Sebanyak 24 orang dilaporkan tewas setelah jembatan gantung Wouma putus dan menyeret warga ke Sungai Uwe di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Namun tragedi jembatan putus ini tidak berhenti di air sungai. Di daratan, emosi keluarga korban membesar, informasi simpang siur menyebar dan Tragedi wamena terjadi menjadi konflik antar suku pecah.
Tabooo.id: Pertanyaannya kini bukan cuma bagaimana jembatan putus, tetapi mengapa sebuah infrastruktur vital bisa berubah menjadi pemantik krisis sosial seperti tragedi wamena yang berujung jadi perang suku.
Pencarian Delapan Hari, Data Korban Masih Simpang Siur
Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara mengatakan tim gabungan dari Kodim 1702/Jayawijaya dan Pos Basarnas Wamena terus melakukan pencarian sejak insiden terjadi pada 7 Mei 2026.
“Hasil pencarian kami bersama tim gabungan sejak putusnya jembatan gantung Wouma hari pertama hingga saat ini kurang lebih telah menemukan 24 korban hingga hari ini,” kata Anak Agung di Wamena, Minggu (17/05/2026).
Namun, aparat mengakui data korban belum sepenuhnya akurat. Jumlah korban yang beredar di masyarakat berbeda-beda, mulai dari tujuh orang hingga 38 orang.
“Jujur sampai dengan detik ini kami belum mendapatkan data akurat berapa korban yang jatuh akibat putusnya jembatan gantung Wouma. Informasi jatuh korban ada yang bilang 7, 20, 33 dan 38, semuanya masih simpang siur,” ujarnya.
Masalahnya bukan hanya soal angka. Ketika informasi tidak jelas, ruang spekulasi membesar. Di wilayah dengan ikatan komunal kuat seperti Papua Pegunungan, kabar kehilangan bisa cepat berubah menjadi amarah kolektif.
Ketika Infrastruktur Roboh, Konflik Sosial Ikut Retak
Kapolres menyebut pencarian korban sebenarnya juga bertujuan meredam emosi keluarga korban sebelum konflik meluas.
“Kami terus melakukan upaya pencarian supaya dapat menurunkan tensi dari keluarga korban. Pencarian itu kami lakukan hingga delapan hari lamanya sebelum terjadinya perang antarsuku di Wamena,” katanya.
Tiga titik pencarian difokuskan mulai dari lokasi jembatan putus hingga kawasan muara belakang Bandara Wamena dan Yikuba.
Fakta ini membuka pertanyaan lebih besar apakah tragedi ini murni kecelakaan, atau alarm keras soal lemahnya pengawasan infrastruktur di daerah terpencil?
Pengamat kebijakan publik sekaligus akademisi infrastruktur dari Universitas Cenderawasih, misalnya, kerap mengingatkan bahwa banyak fasilitas publik di Papua menghadapi persoalan perawatan jangka panjang. Jembatan gantung di wilayah pegunungan bukan sekadar akses, tetapi urat nadi ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial warga.
Sementara sosiolog konflik sosial dari Papua, beberapa kali menyoroti bahwa duka massal di wilayah berbasis kekerabatan kuat dapat memicu konflik horizontal jika komunikasi pemerintah lambat dan informasi tidak terkelola dengan baik.
Ini Bukan Sekadar Jembatan Putus. Ini Soal Negara Hadir atau Tidak
Tragedi Wouma terasa lebih dalam dari sekadar kecelakaan teknis. Sebab ketika jembatan putus, warga kehilangan lebih dari akses fisik. Mereka kehilangan rasa aman.
Ironisnya, di banyak wilayah terpencil Indonesia, infrastruktur sering hadir saat proyek dibangun, tetapi menghilang saat perawatan dibutuhkan.
Presiden RI berulang kali menekankan pembangunan Papua sebagai prioritas nasional. Namun kejadian seperti ini memunculkan pertanyaan yang sulit dihindar apakah pembangunan hanya berhenti pada peresmian, atau benar-benar dijaga sampai aman dipakai warga?
Karena pada akhirnya, angka “24 korban” bukan statistik biasa. Di baliknya ada keluarga yang menunggu, ada kampung yang berduka, dan ada luka sosial yang kini membesar menjadi konflik.
Lalu, siapa yang akan memastikan tragedi seperti ini tidak kembali terulang?. @teguh





