Dulu, suara tombol arcade terdengar seperti ritual kecil di pusat permainan. Anak-anak antre, sementara remaja mempertaruhkan gengsi di depan layar. Lalu, di tengah keramaian itu, muncul satu game yang membuat banyak orang berhenti sejenak dan bertanya “Ini game kok brutal banget?” Namanya Mortal Kombat.
Tabooo.id – Saat banyak game fighting mati perlahan karena kalah oleh tren battle royale atau open world, Mortal Kombat justru bertahan. Bahkan, game ini tidak sekadar bertahan setahun atau dua tahun. Ia hidup lebih dari tiga dekade.
Pertanyaannya sederhana kenapa game ini susah mati? Masalahnya, Mortal Kombat tidak cuma menjual pukulan. Sebaliknya, ia menjual identitas.
Rivalitas yang Lahir dari Persaingan Besar
Pada awal 1990-an, industri game sedang panas. Saat itu, Street Fighter II milik Capcom menjadi raja arcade. Hampir semua pemain mengenalnya. Karena itu, Midway, perusahaan game asal Amerika Serikat, melihat peluang sekaligus ancaman.
Kalau ingin bertahan, mereka harus punya lawan. Maka dari itu, Mortal Kombat lahir pada 1992.
Programmer Ed Boon dan seniman John Tobias memang terinspirasi dari Street Fighter. Sistem pertarungannya terasa familiar duel satu lawan satu, kombo, serangan spesial, hingga mekanik blok.
Namun, mereka sadar satu hal: meniru saja tidak cukup. Kalau semua game terlihat sama, pemain tidak punya alasan pindah.
Karena alasan itulah, Mortal Kombat memilih jalur berbeda. Game ini tampil lebih gelap, lebih liar, dan jauh lebih berani.
Alih-alih visual kartun seperti kompetitornya, Mortal Kombat menghadirkan dunia penuh darah, tulang patah, dan jurus pamungkas brutal bernama Fatality.
Ironisnya, justru kontroversi itu yang membuat namanya melejit.
Teknologi yang Mendahului Zaman
Selain gameplay, Mortal Kombat juga unggul dari sisi teknologi.
Di era ketika banyak karakter game masih digambar manual, Midway memakai digital actor scanning. Mereka memotret manusia asli, kemudian mengubah gerak tubuh aktor menjadi animasi digital.
Alhasil, karakter seperti Scorpion, Sub-Zero, dan Sonya Blade terasa lebih realistis dibanding game lain pada zamannya. Bagi gamer awal 1990-an, pendekatan ini terasa revolusioner.
Pengamat budaya digital dari Massachusetts Institute of Technology, Henry Jenkins, pernah menjelaskan bahwa budaya pop yang bertahan lama biasanya memiliki mythology atau dunia yang hidup di kepala penggemarnya. Dan, Mortal Kombat punya itu.
Earthrealm, Netherrealm, hingga Outworld membuat semestanya terasa unik. Selain itu, karakter seperti ninja undead, dewa petir, hingga monster antardimensi menciptakan identitas yang sulit ditiru. Jadi, Mortal Kombat bukan sekadar game pukul-pukulan.
Dari Arcade ke Konsol, Lalu Mobile
Tahun 1990-an menjadi masa transisi besar bagi industri game.
Arcade mulai sepi. Sementara itu, konsol rumah tumbuh cepat. Banyak game gagal beradaptasi dengan perubahan itu. Meski begitu, Mortal Kombat justru membaca arah zaman.
Game ini berpindah ke konsol seperti Sega dan Nintendo. Kemudian, waralaba ini terus berevolusi ke PlayStation, Xbox, PC, bahkan mobile.
Di saat nostalgia berubah menjadi komoditas budaya, Mortal Kombat juga pintar memainkan memori pemain lama. Di sisi lain, mereka tetap merekrut generasi baru.
Karakter klasik tetap dipertahankan. Namun, gameplay terus berubah.
Kini ada mode cerita sinematik, visual realistis, hingga sistem online fighting yang menjaga kompetisi tetap hidup.
Analis industri game dari Newzoo, Tom Wijman, menilai genre fighting tetap bertahan karena komunitasnya sangat loyal.
Artinya sederhana: game fighting mungkin tidak seramai battle royale. Namun demikian, pemainnya jarang benar-benar pergi.
Kenapa Fighting Game Tidak Mati?
Banyak orang mengira game fighting sudah tamat. Toh, tren industri berubah cepat. Orang kini lebih suka dunia terbuka, game survival, atau tembak-tembakan online.
Tetapi, justru di situlah keunikan Mortal Kombat. Game fighting menawarkan sesuatu yang makin langka duel personal.
Tidak ada tim besar. Tidak ada alasan kalah karena koneksi teman buruk. Hanya kamu versus lawan.
Karena itu, kemenangan terasa sangat personal. Sebaliknya, kekalahan juga terasa menyakitkan secara personal.
Psikolog media digital, Sherry Turkle, menjelaskan bahwa manusia tetap menyukai kompetisi langsung karena memberi rasa kontrol dan identitas.
Mungkin itu sebabnya Mortal Kombat tetap hidup. Game ini tidak mencoba menjadi semua hal untuk semua orang.
Ia tetap brutal. Tetap absurd. Tetap penuh darah. Dan anehnya, justru karena keras kepala itu, ia bertahan.
Ini Bukan Sekadar Game, Tapi Pola
Mortal Kombat mengajarkan satu hal sederhana budaya pop yang bertahan bukan selalu yang paling sempurna, melainkan yang punya identitas kuat.
Saat industri game sibuk mengejar tren, Mortal Kombat justru memilih menjadi dirinya sendiri.
Kadang brutal. Kadang kontroversial. Namun, selalu mudah dikenali. Di dunia yang bergerak cepat dan gampang lupa, mungkin bertahan memang bentuk kemenangan paling sulit.
Lalu, kalau Mortal Kombat bisa bertahan 30 tahun, kenapa banyak franchise baru justru cepat hilang?. @teguh





