Pembubaran pemutaran film Pesta Babi memantik pertanyaan besar tentang kebebasan berekspresi, menyempitnya ruang sipil, dan cara negara mengontrol narasi publik di Indonesia.
Tabooo.id – Suara proyektor belum selesai berdengung ketika aparat datang. Diskusi bahkan belum benar-benar dimulai. Tapi malam itu di Benteng Oranje, Ternate, aparat menghentikan pemutaran film dokumenter Pesta Babi. Mereka menilai film itu provokatif dan berpotensi memicu kegaduhan.
Pertanyaannya sederhana sejak kapan menonton film berubah menjadi ancaman keamanan?
Sekilas, kejadian itu tampak seperti pembubaran acara biasa. Namun masalahnya jauh lebih besar. Demokrasi jarang runtuh lewat satu ledakan besar. Retakan biasanya muncul pelan-pelan mulai dari ruang diskusi yang diawasi, kritik yang dicurigai, sampai warga yang akhirnya memilih diam.
Kasus Pesta Babi memperlihatkan satu hal penting negara kembali gelisah terhadap narasi yang tidak bisa mereka kendalikan sepenuhnya. Kampus, komunitas, dan ruang budaya kini menghadapi pola serupa. Aparat mengawasi acara, pihak tertentu memberi tekanan, lalu rasa takut menyebar ke mana-mana.
Film yang Membuat Kekuasaan Gelisah
Film Pesta Babi berbicara tentang konflik agraria di Papua Selatan. Dokumenter itu menyoroti perjuangan masyarakat adat yang mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri besar.
Namun publik justru melihat reaksi yang jauh lebih keras daripada isi filmnya sendiri.
Situasi itu memunculkan pertanyaan lain apakah yang mereka takutkan benar-benar isi filmnya, atau kemungkinan publik mulai melihat kenyataan dari sudut pandang berbeda?
Di titik inilah persoalan berubah menjadi lebih besar daripada sekadar layar yang mati.
Demokrasi seharusnya memberi ruang bagi berbagai suara, termasuk suara yang membuat penguasa tidak nyaman. Tapi belakangan publik menyaksikan banyak ruang diskusi mendapat tekanan. Otoritas kampus menghentikan acara, aparat mendata peserta, dan sebagian media mulai membatasi liputan mereka sendiri karena takut tekanan politik maupun ekonomi.
Akibatnya, publik mulai meragukan kebebasan berbicara di negeri ini.
Represi dengan Wajah Baru
Kontrol hari ini tidak lagi selalu muncul dalam bentuk larangan terang-terangan seperti era Orde Baru. Kekuasaan kini memakai cara yang lebih halus dan lebih cair.
Tekanan ekonomi, ancaman digital, kriminalisasi, hingga pendekatan “kerja sama” terhadap media alternatif menjadi pola baru pengendalian narasi. Represi modern tidak selalu hadir lewat bentakan. Kadang kekuasaan memakai pendekatan yang tampak ramah, lalu perlahan membangun ketergantungan.
Cara seperti ini justru lebih sulit dikenali publik.
Media besar mulai berhati-hati karena kepentingan bisnis dan iklan. Di sisi lain, media alternatif menghadapi pengawasan dan tekanan yang terus meningkat. Situasi itu membuat ruang publik kehilangan keberagaman perspektif. Narasi yang aman bagi kekuasaan perlahan mendominasi percakapan.
Padahal demokrasi tidak pernah tumbuh dari kenyamanan.
Demokrasi hidup dari debat, kritik, perbedaan gagasan, dan keberanian warga untuk mempertanyakan keadaan. Film dokumenter, forum diskusi, dan ruang percakapan publik seharusnya menjadi tanda demokrasi sehat bukan ancaman yang harus dicurigai.
Ketika Publik Mulai Memilih Diam
Pembubaran nobar Pesta Babi akhirnya bukan cuma soal pelarangan film. Peristiwa ini menjadi alarm tentang menyempitnya ruang sipil di Indonesia.
Rasa takut kini muncul lewat cara yang lebih sunyi. Banyak orang memilih diam sebelum sempat berbicara. Sebagian komunitas mulai berpikir dua kali sebelum menggelar diskusi. Media juga semakin berhitung sebelum mengangkat isu sensitif.
Sejarah menunjukkan pola yang hampir selalu sama. Ketika negara mulai takut pada film, media independen, atau percakapan publik yang liar, biasanya mereka bukan takut pada ancaman keamanan.
Mereka takut pada warga yang mulai berani berpikir sendiri.
Lalu sekarang pertanyaannya tinggal satu kalau ruang diskusi saja mulai dianggap berbahaya, sebenarnya siapa yang paling takut pada kebenaran?
“Negara yang takut pada film biasanya sedang takut pada warganya sendiri.” @dimas





