Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jangan Buang Ibu: Dicintai, Tapi Tetap Ditinggalkan

by Tabooo
Juni 4, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Jangan Buang Ibu terasa menyakitkan karena ia tidak menuduh anak-anak sebagai manusia jahat. Film ini justru menunjukkan luka yang lebih akrab dengan kehidupan kita, anak bisa tetap mencintai ibunya, tapi pelan-pelan gagal memberi tempat untuknya.

Tabooo.id – Kesedihan tidak selalu datang dari kematian. Ia juga bisa datang dari orang yang masih hidup, masih bisa dipeluk, masih bisa ditelepon, tapi perlahan tidak lagi punya tempat dalam hidup anak-anaknya.

Di situlah Jangan Buang Ibu terasa menyakitkan. Film ini tidak hanya bicara tentang ibu yang ditinggalkan. Ia bicara tentang keluarga modern yang bisa terlihat berhasil dari luar, tapi rapuh di ruang paling intim: cara mereka memperlakukan orang yang dulu menjaga mereka ketika belum punya apa-apa.

Ristiana, yang diperankan Nirina Zubir, berdiri sebagai pusat luka itu. Ia bukan sekadar ibu dalam melodrama keluarga. Ia adalah wajah dari perempuan yang menghabiskan puluhan tahun untuk memastikan anak-anaknya tumbuh, lalu harus menerima kenyataan bahwa hidup anak-anak itu akhirnya berjalan tanpanya.

Film ini berpusat pada Ristiana, ibu tunggal di ibu kota yang membesarkan tiga anaknya setelah suaminya pergi. Ia mencari nafkah, merawat anak-anak, menahan tekanan ekonomi, dan tetap menjaga rumah agar tidak runtuh. Film tersebut mengisahkan Ristiana yang berjuang membesarkan Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori), hingga mereka tumbuh menjadi orang dewasa mandiri.

Tapi kemandirian anak-anak itu tidak otomatis membuat Ristiana aman.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Justru dari sana, luka baru berawal.

Ibu yang Dulu Jadi Pusat Rumah

Ada masa ketika ibu adalah pusat semua hal.

Ketika rasa takut datang, nama ibu sering jadi panggilan pertama. Begitu tubuh kecil mereka sakit, ibu yang paling dulu kehilangan waktu tidurnya. Bahkan saat anak gagal, ibu masih mencari cara agar dunia tidak terasa terlalu kejam.

Ristiana menjalani peran itu dengan tubuh yang tidak selalu kuat. Ia bukan superhero, tapi hanya perempuan yang tidak punya kemewahan untuk menyerah.

Sayangnya, keluarga sering menganggap pengorbanan seorang ibu sebagai hal biasa.

Ibu selalu ada, sampai anak-anak mengira kehadirannya tidak perlu mereka jaga. Seorang ibu selalu memaafkan, lalu membuat semua orang lupa bahwa ia juga bisa terluka. Selain itu, kebiasaannya menunggu membuat keluarga merasa masih punya banyak waktu.

Padahal waktu bagi seorang ibu tetap selalu berjalan. Ia juga menua.

Anak-Anak Tumbuh, Tapi Tidak Selalu Pulang

Tama, Dewi, dan Tria bukan sekadar tiga anak dalam satu keluarga. Mereka mewakili tiga bentuk pelarian.

Tama membawa dendam lama. Dewi membawa kegelisahan menjelang pernikahan. Tria membawa keputusan praktis yang kelak menghantam ibunya sendiri.

Konflik keluarga mereka memuncak ketika Dewi ingin menghadirkan Ridho (Dwi Sasono), ayahnya, sebagai wali pernikahan.

Tama menolak keras karena luka masa lalu terhadap ayahnya belum selesai. Bahkan, ia ingin menganggap ayah mereka sudah mati.

Sementara itu, Tria terjepit di tengah konflik saudara yang terus membesar.

Di sini, film ini tidak menjual kesedihan murahan. Ia menunjukkan sesuatu yang lebih dekat dengan banyak keluarga, yakni luka yang tidak pernah terbicarakan akan mencari jalan keluar sendiri.

Kadang lewat marah. Bisa lewat diam. Atau muncul sebagai keputusan yang tampak rasional, tapi sebenarnya kejam.

Anak-anak Ristiana mungkin tidak sepenuhnya membenci ibunya. Mereka juga bukan monster yang tanpa hati. Justru itu yang membuat ceritanya lebih menusuk.

Masalahnya bukan anak tidak sayang. Kadang mereka sayang, tapi tetap menelantarkan.

Karier, Pernikahan, dan Ego yang Menggeser Ibu

Keluarga modern punya cara halus untuk menyingkirkan orang tua. Tidak selalu lewat kalimat kasar.

Bisa dengan alasan kesibukan kerja. Pun bisa dengan alasan harus mengurus rumah tangga. Atau sekadar mengatakan “nanti dulu”.

Di kepala anak, semua terdengar masuk akal. Sedangkan, di hati ibu, rasanya tetap seperti pembuangan.

Dalam film ini, tragedi Ristiana mencapai titik paling pilu ketika Tria menitipkannya di panti jompo karena tuntutan karier dan kepindahan tugas yang jauh. Di sana, Ristiana menghadapi kenyataan bahwa anak-anak yang ia besarkan kini tidak lagi hadir di masa tuanya.

Kita bisa berdebat panjang soal panti jompo.

Tidak semua anak yang menitipkan orang tua di panti berarti durhaka. Tidak semua keluarga punya kondisi ideal. Ada orang tua yang butuh perawatan profesional. Ada anak yang benar-benar kehabisan tenaga.

Tapi film produksi Leo Pictures ini sedang menunjuk bagian yang lebih gelap.

Kapan “menitipkan” berubah menjadi “membuang”?

Berawal dari alasan praktis yang terdengar masuk akal. Tapi perlahan, ia bisa berubah menjadi topeng untuk rasa tidak mau repot.

Lalu, kapan anak mulai merasa hidupnya terlalu penting, sampai tentang ibu hanya urusan tambahan?

Pertanyaan itu tidak mengenakkan, karena mungkin banyak orang pernah berada di posisi itu.

Panti Jompo dan Kesunyian yang Tidak Bisa Dibayar

Ada kesepian yang tidak bisa diselesaikan dengan fasilitas.

Tempat tidur bersih tidak selalu menggantikan suara anak. Makanan cukup tidak selalu menghapus rasa ditinggalkan. Perawat yang baik tidak selalu menambal lubang dari keluarga yang absen.

Ristiana melewati hari-hari tuanya di panti dengan keheningan. Ia dirawat oleh sosok pengasuh yang ia sebut sebagai malaikat pelindung, sambil menanti ajal dalam kesunyian.

Bayangkan adegannya.

Televisi menyala. Suara orang lain lewat di lorong. Kursi tua diam di sudut ruangan. Ada ibu yang dulu menjadi pusat rumah, kini menunggu kabar seperti orang asing.

Itu bukan sekadar drama, tapi sebuah cermin.

Dan cermin kadang lebih menyakitkan daripada tuduhan.

Makna Ibu dalam Film Ini Tidak Romantis

Kata “ibu” sering dibuat terlalu romantis.

Kita menyebut Ibu sebagai malaikat, rumah, bahkan surga. Kita mengatakan, bahwa Ibu adalah segalanya.

Tapi setelah semua kata itu itu selesai terucapkan, siapa yang benar-benar duduk mendengarkan ceritanya?

Film Jangan Buang Ibu membuat makna ibu terasa lebih vulgar dan nyata. Ibu bukan sekadar simbol kasih sayang. Ia juga manusia yang bisa kelelahan, menua, kecewa, dan merasa terbuang.

Makna ibu dalam film ini bukan hanya tentang pengorbanan. Lebih jauh, ia tentang ketimpangan emosional dalam keluarga.

Ibu memberi terlalu banyak, dan anak terlalu lama banyak menerima. Lalu ketika giliran merawat tiba, semua orang merasa punya alasan untuk mundur.

Sedikit demi sedikit, bakti berubah sekadar wacana.

Keberhasilan Anak Bisa Menjadi Bentuk Lupa

Orangtua seringkali merayakan keberhasilan anaknya.

Anak punya karier mentereng, punya keluarga yang harmonis. Mereka sudah bisa hidup mandiri.

Tidak ada yang salah dengan itu. Semua itu menjadi kebanggaan orangtua.

Namun film ini mengajukan pertanyaan yang jarang terucapkan, siapa yang paling berkorban agar anak bisa sampai ke sana?

Ristiana menopang anak-anaknya dalam fase paling rapuh. Tapi ketika mereka dewasa, energi mereka tersedot oleh hidup masing-masing. Karier meminta perhatian. Pernikahan membawa konflik baru. Trauma masa lalu menuntut panggung. Ego saudara saling bertabrakan.

Lalu ibu tergeser.

Bukan dalam satu hari. Tapi lewat ribuan pengabaian kecil.

Telepon yang tidak jadi dilakukan. Menunda kunjungan. Kabar yang sekadar formalitas. Rasa bersalah yang muncul sebentar, lalu kalah oleh notifikasi pekerjaan.

Begitulah ibu tidak selalu dibuang secara dramatis. Kadang ia disingkirkan dengan sopan.

Sebelum Semuanya Terlambat

Film ini menyakitkan, karena ia tidak berhenti di layar. Tapi bisa ikut pulang ke rumah.

Mungkin setelah menonton, kamu akan teringat satu pesan ibu yang belum dibalas. Satu panggilan yang kamu abaikan karena sedang capek. Satu kunjungan yang terus kamu tunda karena merasa masih ada waktu.

Dan mungkin kamu memang sayang. Tapi kasih sayang yang tidak pernah hadir bisa terasa sama dinginnya dengan pengabaian.

Di titik ini, Jangan Buang Ibu tidak meminta kamu menjadi anak sempurna. Film ini hanya memaksa kamu bertanya, apakah orang tua masih punya tempat nyata dalam hidupmu, atau hanya tinggal sebagai nama di doa dan caption?

Karena ada hal yang tidak bisa diganti setelah terlambat, yakni suara seorang ibu. Kebiasaannya terlihat tegar dan pura-pura tidak kecewa.

Dan mungkin, satu kalimat sederhana yang sering kita anggap biasa, “Kapan kamu pulang?”

Saat Ibu Tidak Lagi Menjadi Tujuan Pulang

Tragedi terbesar Ristiana bukan hanya saat ia masuk panti jompo, melainkan ketika keberadaannya tidak lagi dianggap mendesak.

Anak-anaknya punya urusan sendiri. Dunia mereka terus bergerak. Hidup mereka penuh alasan.

Sementara Ristiana tinggal di ruang tunggu panjang bernama masa tua. Di sana, kasih sayang berubah menjadi ingatan. Bakti berubah menjadi penyesalan. Keluarga berubah hanya menjadi sesuatu yang pernah hangat.

Film ini tidak sedang menyuruh semua anak merasa bersalah tanpa konteks. Hidup memang rumit. Tidak semua keluarga punya luka yang sama.

Tapi justru karena hidup rumit, kita perlu lebih jujur. Jangan sampai kesibukan kita terlihat seperti perjuangan, padahal bagi ibu terasa seperti pengusiran pelan-pelan.

Jangan sampai ambisi kita disebut masa depan, sementara orang yang membesarkan kita kehilangan tempat di masa kini.

Lebih penting lagi, jangan tunggu ibu menjadi foto di ruang tamu, baru kita mengatakan bahwa keberadaannya begitu penting. @tabooo

Tags: film Indonesia 2026Jangan Buang IbuLeo PicturesTabooo Deep

Kamu Melewatkan Ini

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

by dimas
Juni 5, 2026

Saputra Kori membuktikan dirinya bukan sekadar kreator TikTok. Dari video parodi hingga memerankan Tria dalam film Jangan Buang Ibu, ia...

Refal Hady dan Wajah Anak Sulung yang Memikul Segalanya

Refal Hady dan Wajah Anak Sulung yang Memikul Segalanya

by dimas
Juni 5, 2026

Refal Hady meniti karier dari mahasiswa magang televisi hingga menjadi aktor papan atas. Lewat karakter Tama, ia menghadirkan sosok anak...

Profil Nirina Zubir: Jadi Ibu yang Kesepian dalam Film “Jangan Buang Ibu”

Profil Nirina Zubir: Jadi Ibu yang Kesepian dalam Film “Jangan Buang Ibu”

by dimas
Juni 4, 2026

Profil Nirina Zubir, aktris peraih dua Piala Citra yang memerankan kesepian seorang ibu dalam film keluarga Jangan Buang Ibu. Tabooo.id...

Next Post
Profil Nirina Zubir: Jadi Ibu yang Kesepian dalam Film “Jangan Buang Ibu”

Profil Nirina Zubir: Jadi Ibu yang Kesepian dalam Film "Jangan Buang Ibu"

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id