Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

by teguh
Mei 15, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Malam itu kampus di Mataram belum benar-benar ramai. Mahasiswa baru menyiapkan layar ketika suasana berubah mendadak. Petugas keamanan mengawasi proyektor, pihak kampus menghentikan pemutaran film, lalu ruang diskusi mengecil sebelum percakapan benar-benar dimulai. ada satu pertanyaaan yang timbul dibenak kita semua yaitu, kenapa kritik soal papua selalu jadi ruang sensistif?.

Tabooo.id – Kenapa kritik soal papua selalu jadi ruang sensistif?. Pertanyaannya sederhana, tetapi mengusik kenapa setiap cerita tentang Papua hampir selalu hadir bersama rasa waswas?

Film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita sebenarnya hanya sebuah karya visual. Namun polemik penghentian nonton bareng di sejumlah kampus mengubah isu ini menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Perdebatan itu menyentuh ruang paling sensitif dalam demokrasi Indonesia siapa yang boleh menceritakan Papua, dan siapa yang menentukan batas kritik.

Pemerintah Membantah Ada Pelarangan

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan pemerintah tidak pernah mengeluarkan larangan pemutaran film tersebut. Menurutnya, Universitas Mataram dan UIN Mataram menghentikan nobar karena alasan administratif, bukan arahan negara.

“Biarkan saja masyarakat menonton, lalu setelah itu silakan gelar diskusi dan debat,” kata Yusril.

Ucapan itu memang terdengar menenangkan. Namun fakta di lapangan memunculkan pertanyaan lain jika pemerintah tidak melarang, kenapa ruang diskusi justru mengecil saat topik Papua muncul?

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Indonesia punya pola yang cukup unik. Kadang rasa takut muncul bahkan sebelum larangan resmi hadir.

Alasan Administratif atau Sensor yang Lebih Halus?

Di atas kertas, alasan administratif terdengar masuk akal. Kampus punya aturan. Penyelenggara kegiatan harus memenuhi prosedur.

Namun sejarah memperlihatkan pola yang berulang. Banyak forum tentang Papua berhenti di tengah jalan karena izin belum lengkap, keamanan dianggap rawan, atau prosedur kampus belum terpenuhi.

Publik akhirnya mulai bertanya apakah standar itu berlaku untuk semua isu, atau hanya aktif ketika Papua masuk ruang diskusi?

Sensitivitas biasanya meningkat ketika pembahasan menyentuh konflik agraria, hak ulayat, operasi keamanan, atau kritik terhadap pembangunan negara.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bahkan menilai penghentian pemutaran film mengancam kebebasan berekspresi. Menurut mereka, negara semestinya menjaga ruang dialog publik, bukan mempersempitnya.

Pada titik ini, persoalannya tidak lagi berhenti di film dokumenter. Yang mulai terasa sempit justru ruang aman untuk berpikir.

Papua dan Perebutan Cerita Besar

Film Pesta Babi mengkritik Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan. Dokumenter itu menyoroti pembukaan lahan, perubahan lingkungan, dan potensi hilangnya hak masyarakat adat. Pemerintah melihat cerita berbeda.

Yusril menolak istilah “kolonialisme modern”. Ia menegaskan Papua merupakan bagian integral NKRI dan pembangunan berlangsung demi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sementara itu, sebagian aktivis dan masyarakat adat memandang proyek besar dengan rasa khawatir. Mereka melihat pembangunan dapat menggeser ruang hidup masyarakat lokal serta mempersempit hak atas tanah. Akhirnya, publik menyaksikan dua narasi besar saling berhadapan.

Di satu sisi, negara berbicara tentang pertumbuhan dan ketahanan pangan. Di sisi lain, warga lokal berbicara tentang tanah, identitas, dan rasa kehilangan.

Istilah “kolonialisme” kemudian menjadi titik ledak. Kata itu bukan sekadar kritik biasa. Ia membawa tuduhan moral sekaligus pertanyaan besar tentang relasi kuasa negara terhadap Papua.

Pengamat sosial politik Prof. Sam’un Jaja Raharja mengingatkan publik agar membaca film dokumenter secara kritis. Menurutnya, demokrasi membutuhkan kritik, tetapi masyarakat juga perlu memahami kompleksitas Papua secara utuh.

Tetapi satu pertanyaan sulit belum benar-benar hilang. Kalau narasi pembangunan begitu kuat, kenapa kritik sering terasa mengancam?

Kampus dan Ruang Dialog yang Mulai Rapuh

Sejak lama, kampus dikenal sebagai tempat orang menguji gagasan. Mahasiswa belajar membantah, menyusun argumen, lalu memperdebatkan ide tanpa rasa takut.

Kini sebagian mahasiswa mulai bertanya ulang: apakah ruang itu masih benar-benar aman?

Penghentian nobar di beberapa universitas membuat fungsi kampus ikut diperdebatkan. Sebab jika topik Papua saja terasa rumit, bagaimana ruang akademik bisa mengajarkan keberanian berpikir?

Ketua DPR RI Puan Maharani mengatakan DPR akan meminta penjelasan dari pihak terkait. Ia juga mengakui isi dan judul film memunculkan sensitivitas di masyarakat.

Ironisnya, semakin banyak ruang diskusi dibatasi, semakin besar rasa penasaran publik.

Sejarah bahkan berkali-kali menunjukkan pola yang sama orang justru semakin ingin melihat sesuatu ketika pihak tertentu mencoba menghentikannya.

Siapa yang Berhak Menulis Cerita Papua?

Mari bicara jujur. Persoalan ini tidak berhenti pada layar kampus atau izin ruangan. Polemik ini juga melampaui urusan film dokumenter dan judul yang terasa provokatif.

Lapisan terdalamnya jauh lebih besar siapa yang berhak membentuk cerita tentang Papua? Pemerintah membawa narasi pembangunan. Aktivis menyoroti luka sosial dan pelanggaran.

Masyarakat adat menyimpan pengalaman hidup yang tak selalu masuk laporan resmi. Sineas mencoba menerjemahkan keresahan itu lewat kamera.

Di tengah tarik-ulur tersebut, mahasiswa sebenarnya meminta sesuatu yang sederhana hak untuk bertanya tanpa tekanan.

Demokrasi tidak tumbuh dari kesepakatan yang sunyi. Demokrasi hidup ketika orang berani membawa gagasan ke ruang debat.

Jika sebuah film dokumenter saja memicu kegelisahan besar, mungkin persoalannya bukan semata isi film.

Barangkali kita sedang melihat satu hal yang lebih jujur betapa sulitnya Indonesia merasa tenang ketika Papua mulai berbicara dengan suara yang berbeda.

Narasi yang kuat biasanya tidak takut diuji. Justru cerita yang rapuh paling sering panik pada layar kecil di halaman kampus. @teguh

Tags: Demokrasi IndonesiaFilm DokumenterHak UlayatKampusKebebasan BerekspresiKolonialismeKritikMahasiswapapuaPesta BabiPolitik IndonesiaPSN PapuaTabooo Deep

Kamu Melewatkan Ini

Kritik Itu Mudah Saat Belum Memegang Kendali

Kritik Itu Mudah Saat Belum Memegang Kendali

by Naysa
Oktober 13, 2026

Dulu, mengkritik pemerintah terdengar mudah: tunjuk masalahnya, bongkar janjinya, lalu tuntut perubahan. Namun, begitu duduk di kursi kekuasaan, kritik yang...

Forum BEM DIY Ultimatum 7 Hari soal Gibran, Desak DPR Bentuk Pansus

Forum BEM DIY Ultimatum 7 Hari soal Gibran, Desak DPR Bentuk Pansus

by dimas
Oktober 12, 2026

Forum BEM DIY memberi ultimatum tujuh hari soal Gibran, mendesak DPR membentuk Pansus Hak Angket, serta menyiapkan laporan ke Bareskrim...

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

Jokowi Tak Lagi Bicara Dua Periode: Sinyal Politik atau Sekadar Menahan Diri?

by dimas
Oktober 10, 2026

Jokowi tak lagi menegaskan dukungan dua periode untuk Prabowo-Gibran. Sinyal politik menuju Pilpres 2029 atau sekadar sikap hati-hati? Tabooo.id -...

Next Post
Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id