Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Demokrasi Kita?

by dimas
Mei 15, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Pembubaran pemutaran film Pesta Babi memantik pertanyaan besar tentang kebebasan berekspresi, menyempitnya ruang sipil, dan cara negara mengontrol narasi publik di Indonesia.

Tabooo.id – Suara proyektor belum selesai berdengung ketika aparat datang. Diskusi bahkan belum benar-benar dimulai. Tapi malam itu di Benteng Oranje, Ternate, aparat menghentikan pemutaran film dokumenter Pesta Babi. Mereka menilai film itu provokatif dan berpotensi memicu kegaduhan.

Pertanyaannya sederhana sejak kapan menonton film berubah menjadi ancaman keamanan?

Sekilas, kejadian itu tampak seperti pembubaran acara biasa. Namun masalahnya jauh lebih besar. Demokrasi jarang runtuh lewat satu ledakan besar. Retakan biasanya muncul pelan-pelan mulai dari ruang diskusi yang diawasi, kritik yang dicurigai, sampai warga yang akhirnya memilih diam.

Kasus Pesta Babi memperlihatkan satu hal penting negara kembali gelisah terhadap narasi yang tidak bisa mereka kendalikan sepenuhnya. Kampus, komunitas, dan ruang budaya kini menghadapi pola serupa. Aparat mengawasi acara, pihak tertentu memberi tekanan, lalu rasa takut menyebar ke mana-mana.

Film yang Membuat Kekuasaan Gelisah

Film Pesta Babi berbicara tentang konflik agraria di Papua Selatan. Dokumenter itu menyoroti perjuangan masyarakat adat yang mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri besar.

Ini Belum Selesai

Apakah Sistem Listrik Indonesia Sedang Menuju Krisis?

Indonesia Kaya Budaya, Tapi Kita Terlalu Haus Validasi Asing?

Namun publik justru melihat reaksi yang jauh lebih keras daripada isi filmnya sendiri.

Situasi itu memunculkan pertanyaan lain apakah yang mereka takutkan benar-benar isi filmnya, atau kemungkinan publik mulai melihat kenyataan dari sudut pandang berbeda?

Di titik inilah persoalan berubah menjadi lebih besar daripada sekadar layar yang mati.

Demokrasi seharusnya memberi ruang bagi berbagai suara, termasuk suara yang membuat penguasa tidak nyaman. Tapi belakangan publik menyaksikan banyak ruang diskusi mendapat tekanan. Otoritas kampus menghentikan acara, aparat mendata peserta, dan sebagian media mulai membatasi liputan mereka sendiri karena takut tekanan politik maupun ekonomi.

Akibatnya, publik mulai meragukan kebebasan berbicara di negeri ini.

Represi dengan Wajah Baru

Kontrol hari ini tidak lagi selalu muncul dalam bentuk larangan terang-terangan seperti era Orde Baru. Kekuasaan kini memakai cara yang lebih halus dan lebih cair.

Tekanan ekonomi, ancaman digital, kriminalisasi, hingga pendekatan “kerja sama” terhadap media alternatif menjadi pola baru pengendalian narasi. Represi modern tidak selalu hadir lewat bentakan. Kadang kekuasaan memakai pendekatan yang tampak ramah, lalu perlahan membangun ketergantungan.

Cara seperti ini justru lebih sulit dikenali publik.

Media besar mulai berhati-hati karena kepentingan bisnis dan iklan. Di sisi lain, media alternatif menghadapi pengawasan dan tekanan yang terus meningkat. Situasi itu membuat ruang publik kehilangan keberagaman perspektif. Narasi yang aman bagi kekuasaan perlahan mendominasi percakapan.

Padahal demokrasi tidak pernah tumbuh dari kenyamanan.

Demokrasi hidup dari debat, kritik, perbedaan gagasan, dan keberanian warga untuk mempertanyakan keadaan. Film dokumenter, forum diskusi, dan ruang percakapan publik seharusnya menjadi tanda demokrasi sehat bukan ancaman yang harus dicurigai.

Ketika Publik Mulai Memilih Diam

Pembubaran nobar Pesta Babi akhirnya bukan cuma soal pelarangan film. Peristiwa ini menjadi alarm tentang menyempitnya ruang sipil di Indonesia.

Rasa takut kini muncul lewat cara yang lebih sunyi. Banyak orang memilih diam sebelum sempat berbicara. Sebagian komunitas mulai berpikir dua kali sebelum menggelar diskusi. Media juga semakin berhitung sebelum mengangkat isu sensitif.

Sejarah menunjukkan pola yang hampir selalu sama. Ketika negara mulai takut pada film, media independen, atau percakapan publik yang liar, biasanya mereka bukan takut pada ancaman keamanan.

Mereka takut pada warga yang mulai berani berpikir sendiri.

Lalu sekarang pertanyaannya tinggal satu kalau ruang diskusi saja mulai dianggap berbahaya, sebenarnya siapa yang paling takut pada kebenaran?

“Negara yang takut pada film biasanya sedang takut pada warganya sendiri.” @dimas

Tags: Film Pesta BabiKebebasan BerekspresiKontrol NarasiMedia AlternatifRuang Sipil

Kamu Melewatkan Ini

Tiga Peserta Tewas, Latihan Militer Manajer Koperasi Dipertanyakan

Tiga Peserta Tewas, Latihan Militer Manajer Koperasi Dipertanyakan

by dimas
Juni 25, 2026

Tiga calon manajer koperasi meninggal saat latihan militer. Di balik duka, muncul pertanyaan besar tentang batas militerisme dalam ruang sipil....

Mahasiswa Tagih Janji DPR: Bicara Mudah, Buktinya Mana?

Mahasiswa Tagih Janji DPR: Bicara Mudah, Buktinya Mana?

by dimas
Juni 19, 2026

Mahasiswa menagih janji DPR usai dialog di Senayan. Dari harga BBM hingga ruang sipil, mereka menuntut bukti nyata, bukan sekadar...

Demonstrasi Mahasiswa: Suara Idealisme atau Efek Algoritma?

Demonstrasi Mahasiswa: Suara Idealisme atau Efek Algoritma?

by dimas
Juni 18, 2026

Aksi demonstrasi mahasiswa kembali menguat di berbagai daerah. Apakah ini murni idealisme atau hasil amplifikasi algoritma media sosial yang membentuk...

Next Post
GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id