesar dalam politik sering kali bukan kemiskinan, bukan inflasi, bahkan bukan pergantian rezim.

Masalah terdalam justru muncul ketika rakyat merasa tidak lagi dianggap penting.

Perasaan terabaikan jauh lebih sulit diobati daripada sekadar kenaikan harga kebutuhan pokok. Ketika masyarakat kehilangan rasa dihargai, mereka mulai mempertanyakan setiap kebijakan. Mereka membaca setiap pidato dengan curiga. Mereka memandang setiap janji sebagai iklan politik yang menunggu masa kedaluwarsa.

Saat itulah kontrak sosial mulai kehilangan ruhnya.

Negara mungkin tetap berdiri kokoh.

Gedung pemerintahan tetap megah.

Upacara kenegaraan tetap berlangsung khidmat.

Namun fondasi kepercayaan perlahan keropos dari dalam.

Demonstrasi Bukan Penyakit

Banyak orang menganggap demonstrasi sebagai sumber kekacauan.

Padahal demonstrasi lebih sering menjadi gejala.

Gejala itu menunjukkan bahwa komunikasi antara negara dan masyarakat mulai tersumbat. Ketika ruang dialog menyempit, jalan raya berubah menjadi ruang berbicara. Ketika telinga kekuasaan menutup diri, pengeras suara aksi massa mengambil alih percakapan.

Namun membaca setiap demonstrasi sebagai suara rakyat juga tidak selalu tepat.

Politik modern menghadirkan kenyataan yang lebih rumit.

Sebagian kelompok turun ke jalan karena keresahan yang nyata. Sebagian lainnya memanfaatkan keresahan itu sebagai kendaraan politik. Kepentingan elite sering menyusup ke dalam kemarahan publik, lalu mengubah aspirasi menjadi komoditas kekuasaan.

Karena itu, kita perlu melihat demonstrasi dengan kepala dingin.

Aksi massa bisa lahir dari luka sosial.

Tetapi aktor politik juga bisa memanen luka itu demi kepentingannya sendiri.

Politik Semakin Pintar Mengelola Persepsi

Hari ini politik bergerak sangat cepat.

Setiap hari muncul narasi baru, setiap jam lahir konten baru dan setiap menit muncul perang opini.

Sayangnya, kecepatan komunikasi tidak selalu melahirkan kedekatan dengan rakyat.

Sebaliknya, politik justru semakin piawai membangun citra daripada membangun rasa percaya.

Kamera menangkap senyum.

Media sosial menampilkan kedekatan.

Pidato memamerkan optimisme.

Namun rakyat tidak hanya menilai apa yang mereka lihat.

Mereka merasakan bagaimana negara memperlakukan mereka.

Dan perasaan tidak pernah bisa dimanipulasi terlalu lama.

Demokrasi Tidak Hanya Butuh Pemilu

Banyak negara berhasil menyelenggarakan pemilu tepat waktu.

Banyak pemerintah mampu mempertahankan stabilitas ekonomi.

Namun demokrasi tidak berhenti pada angka partisipasi atau pertumbuhan.

Demokrasi hidup ketika rakyat merasa memiliki negara.

Sebaliknya, demokrasi kehilangan makna ketika rakyat sekadar menjadi penonton yang datang lima tahun sekali untuk mencoblos, lalu kembali diam sampai pemilu berikutnya.

Politik akhirnya berubah menjadi panggung.

Rakyat berubah menjadi penonton.

Sementara elite bergantian memainkan skenario yang hampir selalu sama.

Ini Bukan Sekadar Soal Kekuasaan

Gejolak politik tidak selalu lahir karena oposisi bekerja lebih keras.

Tidak semua kritik muncul karena kebencian.

Tidak semua protes lahir dari kepentingan partisan.

Sering kali semua itu berakar pada satu hal yang sangat sederhana.

Rakyat ingin didengar.

Mereka ingin negara hadir sebelum kamera datang, mereka ingin kebijakan menjawab kebutuhan, bukan sekadar mempercantik laporan tahunan dan mereka ingin pemerintah memandang mereka sebagai manusia, bukan sekadar angka statistik atau suara elektoral.

Memuliakan Kemanusiaan

Pada akhirnya, negara tidak pernah berdiri hanya karena konstitusi.

Negara bertahan karena kepercayaan.

Undang-undang memang menciptakan aturan.

Tetapi empati melahirkan legitimasi.

Anggaran membangun infrastruktur.

Namun penghormatan kepada manusia membangun bangsa.

Karena itu, tugas terbesar negara bukan sekadar menjaga stabilitas politik.

Negara harus menjaga martabat setiap warganya.

Sebab rakyat tidak selalu meminta pemerintah menjadi sempurna.

Rakyat hanya ingin merasakan bahwa negara masih menganggap mereka penting.

Dan mungkin, ukuran terbesar sebuah pemerintahan bukanlah seberapa lama ia mempertahankan kekuasaan.

Melainkan seberapa banyak manusia yang tetap merasa dimuliakan selama kekuasaan itu dijalankan. @dimas

Tags: DemokrasikekuasaanKemanusiaanKepercayaan PublikKontrak SosialMemuliakan ManusiaPolitik Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

by teguh
Juni 20, 2026

Ribuan mahasiswa mendatangi Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (19/06/2026). Mereka membawa satu kegelisahan yang kini makin keras terdengar karena...

Roy Suryo dan dr Tifa Ditahan, Perang Narasi Berujung Proses Hukum

Roy Suryo dan dr Tifa Ditahan, Perang Narasi Berujung Proses Hukum

by dimas
Juni 19, 2026

Roy Suryo dan dr Tifa ditahan Polda Metro Jaya setelah berkas perkara kasus dugaan pencemaran nama baik terkait isu ijazah...

Negara Hukum atau Negara Elite?

Negara Hukum atau Negara Elite?

by dimas
Juni 18, 2026

Negara hukum seharusnya melindungi rakyat. Namun ketika elite lebih menentukan arah kebijakan, demokrasi menghadapi krisis legitimasi dan kepercayaan publik. Tabooo.id...

Next Post
Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

Bento, Bongkar, dan Generasi yang Masih Marah: Mengapa SWAMI Tak Pernah Usang?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id