Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pendidikan Berdiri di Atas Guru yang Digaji Murah

by eko
Mei 6, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Mereka Mengajar, Tapi Sulit Bertahan Hidup Pagi belum benar-benar terang. Kabut masih turun tipis di jalan desa.
Namun seorang guru honorer sudah berjalan menuju sekolah dengan tas lusuh di pundaknya.

Tabooo.id: Deep – Di ruang kelas kecil itu, ia akan mengajarkan anak-anak tentang cita-cita. Tentang masa depan. Tentang harapan.

Ironisnya, hidupnya sendiri belum tentu aman sampai akhir bulan. Honor yang ia terima hanya sekitar Rp300 ribu.

Jumlah yang bahkan hari ini sering habis dalam sekali belanja kebutuhan dapur.

Namun besok pagi, ia tetap datang lagi.

Karena kalau ia berhenti, kelas itu mungkin ikut berhenti hidup.

Ini Belum Selesai

Hustle Culture Gen Z: Agar Sukses atau Terlihat Sukses?

Perempuan Pembela HAM: Demokrasi Butuh Mereka, Kekuasaan Takut Suara Mereka

Pendidikan Berdiri di Atas Pengabdian Murah

Di kota besar,
orang sibuk bicara soal sekolah digital.

Soal AI, kurikulum modern dan Indonesia Emas.

Tapi di banyak daerah terpencil,
pendidikan masih bertahan karena satu hal sederhana:

Guru honorer yang memilih tetap tinggal.

Mereka mengisi sekolah yang kekurangan tenaga pengajar.

Mereka menjaga ruang kelas tetap berjalan ketika sistem belum mampu hadir sepenuhnya.

Dan mereka melakukan semua itu dengan penghasilan yang bahkan sering tidak cukup untuk hidup layak.

Masalahnya,
negara terlalu lama menganggap pengabdian sebagai alasan untuk membayar murah.

Seolah-olah guru harus rela menderita demi membuktikan cintanya pada pendidikan.

Guru Disebut Pahlawan, Tapi Dibiarkan Sendirian

Kalimat “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” terdengar indah di pidato resmi.

Namun di kehidupan nyata,
banyak guru honorer justru hidup tanpa kepastian paling dasar.

Mereka menghadapi harga kebutuhan yang terus naik, memikirkan biaya sekolah anaknya sendiri dan mencari pekerjaan tambahan setelah mengajar.

Ada yang menjadi buruh tani, juga ada yang berjualan gorengan dan ada yang menjadi ojek demi menutup kebutuhan hidup.

Namun keesokan paginya,
mereka tetap berdiri di depan kelas.

Tetap tersenyum.

Tetap mengajarkan anak-anak untuk berani bermimpi besar.

Di titik ini,
persoalannya bukan lagi sekadar soal gaji guru honorer.

Ini soal martabat.

Tentang bagaimana negara memperlakukan orang-orang yang menjaga masa depan generasi berikutnya.

Di Pelosok, Guru Honorer Menjadi Wajah Terakhir Negara

Bagi banyak murid di pelosok,
guru honorer bukan cuma pengajar.

Mereka menjadi tempat mengadu. Menjadi penyemangat.

Menjadi alasan anak-anak tetap percaya bahwa sekolah bisa mengubah hidup.

Kadang mereka membeli alat tulis memakai uang pribadi.

Kadang mereka mendatangi rumah murid yang berhenti belajar.

Mereka hadir bukan karena sistem sudah sempurna.

Justru karena sistem terlalu sering terlambat hadir.

Dan ironisnya,
ketika negara mulai bicara reformasi pendidikan,
suara mereka justru tenggelam di balik administrasi dan angka-angka birokrasi.

Ini Bukan Sekadar Gaji, Tapi Martabat Guru

Indonesia terus bicara tentang generasi emas.

Tentang masa depan hebat. Tentang anak-anak yang akan membawa bangsa ini maju.

Namun mimpi sebesar itu ternyata masih berdiri di atas pundak orang-orang yang hidup dalam ketidakpastian.

Guru honorer diminta mencetak masa depan bangsa,
sementara hidup mereka sendiri terus digantung.

Dan mungkin di situlah ironi terbesar pendidikan Indonesia hari ini:

Kita ingin anak-anak tumbuh dengan mimpi besar.

Tapi kita masih membiarkan orang yang mengajarkan mimpi itu berjuang sendirian.@eko

Tags: DPR RIGuru Honorerguru non ASNPendidikan IndonesiaPPPKsekolah negeri

Kamu Melewatkan Ini

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

by teguh
Mei 12, 2026

Bagi banyak keluarga miskin, sekolah sering terasa seperti mimpi mahal. Namun, Sekolah Rakyat di Kota Kupang mulai membuka pintu baru...

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

by teguh
Mei 12, 2026

Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat akhirnya memaksa MPR RI mengambil langkah tegas....

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

by dimas
Mei 11, 2026

Pembangunan tampak megah lewat angka pertumbuhan, gedung tinggi, dan proyek infrastruktur besar yang terus dipamerkan. Namun bagi banyak orang, kemajuan...

Next Post
Kenaikan Tunjangan Hakim Ad Hoc: Obat Korupsi atau Sekadar Harapan Baru?

Kenaikan Tunjangan Hakim Ad Hoc: Obat Korupsi atau Sekadar Harapan Baru?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Culture

© 2026 Tabooo.id