Museum Marsinah resmi diresmikan di Nganjuk sebagai penghormatan bagi pahlawan Buruh Indonesia. Namun, misteri pembunuhannya masih belum menemukan keadilan.
Tabooo.id: Nganjuk – Pagi itu, Desa Nglundo di Kabupaten Nganjuk terlihat lebih ramai dari biasanya. Mobil pejabat keluar-masuk. Tenda putih berdiri di depan bangunan baru bercat terang. Kamera menyorot satu nama yang selama puluhan tahun hidup dalam luka sejarah Indonesia: Marsinah.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di desa itu, Sabtu (16/5/2026). Peresmian berlangsung enam bulan setelah negara menetapkan Marsinah sebagai pahlawan nasional.
Namun suasana peresmian itu menyimpan ironi yang sulit diabaikan. Negara akhirnya memberi penghormatan tertinggi kepada Marsinah, tetapi publik masih belum mengetahui siapa pembunuhnya.
Marsinah bukan sekadar nama dalam buku sejarah Buruh Indonesia. Ia pernah memimpin aksi mogok kerja di Sidoarjo pada 1993. Saat itu, rezim Orde Baru menekan suara kritik dengan kekuatan aparat dan ketakutan.
Pada 5 Mei 1993, Marsinah menghilang. Tiga hari kemudian, warga menemukan tubuhnya di sebuah gubuk di Wilangan, Nganjuk. Tubuhnya penuh luka kekerasan.
Sampai hari ini, kasus itu masih menyisakan tanda tanya besar.
Museum yang Menjaga Ingatan
Museum Marsinah berdiri tepat di samping rumah masa kecilnya. Bangunan itu menghadap jalan desa dengan enam pilar putih di bagian depan. Di belakang museum, keluarga membangun rumah singgah yang terhubung dengan halaman kecil dan kolam air mancur.
Di dalam museum, pengunjung bisa melihat benda-benda yang dekat dengan kehidupan Marsinah, termasuk sepeda miliknya. Museum itu akan buka gratis setiap hari untuk umum.
Marsini, kakak kandung Marsinah, menjaga tempat itu dengan penuh emosi. Ia mengaku sengaja membeli rumah kerabat dan tanah di sekitar lokasi demi mempertahankan jejak adiknya.
“Setelah peristiwa itu, saya ingin agar rumah ini jangan sampai dijual,” kata Marsini.
Bagi keluarga, museum itu bukan sekadar bangunan. Tempat itu menjadi ruang ingatan tentang seorang perempuan buruh yang melawan ketidakadilan dengan suaranya sendiri.
Buruh, Kekuasaan, dan Ketakutan
Kasus Marsinah selalu lebih besar daripada kasus pembunuhan biasa. Banyak aktivis HAM melihat kematian Marsinah sebagai simbol gelap hubungan antara kekuasaan dan Buruh pada era Orde Baru.
Marsinah menuntut hak pekerja. Ia meminta upah yang layak. Namun setelah itu, ia justru kehilangan nyawanya.
Puluhan tahun berlalu, tetapi publik masih belum mendapatkan jawaban yang jelas. Negara memberi gelar pahlawan, membangun museum, dan mengabadikan namanya. Namun negara belum menyelesaikan pertanyaan paling mendasar: siapa pelaku pembunuhan Marsinah?
Di titik ini, publik melihat pola yang berulang dalam sejarah Indonesia. Negara sering lebih cepat meresmikan simbol daripada menyelesaikan luka sejarah.
Ini bukan sekadar cerita tentang museum baru. Ini tentang bagaimana bangsa ini masih kesulitan menghadapi masa lalunya sendiri.
Harapan Baru dari Desa Nglundo
Meski begitu, warga Nglundo tetap menyimpan harapan. Mereka ingin museum itu membawa kehidupan baru bagi desa kecil tersebut.
Marsini berharap wisata sejarah dan UMKM desa bisa tumbuh lewat kehadiran museum Marsinah.
Kini, orang-orang datang ke Nglundo bukan hanya untuk melihat bangunan baru. Mereka datang untuk mengingat satu hal penting: seorang perempuan Buruh pernah berdiri melawan ketidakadilan, lalu membayar keberaniannya dengan nyawa.
Dan sampai hari ini, bangsa ini masih berutang jawaban kepadanya.
Marsinah akhirnya mendapat gelar pahlawan, tetapi keadilan untuk kematiannya masih terasa seperti arsip yang sengaja dibiarkan terkunci.





