Kita hidup di zaman yang aneh. Semua orang ingin kota bersih, tetapi tak banyak yang mau dekat dengan sampahnya sendiri. Kita membeli cepat, memakai cepat, lalu membuang lebih cepat lagi.
Setelah itu, kita marah ketika gunungan sampah mulai mengepung hidup. Di tengah budaya buang dan lupa itu, muncul orang-orang yang bekerja diam-diam menyelamatkan kota tanpa tepuk tangan, tanpa panggung, dan tanpa sorotan kamera.
Tabooo.id: Life – Pagi di Winongo dulu selalu membawa aroma yang sama: sampah. Bukan aroma kopi. Bukan juga bau tanah basah setelah hujan. Sebaliknya, plastik busuk menggantung di udara seperti hukuman yang tak pernah selesai.
Motor tua meraung pelan di gang sempit. Anak-anak berjalan ke sekolah sambil menutup hidung. Sementara itu, warga perlahan terbiasa hidup di tengah gunungan sampah, seolah keadaan itu memang tak bisa diubah.
Ironisnya, banyak orang menganggap sampah sebagai urusan orang lain.
Padahal setiap kresek dan botol plastik berasal dari tangan mereka sendiri.
Film Unseen, Unannounced terasa seperti tamparan pelan untuk kenyataan itu. Film tersebut tidak menghadirkan pahlawan glamor atau tokoh penuh sorotan. Sebaliknya, film itu memperlihatkan orang-orang biasa yang bekerja diam-diam demi menyelamatkan kota dari kehancurannya sendiri.
Dan sosok seperti itu nyata di Winongo.
Saat Kota Modern Sibuk Konsumsi, Ada Orang yang Sibuk Membersihkan Sisa Kita
Di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, sampah pernah menjadi bagian dari lanskap sehari-hari.
Sekitar 100 ton sampah masuk ke TPA Winongo setiap hari. Petugas menimbun sampah tanpa pengolahan memadai. Akibatnya, bau menyengat terus memenuhi udara. Selain itu, nyamuk berkembang biak lebih cepat daripada solusi datang.
Karena kondisi itu, demam berdarah menjadi cerita yang akrab di obrolan warga.
Namun masalahnya bukan cuma soal sampah.
Masalah utamanya ada pada budaya hidup manusia modern.
Kita hidup di zaman yang mendorong orang membeli cepat, memakai cepat, lalu membuang lebih cepat lagi. Kota modern tumbuh dari konsumsi. Akan tetapi, kota yang sama sering panik ketika melihat akibatnya mulai menumpuk.
Siyam Sumartini dan Keputusan untuk Berhenti Mengeluh
Di tengah situasi itu, Siyam Sumartini memilih melakukan sesuatu yang makin langka di zaman sekarang: bertanggung jawab.
Pada 11 November 2010, ia mendirikan Bank Sampah Matahari. Ia tidak mengejar proyek atau penghargaan. Sebaliknya, ia merasa lelah melihat manusia terus menghasilkan sampah sambil berpura-pura tidak terlibat.
Pertanyaannya sederhana, tetapi terasa menampar:
Kenapa kita membuang sesuatu yang kita hasilkan sendiri, lalu merasa itu bukan urusan kita lagi?
Alih-alih sibuk menyalahkan warga, Siyam mulai mengubah pola pikir mereka. Ia mengajak warga memilah sampah dari rumah. Setelah itu, warga mulai mengumpulkan botol bekas dan memanfaatkan plastik untuk kebutuhan lain.
Perlahan, warga tidak lagi melihat sampah sebagai akhir dari barang. Mereka mulai melihatnya sebagai awal dari sesuatu yang baru.
“Tujuannya agar masyarakat melek terhadap sampah yang dihasilkan sendiri dan bisa menjadikan sampah menjadi cuan,” ujar Siyam.
Kalimat itu memang terdengar sederhana. Namun di baliknya, ada kritik besar terhadap cara hidup manusia modern yang terlalu nyaman membuang tanpa berpikir panjang.
Dari Botol Bekas Jadi Penyambung Hidup
Di Bank Sampah Matahari, sampah tidak berakhir di bak truk.
Warga memotong botol plastik, lalu merangkainya menjadi sapu, meja, kursi, baki, asbak, hingga tempat sampah baru. Selain itu, mereka juga mengubah plastik kresek dan sendok makan bekas menjadi tas dan bunga hias.
Setiap bulan, tim produksi menghasilkan hampir 100 sapu. Melalui proses itu, sekitar 30 ribu botol plastik berhasil terselamatkan dari TPA.
Namun yang paling penting bukan sekadar angka.
Perubahan terbesar justru muncul dari cara pandang manusia.
Kini, warga mulai sadar bahwa sampah bukan cuma barang kotor. Sampah mencerminkan kebiasaan, gaya hidup, bahkan ego manusia yang ingin terus membeli tanpa memikirkan sisanya.
Pahlawan yang Tidak Pernah Masuk Panggung Utama
Film Unseen, Unannounced seperti berbicara tentang orang-orang seperti Siyam.
Mereka tidak viral. Mereka juga tidak tampil di panggung megah atau baliho kota. Namun kota-kota besar diam-diam bertahan karena kerja sunyi mereka.
Lucunya, banyak orang menganggap profesi penyelamat lingkungan kurang keren dibanding pekerjaan yang justru menghasilkan lebih banyak sampah.
Padahal tanpa orang-orang seperti mereka, kota modern mungkin sudah tenggelam dalam sisa konsumsinya sendiri.
Ini Bukan Sekadar Cerita Sampah. Ini Cerita Tentang Manusia
Pada 2025, Bank Sampah Matahari berhasil masuk Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK). Setelah itu, Pemerintah Kota Madiun mulai mengadopsi sistem “satu bank sampah satu RT”.
Namun ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada penghargaan itu:
Kenapa kita baru menghargai orang-orang seperti ini setelah krisis tumbuh terlalu besar?
Karena sebenarnya masalah sampah tidak pernah cuma soal limbah.
Masalah ini berbicara tentang manusia yang terlalu terbiasa membuang:
membuang plastik,
membuang tanggung jawab,
bahkan membuang rasa peduli.
Dan mungkin itulah bagian paling mengganggu dari film Unseen, Unannounced maupun kisah Winongo.
Pahlawan terbesar sering kali bukan mereka yang paling terlihat.
Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang tetap bekerja membersihkan dunia ketika semua orang lain sibuk mengotorinya.@eko





