Profil Nirina Zubir, aktris peraih dua Piala Citra yang memerankan kesepian seorang ibu dalam film keluarga Jangan Buang Ibu.
Tabooo.id – Selama lebih dari dua dekade berkarier di dunia hiburan, Nirina Zubir telah memerankan banyak karakter. Namun dalam film Jangan Buang Ibu, aktris peraih dua Piala Citra itu menemukan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak hanya memerankan seorang ibu.
Ia memerankan kesepian yang sering tidak terlihat.
Bersama Refal Hady dan Saputra Kori, ia menyapa para penonton yang menjadi saksi pertama kisah tentang keluarga, kehilangan, dan kerinduan yang sering datang terlambat.
Namun malam itu, sorotan tidak hanya tertuju pada film yang akan tayang pada 25 Juni 2026 tersebut.
Sorotan juga tertuju pada perjalanan panjang perempuan yang memerankan sosok Ristiana.
Dari Anak Diplomat Menjadi Bintang Layar Lebar
Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu aktris terbaik Indonesia, Nirina Roudhatul Jannah Zubir tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dari dunia hiburan.
Ia lahir di Antananarivo, Madagaskar, pada 12 Maret 1980. Ayahnya, Zubir Amin, merupakan diplomat senior Indonesia asal Pariaman, Sumatera Barat. Sementara sang ibu, Cut Indria Marzuki, berasal dari Aceh.
Latar belakang keluarga itu sebenarnya membuka jalan bagi Nirina untuk mengikuti jejak sang ayah di dunia diplomasi.
Namun ia memilih jalan yang berbeda.
Panggung hiburan menjadi pilihannya.
Kariernya bermula sebagai penyiar Radio Prambors sebelum kemudian dikenal luas sebagai VJ MTV Indonesia. Pada awal 2000-an, wajah imut, energi spontan, dan gaya bicara ceplas-ceplos membuatnya menjadi salah satu ikon generasi muda saat itu.
Dari studio radio dan layar MTV, Nirina melangkah ke dunia film.
Saat berusia 23 tahun, ia memulai debut akting melalui film 30 Hari Mencari Cinta yang dirilis pada 2003. Dalam film tersebut, ia memerankan Gwen, karakter yang dianggap banyak orang tidak jauh berbeda dari kepribadiannya sendiri polos, ekspresif, dan blak-blakan.
Film itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya di dunia seni peran.
Perjalanan Panjang Menuju Piala Citra
Kesuksesan film pertamanya membuka banyak pintu bagi Nirina.
Ia kemudian membintangi sejumlah film populer seperti Mirror, Belahan Jiwa, Heart, Get Married, Love is Cinta, Hafalan Shalat Delisa, hingga Keluarga Cemara.
Kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter membuatnya terus bertahan di industri yang sangat kompetitif.
Tidak hanya di layar lebar, Nirina juga pernah tampil dalam video klip musisi ternama seperti Sheila On 7, Letto, dan Nidji. Di layar televisi, publik mengenalnya sebagai presenter berbagai program, mulai dari Indonesia Morning Show, Rising Star Indonesia, hingga The Next Boy/Girl Band.
Perjalanan panjang itu mengantarkannya meraih berbagai penghargaan bergengsi.
Namanya beberapa kali masuk nominasi ajang perfilman nasional dan berhasil membawa pulang dua Piala Citra Festival Film Indonesia. Prestasi tersebut menempatkannya sebagai salah satu aktris perempuan paling konsisten di generasinya.
Namun di balik berbagai penghargaan itu, karakter Ristiana dalam Jangan Buang Ibu menghadirkan tantangan yang berbeda.
Bukan karena kompleksitas akting semata.
Melainkan karena karakter tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupannya sendiri.
Ketika Seorang Ibu Menanggung Segalanya Sendirian
Dalam film produksi Leo Pictures tersebut, Nirina memerankan Ristiana, seorang ibu tunggal yang membesarkan tiga anaknya Tama, Dewi, dan Tria setelah kehilangan suami.
Kepergian sang suami tidak hanya meninggalkan duka.
Ia juga meninggalkan utang dan tekanan hidup yang memaksa Ristiana menjadi tulang punggung keluarga sekaligus tempat seluruh anak-anaknya bergantung.
Di tengah perjuangan itu, hubungan keluarga mereka perlahan berubah.
Anak-anak tumbuh dewasa.
Kesibukan datang silih berganti.
Komunikasi mulai berkurang.
Kehangatan yang dulu terasa dekat perlahan menjauh.
Konflik itulah yang membuat karakter Ristiana terasa nyata bagi banyak penonton.
“Ibu Juga Bisa Merasa Sepi”
Nirina berbagi cerita dalam wawancara eksklusif bersama Tim Tabooo Network Indonesia.
Menurutnya, pesan terbesar film ini bukan sekadar tentang pengorbanan seorang ibu.
Film ini berbicara tentang kesepian yang sering tidak disadari oleh anak-anak.
“Sebagai ibu, kadang kita juga merasa sepi. Anak-anak sudah punya dunia sendiri. Karena itu saya ingin mengajak para ibu untuk tidak gengsi menyampaikan rasa rindu kepada anak-anaknya. Kalau kangen, bilang saja kangen,” ujar Nirina.
Pernyataan itu menyentuh banyak penonton yang hadir.
Di tengah budaya yang sering menempatkan ibu sebagai sosok yang harus selalu kuat, banyak perempuan memilih memendam kerinduannya sendiri.
Nirina justru mengajak para ibu untuk berani mengungkapkan perasaan.
Baginya, hubungan keluarga tidak bisa bertahan hanya dengan asumsi bahwa setiap orang sudah saling memahami.
Komunikasi harus terus dijaga.
“Daripada saling diam, lebih baik dikomunikasikan. Dari situ biasanya solusi muncul,” katanya.
Ketika Aktris dan Ibu Bertemu dalam Satu Karakter
Karakter Ristiana terasa begitu personal bagi Nirina.
Sejak menikah dengan gitaris band Cokelat, Ernest Fardiyan Syarif, pada April 2009, ia juga menjalani peran sebagai ibu bagi dua anaknya, Zivara Ruciragati Syarif dan Elzo Jaydn Anvaya.
Karena itu, saat memerankan Ristiana, Nirina tidak hanya mengandalkan kemampuan akting.
Ia juga membawa pengalaman dan perasaannya sebagai seorang ibu.
Mungkin itulah yang membuat pesan yang ia sampaikan di Solo terasa begitu kuat.
Ketika berbicara tentang kesepian seorang ibu, Nirina tidak sekadar berbicara sebagai aktris.
Ia berbicara sebagai seorang perempuan yang memahami bahwa anak-anak akan tumbuh, memiliki kehidupan sendiri, dan suatu hari meninggalkan rumah untuk mengejar masa depan mereka.
Menggema dari Solo
Di Solo, film ini menemukan ruang yang tepat untuk menyampaikan pesannya.
Refal Hady yang memerankan Tama menyebut film tersebut sebagai refleksi bagi dirinya sendiri. Menurutnya, orang tua sering kali tidak membutuhkan uang sebanyak yang dibayangkan anak-anak. Mereka lebih membutuhkan kehadiran.
Sementara Saputra Kori mengingatkan bahwa waktu bersama orang tua tidak bisa diulang ketika kesempatan itu hilang.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang turut hadir dalam gala premiere juga menilai film tersebut mengajarkan pentingnya komunikasi dan kepedulian dalam keluarga. Ia sekaligus mendorong para sineas muda untuk terus melahirkan karya kreatif yang menginspirasi masyarakat.
Namun di atas semua itu, pesan yang paling membekas malam itu datang dari sosok Nirina Zubir.
Bahwa seorang ibu pun bisa merasa kesepian.
Dan sering kali, yang mereka tunggu bukan hadiah atau uang.
Mereka hanya menunggu kabar.
Menunggu pelukan.
Menunggu anak-anaknya pulang.
Karena pada akhirnya, kehilangan orang tua tidak selalu dimulai saat mereka pergi.
Sering kali, kehilangan itu mulai tumbuh ketika kita berhenti menyediakan waktu untuk mereka. @dimas







