Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

by teguh
Mei 13, 2026
in Health, Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Sebuah video membuat publik berhenti scroll. Bukan karena keributan. Bukan juga karena drama panggung lomba. Publik justru menyorot keberanian seorang siswi berani Speak up di depan juri lalu menyampaikan keberatan dengan suara tenang.

Tabooo.id: – Siswi SMAN 1 Pontianak itu ikut ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI. Ia melakukan speak up di depan juri dan menyampaikan protes setelah timnya menemukan perbedaan penilaian jawaban. Cara bicaranya lugas. Sikapnya tetap sopan. Namun, keberaniannya memicu perdebatan di media sosial.

Sebagian orang memuji keberaniannya. Sebagian lain mempertanyakan sikapnya. Lalu muncul satu pertanyaan besar sejak kapan anak yang berbicara sopan terlihat seperti melawan?

Ketika Anak Berani Bicara di Hadapan Otoritas

Video itu cepat menyebar di media sosial. Banyak orang mengapresiasi cara siswi tersebut menyampaikan keberatan tanpa emosi berlebihan. Ia tidak meninggikan suara. Ia juga tidak menyerang juri secara pribadi.

Di tengah budaya yang sering meminta anak untuk diam dan patuh, keberanian seperti ini terasa tidak biasa.

Padahal, Psikolog Anak dan Remaja RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi, melihat fenomena ini dari sudut berbeda. Menurut dia, keberanian speak up justru menunjukkan perkembangan emosional yang sehat pada remaja.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

“Ini merupakan tanda berkembangnya rasa keadilan, percaya diri, dan kemampuan menyuarakan kebutuhan pribadi atau pendapat diri,” ujar Joko kepada Kompas.com, Selasa, 12 Mei 2026.

Menurut Joko, remaja yang berani menyampaikan pendapat biasanya mulai mengenali hak dirinya. Mereka memahami kapan harus berbicara dan kapan perlu meluruskan sesuatu yang terasa tidak adil.

Speak Up Tidak Sama dengan Membangkang

Masalahnya, banyak lingkungan masih memaknai sikap kritis sebagai bentuk pembangkangan.

Anak yang diam sering mendapat label sopan. Sebaliknya, anak yang mempertanyakan keputusan sering memicu rasa tidak nyaman.

Padahal, Joko melihat hal itu dari perspektif lain.

“Anak yang berani protes itu bukan berarti anak yang tidak sopan atau melawan,” katanya.

Menurut dia, keberanian menyampaikan protes bisa menunjukkan keberanian moral. Remaja belajar menyuarakan sesuatu saat mereka melihat ketidakadilan.

Psikolog perkembangan Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, juga kerap menekankan pentingnya ruang dialog sehat bagi anak. Lingkungan yang membuka ruang diskusi membantu anak membangun kepercayaan diri dan mengelola emosi dengan lebih baik.

Artinya, anak tidak hanya belajar patuh. Anak juga belajar bertanggung jawab atas pikirannya sendiri.

Komunikasi Asertif: Berani Bicara, Tetap Punya Adab

Dalam psikologi, orang mengenal keberanian menyampaikan pendapat dengan istilah komunikasi asertif.

Komunikasi ini mengajarkan seseorang berbicara jujur tanpa merendahkan orang lain.

Joko menjelaskan komunikasi asertif tidak berhenti pada keberanian bicara. Seseorang juga perlu siap menerima risiko dari pendapat yang ia sampaikan.

“Komunikasi asertif itu artinya bukan hanya jujur, tetapi juga berani mengambil risiko,” ujarnya.

Namun, Joko mengingatkan satu hal penting keberanian tetap perlu adab.

“Protes itu boleh, memberikan masukan itu bagus, tetapi harus disampaikan dengan alasan yang jelas, bahasanya sopan, dan tidak menyerang pribadi,” katanya.

Video siswi SMAN 1 Pontianak lalu menjadi contoh menarik. Ia menyampaikan protes tanpa emosi meledak-ledak. Ia tetap menjaga hormat, meski berbeda pendapat.

Ini Bukan Sekadar Video Viral, Tapi Gambaran Mental Remaja

Video ini sebenarnya membuka diskusi yang lebih besar bagaimana kita memandang keberanian anak muda?

Remaja yang mampu menyampaikan keberatan secara sehat biasanya memiliki rasa percaya diri lebih stabil. Mereka juga lebih mudah mengelola emosi dan mengambil keputusan sosial.

Sebaliknya, lingkungan yang terlalu sering membungkam anak sering melahirkan rasa takut berbicara. Banyak remaja akhirnya memilih diam, memendam tekanan, atau takut membuat kesalahan.

Pengamat pendidikan dan psikologi remaja dari Himpunan Psikologi Indonesia juga menilai sekolah perlu membuka ruang dialog sehat. Sekolah tidak hanya mengajarkan nilai akademik. Sekolah juga perlu melatih keberanian menyampaikan pendapat dengan cara yang sehat.

Ketika Anak Bicara, Orang Dewasa Juga Perlu Belajar Mendengar

Joko mengingatkan bahwa orang dewasa perlu membuka telinga terhadap kritik dari anak muda.

“Kalau memang masuk akal, ya harus diterima. Itu bagian dari sikap rendah hati,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun praktiknya sering terasa sulit. Tidak semua orang dewasa nyaman menerima koreksi dari anak-anak.

Padahal, bisa jadi mereka tidak sedang melawan. Mereka hanya sedang belajar berkata “Ini terasa tidak adil.”

Dan mungkin, di tengah dunia yang terlalu sering meminta anak untuk manut, keberanian speak up dengan sopan justru menjadi salah satu tanda kesehatan mental yang paling penting bagi masa depan. @teguh

Tags: anakmudaHealthLCC 4 Pilarmental healthPendidikanPsikologRemajaSiswi SMAN 1 PontianakSMAN 1 PontianakSpeak Up

Kamu Melewatkan Ini

Konsumsi Jahe Tiap Hari, Sehat atau Justru Berisiko?

Konsumsi Jahe Tiap Hari, Sehat atau Justru Berisiko?

by eko
Oktober 9, 2026

Konsumsi jahe setiap hari berpotensi membantu meredakan mual dan mendukung kesehatan tubuh. Kenali manfaat jahe, efek samping dan cara konsumsinya....

Bangun Pagi Tapi Tetap Ngantuk? Ini Penyebabnya

Bangun Pagi Tapi Tetap Ngantuk? Ini Penyebabnya

by eko
Oktober 7, 2026

Bangun pagi tapi tetap ngantuk? Kenali penyebabnya, mulai dari kualitas tidur, jadwal tidur, cahaya pagi, hingga kebiasaan sebelum tidur. Tabooo.id...

Tiga Murid, Tiga Masa Depan, Sekolah Sepi: Terus Negara Hadir Sejauh Apa?

Tiga Murid, Tiga Masa Depan, Sekolah Sepi: Terus Negara Hadir Sejauh Apa?

by teguh
Oktober 5, 2026

Sekolah sepi bukan berarti hak pendidikan boleh ikut sepi. Di Mentarang Hulu, Kalimantan Utara, sebuah sekolah dasar hanya memiliki tiga...

Next Post
LCC 4 Pilar atau Lomba Artikulasi? Ketika Pengetahuan Kalah oleh Teknis

LCC 4 Pilar atau Lomba Artikulasi? Ketika Pengetahuan Kalah oleh Teknis

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id