Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tan Malaka Tolak Renville: Ini Isi Sambutan Murba 1948

by Tabooo
April 20, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Tan Malaka menolak Perjanjian Renville. Tapi ini bukan sekadar penolakan politik biasa. Dalam Sambutan Murba 1948, ia justru membongkar sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana diplomasi bisa berubah jadi jalan kehilangan negara. Pertanyaannya sekarang, apakah ini cuma sejarah atau pola yang terus berulang?
Tan Malaka Tolak Renville: Ini Isi Sambutan Murba 1948

Tabooo.id: Vibes – Sambutan Murba 1948 bukan sekadar pidato politik. Ini lebih mirip alarm keras, tentang arah republik yang, menurut Tan Malaka, mulai melenceng dari cita-cita kemerdekaan.

Dokumen Sambutan Murba – Tan Malaka (1948), berisikan tulisan yang tajam, emosional, dan tanpa kompromi. Ia tidak hanya mengkritik Belanda. Bahkan, ia juga mengkritik cara Indonesia sendiri bertahan.

Dunia Tidak Netral, Semuanya Punya Kepentingan

Tan Malaka membuka dengan gambaran global yang keras.

Ia menulis:

“Lebih kurang 20 dari anggota UNO terdiri dari para wakilnya negara Kapitalis.”

“Hampir semua dari wakil-wakil itu ialah tuan atau kaki tangan imperialisme Amerika.”

Menurutnya, dunia internasional bukan ruang netral.

Ini Belum Selesai

Menjaga Mata Air, Merawat Tradisi Dawetan Umbul Kroman, Klaten

Kisah Jenderal Hoegeng: Integritas di Tengah Godaan Kekuasaan

Bahkan ketika negara sosialis mencoba menahan, hasilnya tetap timpang:

“Sosialis Rusia dengan kawan-kawannya selalu saja kalah suara oleh kapitalis-imperialis Amerika dan kaki tangannya.”

Artinya jelas, Indonesia masuk ke arena yang sejak awal tidak adil.

KTN: Penengah atau Penyokong Belanda?

Tan Malaka lalu menyorot Komisi Tiga Negara (KTN).

Di atas kertas, mereka mediator. Tapi di lapangan, ia melihat hal lain:

“Dalam prakteknya wakil tiga negara itu… kadang-kadang sebagai sahabat, sering sebagai penipu dan acapkali sebagai penggertak, tetapi senantiasa sebagai penyokong Belanda.”

Ia bahkan membaca motif ekonomi di baliknya:

“Tetapi matanya selalu ditujukan kepada minyak, karet dan timah Indonesia.”

Yang terlihat sebagai diplomasi damai, menurutnya, punya agenda tersembunyi.

Inferiority Complex: Luka dari Dalam

Bagian paling pedas justru diarahkan ke Indonesia sendiri.

Tan Malaka menulis:

“Mereka mempunyai inferiority complex (rasa kurang) yang amat mendalam terhadap diplomat berkulit putih.”

Akibatnya, elite politik menjadi terlalu patuh:

“Mereka taati kata diplomat asing itu seperti murid Indonesia… mentaati gurunya Belanda!”

Namun yang lebih ironis, sikap ini berubah saat menghadapi rakyat:

“Terhadap bangsa sendirilah mereka menumpahkan superiority complex (rasa lebihnya).”

Ini bukan sekadar kritik.

Ini tuduhan langsung.

Dari 100% ke 1%: Narasi Kehilangan

Tan Malaka kemudian menggambarkan dampak nyata diplomasi.

Ia menyebut hasil perjanjian:

“Republik Indonesia pada tahun 1947 mendapat Linggarjati, tetapi kehilangan Maluku, Sulawesi, Sunda Kecil dan Borneo.”

Lalu berlanjut:

“Pada permulaan tahun 1948 ini… mendapatkan Renville-Principles, tetapi kehilangan Jawa Barat, Jawa Timur, Madura…”

Kesimpulannya brutal:

“Republik Indonesia… sesudah berdiplomasi 2 tahun, kehilangan daerah kurang lebih 99%.”

Bukan kalah perang.

Tapi kalah arah.

Program Pemerintah yang Dipertanyakan

Ia lalu membedah program pemerintah satu per satu.

Tentang Renville:

“Menyelenggarakan Renville… berarti membenarkan semua negara boneka dan pecah belahnya Republik Indonesia.”

Terkait negara federal:

“Melaksanakan terbentuknya NIS berarti mengembalikan Indonesia Merdeka 100% kepada penjajahan 100%.”

Masalah rasionalisasi tentara:

“Melucuti para prajurit yang sudah berjasa… dan menggiring mereka… dijadikan kuli.”

Tentang pembangunan:

“Membangunkan kembali kapitalisme asing yang akan memeras dan menindas kaum buruh Indonesia.”

Semua yang terlihat sebagai “program negara” justru ia anggap sebagai ancaman.

Sambutan Murba: Seruan, Bukan Sekadar Kritik

Di bagian akhir, Tan Malaka tidak lagi sekadar mengkritik.

Ia mengajak.

“Tolak dan batalkan Renville dan hentikan perundingan…”

“Tolak dan batalkan pembentukan NIS…”

“Bangunkan ekonomi perang atas dasar koperasi rakyat…”

Dan puncaknya:

“Murba bangkit; Murba berpikir; Murba bergerak…”

Ini bukan lagi tulisan.

Ini seruan mobilisasi.

Bukan Sekadar Sejarah

Kalau kamu baca ini hari ini, rasanya tidak jauh.

Tentang kekuatan global, elite yang ragu, dan rakyat yang selalu jadi taruhan.

Dan mungkin, tentang pola yang belum selesai. @tabooo

Tags: Diplomasi IndonesiaNasionalismePolitik IndonesiaSejarah IndonesiaTabooo VibesTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Keadilan dan Kejujuran

Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Keadilan dan Kejujuran

by dimas
Oktober 30, 2026

Sumpah Pemuda dan Sumpah Mahasiswa mengingatkan pentingnya persatuan yang berpihak pada keadilan, bebas dari penindasan, serta menjunjung kejujuran di tengah...

Sumpah Pemuda: Sejarah Persatuan yang Melampaui Perbedaan

Sumpah Pemuda: Sejarah Persatuan yang Melampaui Perbedaan

by dimas
Oktober 27, 2026

Sumpah Pemuda menjadi tonggak persatuan bangsa. Dari perbedaan identitas, para pemuda pada 1928 merajut satu tanah air, satu bangsa, dan...

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

by teguh
Oktober 19, 2026

Diplomasi sering dimulai dari sebuah jabat tangan. Dua tokoh bertemu yaitu, Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang kamera merekam, lalu pernyataan...

Next Post
Kisah Icha Ungkap Realita Emansipasi Saat Ini

Kisah Icha Ungkap Realita Emansipasi Saat Ini

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id