Mengapa Tan Malaka kembali dirindukan? Kisah pejuang revolusioner yang melawan Belanda, PKI, dan pemerintah demi prinsip serta keadilan rakyat.
Tabooo.id – Nama Tan Malaka kembali muncul di tengah percakapan publik. Kutipannya beredar di media sosial. Bukunya kembali dicari. Diskusi tentang dirinya bermunculan di berbagai ruang digital. Di saat banyak tokoh sejarah hanya sesekali muncul dalam peringatan resmi, Tan Malaka justru hidup kembali melalui kegelisahan generasi yang bahkan lahir puluhan tahun setelah kematiannya.
Fenomena itu tentu menarik. Tan Malaka bukan tokoh yang mudah dipahami. Ia tidak memiliki warisan kekuasaan. Ia tidak meninggalkan dinasti politik. Negara juga tidak selalu menempatkannya di panggung utama sejarah Indonesia. Namun semakin banyak orang justru merasa dekat dengan sosok ini.
Barangkali alasannya bukan karena Tan Malaka menawarkan jawaban. Banyak orang justru melihat dirinya sebagai simbol perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan. Ketika publik mulai lelah melihat politik yang penuh kompromi dan kekuasaan yang sering menjauh dari rakyat, nama Tan Malaka kembali terdengar relevan.
Seorang Revolusioner yang Selalu Berjalan Sendirian
Sejarah Indonesia mengenal banyak tokoh besar. Sebagian memiliki organisasi kuat, sebagian memiliki jaringan politik luas dan sebagian lain berhasil mengubah pengaruh menjadi kekuasaan.
Tan Malaka berbeda.
Sepanjang hidupnya, ia lebih sering berjalan sendirian daripada berbaris bersama kelompok besar. Setiap kali melihat sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya, ia memilih berbicara. Bahkan ketika kritik itu berisiko membuatnya kehilangan teman, organisasi, atau keselamatan dirinya sendiri.
Sikap itulah yang membuat hidupnya penuh benturan.
Kolonial Belanda menganggapnya ancaman. Sebagian tokoh PKI melihatnya sebagai pembangkang. Pemerintah Republik Indonesia kemudian memandangnya sebagai pengganggu stabilitas politik.
Hanya sedikit tokoh yang pernah berkonflik dengan begitu banyak pihak sekaligus.
Namun Tan Malaka tidak pernah terlihat tertarik mencari kenyamanan.
Ketika Tan Malaka Berseberangan dengan PKI
Banyak orang mengenal Tan Malaka sebagai salah satu pelopor gerakan komunis Indonesia. Penyebutan itu tidak sepenuhnya keliru. Pada awal abad ke-20, ia memang berperan besar dalam perkembangan gerakan kiri anti-kolonial.
Namun hubungan itu tidak berlangsung selamanya.
Perbedaan mulai muncul ketika sebagian pimpinan PKI semakin dekat dengan Komintern yang berpusat di Moskow. Tan Malaka memandang arah tersebut dengan penuh kehati-hatian. Menurutnya, perjuangan kemerdekaan Indonesia harus lahir dari kebutuhan rakyat Indonesia sendiri, bukan menjadi cabang dari proyek revolusi internasional.
Pandangan itu semakin terlihat jelas menjelang pemberontakan PKI tahun 1926.
Saat banyak tokoh partai mendorong aksi bersenjata melawan Belanda, Tan Malaka mengambil posisi berbeda. Ia menilai kondisi saat itu belum memungkinkan. Organisasi masih lemah. Kekuatan rakyat belum terbangun secara merata. Sementara mesin kolonial masih terlalu kuat.
Karena itulah ia menolak rencana tersebut.
Keputusan itu memicu kemarahan banyak kader. Sebagian menilai Tan Malaka terlalu hati-hati. Sebagian lain bahkan mempertanyakan loyalitasnya.
Sejarah kemudian menunjukkan bahwa kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Pemberontakan gagal. Ribuan orang ditangkap. Banyak kader dibuang ke Boven Digoel. PKI mengalami pukulan besar yang dampaknya terasa selama bertahun-tahun.
Sejak saat itu, jarak antara Tan Malaka dan PKI semakin lebar.
Ironisnya, salah satu pendiri gerakan itu justru tersingkir dari lingkaran yang pernah ia bantu bangun.
Sosialis yang Tidak Memusuhi Islam
Perbedaan Tan Malaka dengan PKI tidak berhenti pada strategi revolusi.
Ada persoalan yang lebih mendasar.
Tan Malaka memahami bahwa Indonesia berbeda dengan Rusia atau Eropa. Mayoritas rakyat Indonesia hidup dalam tradisi Islam yang kuat. Karena itu, ia tidak melihat agama sebagai musuh yang harus disingkirkan dari perjuangan sosial.
Sebaliknya, ia memandang Islam sebagai bagian penting dari realitas rakyat.
Pandangan tersebut membuatnya semakin berbeda dari sebagian tokoh komunis pada zamannya. Saat banyak aktivis kiri melihat agama sebagai hambatan revolusi, Tan Malaka justru berusaha mencari titik temu antara gagasan sosialisme dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Di sinilah sosoknya menjadi sulit dikategorikan.
Ia seorang sosialis, tetapi tidak mengikuti seluruh doktrin Soviet. Ia seorang revolusioner, tetapi menolak tindakan yang menurutnya gegabah. Ia juga seorang nasionalis yang tidak segan mengkritik tokoh nasionalis lainnya.
Karena itu, Tan Malaka tidak pernah benar-benar menjadi milik satu kelompok.
Benturan dengan Republik yang Ia Perjuangkan
Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 tidak mengakhiri konflik dalam hidup Tan Malaka.
Musuh yang ia hadapi berubah.
Jika sebelumnya ia berhadapan dengan kolonialisme Belanda, kali ini ia berdebat dengan pemerintah Republik Indonesia sendiri.
Ketika Soekarno dan Hatta memilih jalur diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan, Tan Malaka menilai langkah tersebut terlalu lunak. Ia percaya bahwa Belanda masih berusaha mengembalikan kekuasaannya melalui meja perundingan.
Keyakinan itu mendorongnya membentuk Persatuan Perjuangan.
Melalui organisasi tersebut, ia menyerukan kemerdekaan seratus persen tanpa kompromi. Gagasan itu menarik banyak simpati, tetapi sekaligus membuat pemerintah khawatir.
Ketegangan politik pun meningkat.
Alih-alih merangkulnya, pemerintah memilih menangkap Tan Malaka. Ia harus mendekam di penjara yang dikelola republik yang ikut ia perjuangkan.
Situasi itu menghadirkan ironi besar dalam sejarah Indonesia.
Seorang pejuang kemerdekaan kehilangan kebebasannya bukan di tangan penjajah, melainkan di bawah pemerintahan bangsanya sendiri.
Akhir Tragis Seorang Pejuang
Setelah keluar dari penjara, Tan Malaka tidak mengubah pendiriannya. Ia tetap bergerak, ia tetap berbicara, ia tetap mengkritik hal-hal yang menurutnya menyimpang dari cita-cita kemerdekaan.
Perjalanan itu berakhir tragis.
Pada Februari 1949, pasukan Indonesia menangkap Tan Malaka di Jawa Timur. Tidak lama kemudian, peluru mengakhiri hidupnya.
Ia meninggal jauh dari sorotan publik.
Tidak ada penghormatan kenegaraan, tidak ada upacara besar dan tidak ada panggung yang mengabadikan jasa-jasanya saat itu.
Sejarah justru membiarkan namanya menghilang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya muncul kembali.
Mengapa Tan Malaka Terasa Relevan Hari Ini?
Pertanyaan inilah yang membuat namanya terus hidup.
Banyak orang tidak membaca Tan Malaka karena ingin menjadi komunis. Banyak pula yang tidak selalu setuju dengan seluruh gagasannya.
Yang mereka lihat adalah keberanian.
Di tengah zaman yang penuh kalkulasi politik, Tan Malaka terlihat sebagai tokoh yang menolak menukar prinsip dengan kenyamanan. Saat banyak orang menyesuaikan sikap demi bertahan dalam lingkaran kekuasaan, ia justru berkali-kali memilih jalan yang membuat hidupnya semakin sulit.
Ia kehilangan jabatan, ia kehilangan kebebasan dan ia kehilangan dukungan banyak kelompok.
Pada akhirnya, ia bahkan kehilangan nyawanya.
Namun ia tidak kehilangan keyakinannya.
Di situlah letak daya tarik Tan Malaka bagi banyak orang hari ini.
Ini Bukan Sekadar Tentang Tan Malaka
Kerinduan terhadap Tan Malaka sesungguhnya bukan hanya kerinduan terhadap seorang tokoh sejarah. Kerinduan itu mencerminkan keresahan yang lebih besar. Banyak orang merasa semakin sulit menemukan figur publik yang berani mempertahankan prinsip ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Tan Malaka menjadi simbol dari sesuatu yang kini terasa langka: keberanian untuk berbeda, keberanian untuk mengkritik kawan sendiri, dan keberanian untuk mempertahankan keyakinan meski harus membayar harga yang mahal.
Karena itulah namanya terus kembali.
Bukan karena semua orang sepakat dengannya.
Bukan pula karena seluruh gagasannya dianggap benar.
Nama Tan Malaka terus hidup karena ia mewakili satu pertanyaan yang selalu relevan dalam setiap zaman:
Ketika kekuasaan meminta kompromi, berapa banyak orang yang masih berani berkata tidak? @dimas







