Tabooo.id: Deep – Tan Malaka membongkar agama, tradisi, dan kebiasaan. Mana realita, mana warisan yang tidak pernah kamu uji. Karena kamu tumbuh di lingkungan yang sudah menentukan banyak hal sebelum kamu sempat bertanya. Akibatnya, kamu menerima konsep benar dan salah sejak kecil tanpa banyak pertimbangan. Kamu menjalankan ritual, mengikuti kebiasaan.
Selain itu, kamu memegang nilai warisan tanpa pernah mengujinya. Padahal, ini bukan karena kamu bodoh, tapi karena sistem sosial memang bekerja seperti itu. Ia menanamkan keyakinan lebih dulu, baru logika datang belakangan.
Tan Malaka melihat ini sebagai masalah serius. Ia tidak melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mencari kebenaran, tetapi sering kali sebagai makhluk yang pasif menerima. Kamu tidak membangun keyakinan dari realita. Kamu mengambilnya dari apa yang sudah ada di sekitarmu. Dan ketika sesuatu sudah terasa “normal”, kamu berhenti mempertanyakannya.
Materialisme: Semua Harus Berangkat dari Benda, Bukan Bayangan
Dalam Madilog, Tan Malaka memulai dari satu fondasi yang sangat keras: semua pemikiran harus berdiri di atas “matter” atau benda nyata. Ia secara tegas menyebut, hanya bukti yang bisa kamu alami dan rasakan secara nyata yang layak jadi dasar berpikir.
Ini berarti satu hal yang tidak nyaman, kamu tidak bisa menganggap sesuatu benar hanya karena kamu percaya. Kamu harus mengujinya, mengalaminya, dan membuktikannya dalam realita.
Materialisme di sini bukan sekadar soal fisik atau materi dalam arti sempit. Ini adalah cara pandang. Kamu melihat dunia dari apa yang benar-benar ada—bukan dari apa yang kamu yakini. Tan Malaka bahkan menegaskan satu hal, manusia harus memandang segala sesuatu dari “penjuru matter”. Dari situlah setiap penyelidikan dimulai.
Kalau fondasinya tidak nyata, maka seluruh bangunan pemikiranmu bisa runtuh. Kamu bisa merasa benar, tapi tidak pernah benar-benar berada di atas realita.
Masalahnya: Banyak Orang Berpikir dari Keyakinan, Bukan dari Realita
Tan Malaka mengingatkan bahwa hasil pemikiran bisa saja salah, tetapi kesalahan itu bukan karena metode materialisme, melainkan karena bukti yang belum lengkap atau cara berpikir yang keliru dalam mengolahnya.
Artinya, berpikir dari realita jauh lebih jujur daripada percaya tanpa uji. Karena itu, kalau kamu salah dalam materialisme, kamu masih bisa memperbaikinya karena kamu punya dasar untuk menguji ulang. Sebaliknya, kalau kamu salah dalam kepercayaan tanpa uji, kamu bahkan tidak sadar bahwa kamu salah.
Agama: Ketika Keyakinan Tidak Lagi Menyentuh Realita
Dalam konteks materialisme, agama jadi wilayah sensitif. Namun, ini bukan karena agama salah, tapi karena banyak orang menolak mengujinya.
Ketika sebuah keyakinan tidak lagi bersentuhan dengan realita, ia berhenti berkembang. Ia terputus dari dunia nyata. Akibatnya, keyakinan itu berubah jadi ruang tertutup yang hanya diulang, bukan dipahami.
Tan Malaka tidak secara langsung menyerang agama. Ia menyerang cara manusia memperlakukan agama. Ketika manusia menjadikan keyakinan sebagai sesuatu yang final tanpa pembuktian, mereka berhenti berpikir. Mereka tidak lagi melihat apakah keyakinan itu masih relevan dengan realita atau tidak.
Di titik ini, agama berubah dari alat pemahaman menjadi sistem yang hanya dipertahankan.
Tradisi: Realita Lama yang Tidak Pernah Diperiksa Ulang
Banyak orang menganggap tradisi sebagai bukti kebenaran hanya karena ia bertahan lama. Namun dalam perspektif materialisme, umur tidak pernah membuktikan apa pun.
Sesuatu bisa bertahan bukan karena benar, tapi karena tidak pernah diuji. Orang mewariskannya, bukan memverifikasinya. Mereka menjalankannya, bukan menganalisisnya.
Kalau tradisi tidak melalui proses itu, maka ia bukan kebenaran. Ia hanya kebiasaan yang bertahan.
Ini membuat tradisi menjadi zona abu-abu. Ia bisa benar, tapi juga bisa salah. Tanpa pengujian, kamu tidak pernah tahu mana yang mana.
Kebiasaan: Realita Palsu yang Kamu Anggap Nyata
Kebiasaan adalah bentuk paling halus dari sistem yang tidak diuji. Ia bekerja tanpa kamu sadari. Ia membentuk cara kamu berpikir, bereaksi, bahkan menilai sesuatu.
Tan Malaka mengkritik keras pola hafalan yang hanya mengulang tanpa memahami. Ia menyebut bahwa kebiasaan seperti itu membuat manusia menjadi mekanis, seperti mesin yang hanya menjalankan pola tanpa kesadaran.
Kebiasaan menciptakan ilusi realita. Kamu merasa sesuatu benar karena kamu terus melakukannya. Padahal kamu tidak pernah berhenti untuk bertanya.
Ini yang paling berbahaya. Karena kamu tidak merasa ada masalah.
Materialisme vs Kegaiban: Konflik Cara Berpikir
Kegaiban di sini bukan sekadar mistis. Ini adalah cara berpikir yang tidak berangkat dari bukti nyata. Ketika sesuatu diterima tanpa pembuktian, ia masuk ke wilayah ini.
Materialisme hadir sebagai penyeimbang. Ia memaksa manusia kembali ke dasar: apa yang bisa dibuktikan, apa yang bisa dialami, apa yang bisa diuji.
Namun Tan Malaka juga mengingatkan bahwa logika dan materialisme punya batas. Ia tidak ingin manusia terjebak dalam satu ekstrem. Ia ingin keseimbangan antara cara berpikir dan realita.
Kamu Bisa Hidup Tanpa Pernah Benar-Benar Berpikir
Kalau kamu hidup dari warisan tanpa uji, kamu kehilangan kendali atas cara berpikirmu sendiri. Kamu tidak benar-benar memilih, kamu hanya mengikuti.
Akibatnya, hal yang benar bisa kamu tolak hanya karena terasa asing. Sementara itu, hal yang salah justru kamu pertahankan hanya karena sudah lama kamu jalankan.
Materialisme memaksa kamu keluar dari zona nyaman itu. Ia tidak memberi jawaban instan. Ia memberi alat untuk menguji.
Dan alat itu tidak nyaman. Karena ia bisa menghancurkan apa yang selama ini kamu anggap pasti.
Bukan Soal Percaya atau Tidak
Banyak orang salah memahami konflik ini. Mereka mengira ini tentang memilih antara percaya atau tidak percaya. Padahal ini tentang proses.
Tan Malaka tidak melarang kepercayaan. Ia menuntut proses berpikir yang jujur. Ia ingin setiap keyakinan berdiri di atas dasar yang bisa diuji, bukan sekadar diwariskan.
Ini membuat materialisme bukan sekadar teori. Ia menjadi alat untuk membedakan mana realita dan mana warisan.
Ini Bukan Warisan, Tapi Sistem yang Membentuk Cara Kamu Melihat Dunia
Kalau kamu melihat lebih dalam, kamu akan sadar bahwa ini bukan sekadar soal agama, tradisi, atau kebiasaan.
Ini adalah sistem.
Ini sistem yang membentuk cara kamu berpikir sejak awal. Ia menentukan apa yang kamu anggap normal, lalu bekerja diam-diam tanpa kamu sadari.
Materialisme berusaha membongkar sistem itu. Ia memaksa kamu kembali ke dasar: realita.
Dan di titik itu, kamu akan mulai melihat sesuatu yang tidak nyaman.
Bahwa banyak hal yang kamu yakini… mungkin bukan hasil pilihanmu sendiri.
Pertanyaan yang Tidak Bisa Kamu Hindari
Sekarang kamu punya dua pilihan.
Kamu bisa tetap percaya seperti biasa. Atau kamu mulai menguji apa yang kamu percaya.
Karena kalau kamu tidak pernah menguji, kamu tidak sedang mencari kebenaran.
Kamu hanya menjaga sesuatu yang sudah lama ada. @tabooo






