Sungai Musi bukan hanya membelah Kota Palembang. Jauh sebelum jalan raya, pelabuhan modern, dan gedung-gedung berdiri, sungai ini telah menjadi urat nadi perdagangan, melahirkan Sriwijaya, sekaligus membentuk kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dari arus yang sama, tumbuh sebuah peradaban yang jejaknya masih mengalir hingga hari ini.
Tabooo.id – Air Sungai Musi tak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak, membawa lumpur dari Bukit Barisan menuju Selat Bangka. Namun selama lebih dari seribu tahun, yang hanyut bukan hanya air. Sungai ini juga mengangkut manusia, bahasa, agama, emas, rempah-rempah, ikan, hingga resep-resep yang kelak menjelma menjadi identitas Palembang. Jauh sebelum dunia mengenal pempek sebagai ikon kuliner, sungai ini lebih dahulu menyediakan kehidupan yang memungkinkan makanan itu lahir.
Sebagian orang mengenal Musi hanya sebagai sungai terbesar di Sumatera Selatan. Sebagian lain mengingatnya lewat Jembatan Ampera yang membelah langit Kota Palembang. Tetapi jauh sebelum beton, baja, dan kendaraan memenuhi tepian sungai, Musi telah menjadi jalan raya paling sibuk di Nusantara. Di atas airnya, kerajaan tumbuh. Di dasar lumpurnya, sejarah terkubur.
Ironisnya, semakin modern kota berkembang, semakin sedikit orang yang benar-benar mengenal sungai yang selama berabad-abad memberi mereka kehidupan.
Padahal Musi bukan sekadar bentang alam. Ia adalah arsip hidup yang belum selesai dibaca.
Sungai yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Panjang Sungai Musi mencapai sekitar 720 kilometer. Alirannya bermula dari Pegunungan Bukit Barisan sebelum berakhir di Selat Bangka. Sepanjang perjalanan itu, Musi menghubungkan pegunungan, hutan tropis, rawa, dataran rendah, hingga laut.
Namun masyarakat Sumatera Selatan tidak pernah memandang Musi sebagai sungai tunggal.
Mereka menyebutnya Batanghari Sembilan.
Julukan itu menggambarkan sebuah sistem kehidupan yang terdiri atas Sungai Musi beserta delapan sungai besar lain yang bermuara kepadanya, yakni Komering, Ogan, Lematang, Rawas, Lakitan, Kelingi, Semangus atau Rupit, dan Batanghari Leko. Selama berabad-abad, sembilan sungai tersebut menjadi jalur utama mobilitas manusia. Ketika jalan darat belum dikenal, air telah lebih dahulu menghubungkan pedalaman Sumatra dengan dunia luar.
Musi tidak hanya menghubungkan pelabuhan dan kerajaan. Sungai ini juga membentuk kebiasaan hidup masyarakatnya. Airnya menyediakan ikan air tawar dalam jumlah melimpah, sementara jalur perdagangannya membawa sagu, garam, gula aren, hingga berbagai rempah dari berbagai wilayah. Pertemuan antara kekayaan alam dan aktivitas perdagangan itu perlahan melahirkan budaya makan yang khas. Di antara berbagai warisan tersebut, pempek menjadi simbol paling terkenal, seolah mengingatkan bahwa sejarah besar kadang tidak hanya bertahan di dalam prasasti, tetapi juga hidup di atas piring makan masyarakatnya.
Nama yang Datang dari Dua Dunia
Menariknya, nama “Musi” sendiri menyimpan cerita yang melampaui batas Nusantara.
Sejumlah kajian etimologi menunjukkan bahwa nama tersebut kemungkinan lahir dari pertemuan dua peradaban besar Asia.
Versi pertama berasal dari para pelaut Tiongkok kuno. Mereka menyebut kawasan ini Mu Ci, yang secara harfiah dapat dimaknai sebagai “dewi ayam betina”. Dalam kebudayaan mereka, ayam betina bukan sekadar hewan ternak, melainkan lambang kesuburan dan sumber rezeki yang terus menghasilkan.
Bagi para pelaut yang berlayar ribuan kilometer, kawasan ini memang tampak seperti negeri yang tak pernah berhenti memberi kekayaan.
Sementara itu, para saudagar India mengenalnya sebagai Maha Sona, atau Sungai Emas.
Sebutan itu bukan hiperbola.
Sedimen Sungai Musi sejak lama dikenal mengandung emas aluvial. Selain menjadi jalur perdagangan, kawasan ini juga menjadi pintu masuk menuju Suwarnadwipa—Pulau Emas—sebutan kuno bagi Sumatra dalam berbagai naskah India.
Dua nama yang lahir dari dua kebudayaan berbeda ternyata mengarah pada kesimpulan yang sama. Musi adalah tempat yang menjanjikan kemakmuran. Sebelum kerajaan-kerajaan Nusantara tumbuh besar, dunia sudah lebih dulu mengenal sungai ini.
Ketika Air Menjadi Jalan Menuju Kekuasaan
Banyak kerajaan lahir di tepi sungai. Namun Sriwijaya berbeda. Kerajaan maritim terbesar Asia Tenggara itu tidak hanya berdiri di dekat Musi. Ia tumbuh karena memahami cara membaca sungai.
Arus air menjadi jalur logistik.
Pasang surut menjadi kalender perdagangan.
Muara menjadi pelabuhan.
Sementara percabangan sungai berubah menjadi benteng alami yang sulit ditembus musuh.
Tidak mengherankan apabila jejak paling penting mengenai kelahiran Sriwijaya ditemukan di tepian salah satu anak Sungai Musi. Pada 29 November 1920, sebuah batu bertulis ditemukan di kawasan Kedukan Bukit, Palembang.
Prasasti itu kemudian dikenal sebagai Prasasti Kedukan Bukit, bertarikh 604 Saka atau 682 Masehi. Para ahli menganggapnya sebagai salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Indonesia karena merekam lahirnya Kedatuan Sriwijaya. Namun isi prasasti itu jauh lebih menarik daripada sekadar penanggalan.
Ia menceritakan sebuah perjalanan besar. Bukan perjalanan seorang pedagang. Bukan pula kisah seorang peziarah.
Melainkan ekspedisi seorang pemimpin bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang memimpin ribuan orang menyusuri sungai untuk membangun pusat kekuasaan baru.
Arus yang Mengubah Sejarah
Air Musi menjadi jalan menuju lahirnya salah satu kerajaan maritim paling berpengaruh di dunia.
Prasasti Kedukan Bukit memang mencatat nama Dapunta Hyang dan perjalanan besarnya. Namun prasasti itu juga menyimpan satu pesan yang sering terlewat: Sriwijaya tidak lahir karena kebetulan.
Kerajaan itu tumbuh karena mampu membaca apa yang selama ini hanya dianggap sebagai aliran air. Musi bukan sekadar latar sejarah, melainkan alasan mengapa sejarah itu pernah terjadi. @anisa







