Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

by teguh
Mei 11, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Kalau sebuah film dapat nilai “lumayan” dari kritikus tapi dipuja fans sampai susah move on, siapa yang sebenarnya benar? Pertanyaan itu sekarang menempel di Mortal Kombat II. Film ini justru membuka debat lama yang selalu muncul di dunia hiburan.

Tabooo.id – Film harus bagus secara artistik, atau cukup bikin penggemarnya bahagia? Mortal Kombat II bukan sekadar film laga brutal. Ia berubah jadi arena pertarungan opini publik.

Kritikus Bilang Dangkal, Fans Bilang “Ini yang Kami Mau”

Skor Mortal Kombat II memang bikin bingung. Di Rotten Tomatoes, film ini mendapat 70 persen Tomatometer dari kritikus, tapi 91 persen Popcornmeter dari penonton.

Selisih itu besar. Terlalu besar untuk diabaikan.

Banyak kritikus menganggap sutradara Simon McQuoid terlalu sibuk memanjakan penggemar sampai lupa membangun cerita yang emosional.

Kritikus Wall Street Journal, Kyle Smith, bahkan menyebut film ini kehilangan “hati”.

Ini Belum Selesai

Apakah Sistem Listrik Indonesia Sedang Menuju Krisis?

Indonesia Kaya Budaya, Tapi Kita Terlalu Haus Validasi Asing?

“Sayangnya, karena tidak ada pertaruhan emosional, adegan aksinya sama membosankannya dengan melihat tomat dimasukkan ke dalam mesin pengolah makanan. Yang kurang adalah hati,” kata Kyle Smith.

Nada serupa datang dari Alison Willmore dari New York Magazine.

“Mortal Kombat II hanya McQuoid yang memutar tombol besar bertuliskan ‘fan service’ sambil melihat kembali reaksi penonton uji coba,” tulisnya.

Jake Wilson dari Sydney Morning Herald juga mengkritik inkonsistensi suasana film.

“Walaupun alurnya terlalu absurd untuk dianggap serius, film ini bukan sepenuhnya parodi, dan tidak ada usaha menjaga konsistensi suasana.”

Tapi masalahnya, fans tampaknya tidak terlalu peduli. Mereka justru menikmati kemunculan karakter ikonik, fatality brutal, nostalgia gim 1990-an, hingga energi chaos khas Mortal Kombat.

Buat sebagian penonton, film ini bukan ruang mencari makna hidup. Mereka datang untuk melihat Johnny Cage bercanda, Raiden marah, dan Shao Kahn menghancurkan arena Dan mereka puas.

Emang Semua Film Harus “Pintar”?

Di sinilah debat mulai menarik. Apakah semua film seperti Mortal Kombat II memang harus dalam, emosional, dan punya lapisan artistik? Atau kadang film cukup menjalankan satu tugas sederhana menghibur?

Pengamat budaya pop dari University of Southern California, Henry Jenkins, pernah menjelaskan bahwa era fandom modern membuat penonton tidak lagi pasif. Fans datang dengan ekspektasi spesifik. Mereka ingin “dilayani”, bukan diajari.

Dalam budaya fandom, kepuasan emosional sering lebih penting daripada kualitas teknis film.

Kalau karakter favorit muncul dan dunia gim terasa hidup, banyak fans menganggap itu sudah cukup.

Di sisi lain, kritikus biasanya menilai dari struktur cerita, kedalaman tema, ritme, hingga kualitas sinema secara keseluruhan.

Artinya, dua kubu ini kadang memang menonton film yang sama, tapi mencari pengalaman berbeda.

Penonton Modern Makin Anti Film “Terlalu Serius”?

Ada fenomena lain yang menarik. Setelah era pandemi, algoritma streaming, dan banjir konten cepat, banyak penonton mulai mencari hiburan yang langsung memberi dopamine. Tidak semua orang ingin berpikir keras saat nonton.

Sosiolog budaya populer Zygmunt Bauman pernah menggambarkan budaya modern sebagai “liquid culture”, ketika orang makin memilih pengalaman cepat, instan, dan memuaskan.

Kalau diterjemahkan ke dunia film kadang orang cuma ingin have fun.

Apalagi Mortal Kombat II sejak awal memang lahir dari DNA arcade brutal, bukan drama psikologis ala festival film.

Pertanyaannya jadi sederhana tapi menusuk, Kenapa film adaptasi game harus dipaksa jadi “cinema tinggi” kalau fans-nya memang datang buat nostalgia dan pertarungan brutal?

Tapi Kritikus Juga Tidak Selalu Salah

Meski begitu, kritik tetap punya fungsi penting.

Kalau industri terlalu sibuk mengejar fan service, studio bisa malas membangun kualitas cerita. Lama-lama film berubah jadi checklist nostalgia tanpa jiwa.

Dan beberapa kritikus menganggap itu mulai terlihat di Mortal Kombat II. Namun, fans juga punya argumen valid.

Kalau sebuah film berhasil membuat penontonnya puas, ramai dibicarakan, dan bikin orang ingin menonton ulang, bukankah itu juga ukuran sukses?

Ini bukan sekadar soal Mortal Kombat Tapi sebuah pola pikir yang lebih besar tentang perubahan cara publik menikmati hiburan. Dunia film sekarang tidak lagi hanya milik kritikus. Fans punya suara yang makin keras. Kadang bahkan lebih menentukan.

Jadi sekarang pertanyaannya tinggal satu Kalau kamu nonton film, kamu lebih peduli cerita bagus atau rasa puas sebagai fans?. @teguh

Tags: Bioskop IndonesiaEntertainmentFilmJoe TaslimMortal Kombat IIPop CultureTalk

Kamu Melewatkan Ini

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

by Tabooo
Juni 25, 2026

Film pendek sering disalahpahami sebagai karya kecil yang cukup hanya menang di visual. Padahal, yang membuat film pendek kuat bukan...

Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

by teguh
Juni 17, 2026

Pujian di dunia film datang setiap hari. Namun ketika Sutradara James Gunn mengangkat satu judul secara terbuka, industri hiburan biasanya...

Game yang Menolak Mati: Mortal Kombat Bertahan 30 Tahun

Game yang Menolak Mati: Mortal Kombat Bertahan 30 Tahun

by teguh
Mei 16, 2026

Dulu, suara tombol arcade terdengar seperti ritual kecil di pusat permainan. Anak-anak antre, sementara remaja mempertaruhkan gengsi di depan layar....

Next Post
Korupsi Madiun Belum Reda: Kini Giliran Plt Wali Kota Diperiksa

Korupsi Madiun Belum Reda: Kini Giliran Plt Wali Kota Diperiksa

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id