Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tan Malaka: Seorang Komunis yang Menentang Komunisme?

by dimas
Juni 13, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Tan Malaka kerap dicap komunis dan antiagama. Namun benarkah demikian? Menelusuri gagasan, Islam, sosialisme, dan stigma yang melekat pada dirinya.

Tabooo.id – Nama Tan Malaka selalu memicu perdebatan. Sebagian orang mengenangnya sebagai pahlawan revolusi yang berani melawan kolonialisme. Sebagian lainnya terus menghubungkannya dengan komunisme dan bahkan menuduhnya antiagama.

Label itu bertahan puluhan tahun. Banyak orang menerima tuduhan tersebut tanpa pernah membuka tulisan-tulisan Tan Malaka sendiri. Akibatnya, publik lebih sering mengenal stigma daripada gagasannya.

Padahal, ketika kita menelusuri jejak pemikiran Tan Malaka, muncul pertanyaan yang mengusik: benarkah ia seorang komunis seperti yang selama ini dipercaya banyak orang?

Jejak Komintern dan Kesalahpahaman Sejarah

Sejarah memang mencatat Tan Malaka pernah aktif dalam Komintern atau Komunis Internasional. Fakta inilah yang kemudian membuat banyak orang langsung memasukkannya ke dalam kelompok komunis.

Namun sejarah tidak sesederhana itu.

Ini Belum Selesai

Kabinet Bayangan: Alarm Demokrasi di Tengah Minimnya Oposisi

MBG Dilarang Pakai Subsidi, Siapa Menanggung Selisih Biayanya?

Kehadiran seseorang dalam sebuah organisasi tidak otomatis menunjukkan kesepakatan penuh terhadap seluruh ideologinya. Tan Malaka justru berkali-kali mengkritik gagasan yang berkembang di lingkungan Komintern.

Dalam buku Dari Penjara ke Penjara, ia menunjukkan perbedaan tajam dengan kelompok PKI yang dipimpin Sardjono, Alimin, dan Musso. Perbedaan itu tidak hanya menyangkut strategi politik. Ia menyangkut arah masa depan Indonesia.

Tan Malaka menilai model negara komunis seperti Uni Soviet tidak cocok bagi masyarakat Nusantara. Ia melihat Indonesia memiliki karakter sosial, budaya, dan keagamaan yang sangat berbeda.

Karena itu, ia menolak gagasan yang memaksa Indonesia meniru revolusi negara lain.

Ketika Islam dan Sosialisme Bertemu

Tan Malaka memandang masyarakat Indonesia sebagai masyarakat religius. Karena itu, ia meyakini bahwa penerapan komunisme ortodoks hanya akan memicu perlawanan luas.

Pandangan tersebut muncul secara jelas dalam Madilog.

Menurut Tan Malaka, masyarakat Indonesia sebenarnya telah mengenal nilai-nilai sosialisme melalui pengalaman hidup dan ajaran Islam. Gotong royong, solidaritas, keadilan sosial, dan kepedulian terhadap kaum lemah sudah hidup dalam keseharian masyarakat jauh sebelum istilah sosialisme populer di Eropa.

Ia tidak melihat Islam dan keadilan sosial sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Sebaliknya, ia melihat keduanya dapat berjalan berdampingan.

Pandangan ini membuatnya berbeda dari banyak tokoh komunis pada zamannya. Ketika sebagian kalangan kiri memandang gerakan Pan-Islamisme dengan curiga, Tan Malaka justru membela keberadaannya sebagai kekuatan sosial yang nyata di dunia kolonial.

Sarekat Islam dan Jalan Politik yang Berbeda

Jejak kedekatan Tan Malaka dengan dunia Islam tidak berhenti pada gagasan.

Ia bergabung dalam Sarekat Islam bersama tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Dalam berbagai kesempatan, ia juga berusaha mengajak kelompok-kelompok Islam bergabung dalam perjuangan melawan kolonialisme.

Langkah tersebut sering memicu perdebatan dengan kelompok komunis yang memandang agama sebagai hambatan revolusi.

Namun Tan Malaka tetap mempertahankan sikapnya.

Ia terus mencari jalan yang sesuai dengan kondisi Indonesia, bukan jalan yang lahir dari pengalaman negara lain.

Sikap itu semakin terlihat menjelang akhir perjalanan politiknya. Bersama Chaerul Saleh, Adam Malik, dan Sukarni, ia mendirikan Partai Murba atau Musyawarah Rakyat Banyak.

Melalui partai tersebut, Tan Malaka menunjukkan jarak yang tegas dari garis politik Komintern maupun PKI.

Benarkah Tan Malaka Antiagama?

Tuduhan antiagama menjadi salah satu serangan paling sering yang diarahkan kepada Tan Malaka.

Namun tuduhan itu justru bertabrakan dengan sejumlah tulisannya sendiri.

Dalam Madilog, Tan Malaka menulis tentang Allah sebagai Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Mengetahui. Ia bahkan beberapa kali menutup penjelasannya dengan kalimat “Wallahu a’lam”.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan biasa.

Kalimat tersebut menunjukkan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, sedangkan Allah memiliki pengetahuan yang sempurna.

Tan Malaka memang mengkritik takhayul dan cara berpikir yang menurutnya tidak rasional. Namun ia tidak menyerang keyakinan agama itu sendiri.

Ia membedakan antara wilayah ilmu pengetahuan dan wilayah kepercayaan.

Dalam salah satu bagian Madilog, ia menegaskan bahwa persoalan surga, neraka, dan kehidupan setelah kematian berada di luar jangkauan pembuktian ilmiah. Karena itu, setiap orang berhak menentukan keyakinannya sendiri sesuai hati nurani.

Pandangan tersebut lebih dekat dengan kebebasan berpikir daripada permusuhan terhadap agama.

Antara Stigma dan Gagasan

Masalah terbesar dalam membaca Tan Malaka mungkin bukan terletak pada gagasannya.

Masalah terbesar justru muncul ketika publik lebih dulu menerima label daripada membaca pemikirannya.

Sejarah sering menyederhanakan tokoh ke dalam dua kutub yang saling bertentangan.

Komunis atau nasionalis.

Religius atau sekuler.

Pahlawan atau pengkhianat.

Padahal tokoh seperti Tan Malaka hidup di ruang yang jauh lebih kompleks.

Ia mengkritik kolonialisme, memperjuangkan kemerdekaan, menolak dogma politik yang tidak sesuai dengan Indonesia, dan pada saat yang sama mempertahankan kebebasan berpikir sebagai hak setiap manusia.

Karena itu, perdebatan tentang Tan Malaka sesungguhnya bukan sekadar perdebatan tentang satu tokoh.

Ini adalah cermin cara kita membaca sejarah.

Apakah kita memilih memahami seseorang melalui karya dan gagasannya?

Ataukah kita lebih nyaman menerima label yang diwariskan dari generasi ke generasi?

Sebab sering kali, stigma bergerak lebih cepat daripada pengetahuan.

Dan sejarah membuktikan, keduanya tidak selalu berjalan ke arah yang sama. @dimas

Tags: kebebasan berpikirNasionalismeSejarah IndonesiaStigma PolitikTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Sungai Musi dan Lahirnya Peradaban Palembang

Sungai Musi dan Lahirnya Peradaban Palembang

by Anisa
Juli 26, 2026

Sungai Musi bukan hanya membelah Kota Palembang. Jauh sebelum jalan raya, pelabuhan modern, dan gedung-gedung berdiri, sungai ini telah menjadi...

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

by dimas
Juli 21, 2026

Gerwani pernah menjadi organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Namun, propaganda politik pasca-1965 membentuk citranya selama puluhan tahun. Bagaimana fakta sejarah...

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

by dimas
Juli 21, 2026

Gerakan Perempuan Indonesia, perlawanan di bawah bayang Penindasan mengulas sejarah panjang pembungkaman gerakan perempuan, dari kolonialisme, Gerwani, Orde Baru, hingga...

Next Post
Feodalisme, Kekuasaan dan Ketakutan untuk Berpikir

Feodalisme, Kekuasaan dan Ketakutan untuk Berpikir

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id