Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

by dimas
Juli 26, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
El Nino ekstrem diperkirakan menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir. Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan, kekeringan, kebakaran hutan, dan berkurangnya ketersediaan air bersih akibat perubahan iklim.

Tabooo.id – Kemarau tahun ini bukan lagi sekadar pergantian musim. Di balik langit yang semakin jarang menurunkan hujan, para ilmuwan memperingatkan ancaman yang jauh lebih besar. El Nino mulai berkembang sejak pertengahan 2026. Sejumlah lembaga iklim dunia memperkirakan fenomena ini akan menjadi salah satu yang terkuat dalam sedikitnya 150 tahun terakhir.

Jika prediksi tersebut terbukti, Indonesia tidak hanya menghadapi cuaca yang lebih panas. Negara ini juga harus bersiap menghadapi tekanan terhadap ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, kesehatan masyarakat, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Selama puluhan tahun, emisi gas rumah kaca terus memanaskan Bumi. Kini El Nino memperkuat dampaknya. Para peneliti memperkirakan suhu rata-rata global dapat mencapai 1,7 derajat Celsius di atas era praindustri pada 2027. Angka itu melampaui target 1,5 derajat Celsius yang tercantum dalam Perjanjian Paris.

Bagi Indonesia, ancaman tersebut bukan lagi sekadar proyeksi ilmiah. Dampaknya mulai terlihat dan berpotensi meluas apabila pemerintah serta masyarakat tidak meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

BMKG Minta Daerah Tingkatkan Kesiapsiagaan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengingatkan meningkatnya potensi kekeringan meteorologis di berbagai wilayah Indonesia. Curah hujan yang menurun akan mengurangi debit sungai. Kondisi tersebut juga mengganggu musim tanam, mengurangi pasokan air baku, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua.

Ini Belum Selesai

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Banjir Lahar Dingin Semeru Jebol Tanggul, Akses Jalan Lumajang Terputus

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang.

“Kita harus mengantisipasi potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta dampaknya terhadap sektor pangan dan sumber daya air,” ujar Dwikorita.

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa El Nino tidak lagi menjadi isu akademik semata. Fenomena ini telah berkembang menjadi ancaman yang dapat memengaruhi kehidupan jutaan masyarakat Indonesia.

Ketika petani kehilangan pasokan air, produksi pangan akan menurun. Akibatnya, harga bahan pokok berpotensi naik. Pada saat yang sama, kebakaran hutan dapat memperburuk kualitas udara. Kondisi itu juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.

El Niño Bertemu Perubahan Iklim

Para ilmuwan menjelaskan bahwa El Nino merupakan bagian dari siklus alami El Nino Southern Oscillation (ENSO). Dalam kondisi normal, angin pasat membawa udara lembap ke Indonesia sehingga hujan lebih mudah terbentuk.

Ketika El Nino muncul, angin tersebut melemah. Air laut hangat bergerak ke Samudra Pasifik bagian timur. Indonesia pun kehilangan pasokan uap air yang selama ini membentuk hujan. Akibatnya, musim kemarau berlangsung lebih panjang, lebih panas, dan lebih kering.

Namun, perubahan iklim memperbesar dampak tersebut.

Profesor Michael Mann, ilmuwan iklim dari University of Pennsylvania, menjelaskan bahwa El Nino saat ini berkembang ketika suhu Bumi sudah jauh lebih tinggi akibat aktivitas manusia.

“El Nino menambahkan panas alami di atas pemanasan global yang sudah terjadi, sehingga peluang terciptanya rekor suhu baru menjadi jauh lebih besar,” kata Mann.

Menurut Mann, perubahan iklim tidak menciptakan El Nino. Namun, perubahan iklim membuat dampaknya jauh lebih ekstrem.

Laut selama puluhan tahun menyerap sebagian besar panas akibat emisi karbon. Ketika El Niño berkembang, laut melepaskan kembali energi tersebut ke atmosfer. Proses ini menaikkan suhu udara, memicu gelombang panas, mempercepat pemutihan terumbu karang, merusak ekosistem laut, dan mengurangi kemampuan laut menyerap karbon dioksida.

WMO Peringatkan Rekor Suhu Global

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) memperingatkan bahwa dunia memiliki peluang besar mencatat rekor suhu baru apabila El Niño terus menguat.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan kenaikan suhu global akan meningkatkan frekuensi sekaligus intensitas cuaca ekstrem.

“Setiap kenaikan kecil suhu global akan meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada masyarakat,” ujar Saulo.

Sementara itu, lembaga riset Berkeley Earth memperkirakan suhu rata-rata global mencapai sekitar 1,7 derajat Celsius di atas tingkat praindustri pada 2027. Kondisi tersebut berpotensi menjadikan tahun 2027 sebagai salah satu periode terpanas dalam sejarah pengamatan modern.

Indonesia Belum Mengalami Dampak Terburuk

Sejumlah negara telah merasakan dampak gabungan antara El Nino dan perubahan iklim. Eropa menghadapi gelombang panas ekstrem. Amerika Serikat dan Kanada bergulat dengan kebakaran hutan berskala besar. Sementara itu, sejumlah negara di Asia mencatat suhu tertinggi dalam sejarah pengamatan modern.

Indonesia memang belum mengalami kondisi seekstrem kawasan tersebut. Namun, sejumlah indikator menunjukkan arah yang sama. Musim kemarau semakin kering. Ancaman kebakaran hutan meningkat. Tekanan terhadap sumber daya air juga mulai muncul di berbagai daerah.

Kondisi tersebut menuntut pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memperkuat langkah mitigasi sebelum dampaknya berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Ancaman Serius bagi Ketahanan Nasional

El Nino tidak hanya mengubah pola cuaca. Fenomena ini juga mengancam stabilitas ekonomi nasional.

Produksi pertanian dapat menurun ketika kekeringan meluas. Pasokan pangan ikut berkurang. Harga bahan pokok kemudian berpotensi meningkat. Pemerintah juga harus menyiapkan anggaran yang lebih besar untuk menangani kebakaran hutan, menyediakan air bersih, dan memperkuat layanan kesehatan.

Kelompok berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan. Mereka menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perikanan, dan sumber daya alam. Ketika panen gagal atau hasil tangkapan menurun, pendapatan mereka ikut menyusut. Pada saat yang sama, biaya hidup justru meningkat akibat kenaikan harga pangan.

Sejumlah ahli menilai biaya adaptasi terhadap perubahan iklim jauh lebih kecil dibandingkan kerugian ekonomi yang akan muncul apabila pemerintah terlambat mengambil langkah mitigasi.

Saatnya Memperkuat Kesiapsiagaan Nasional

El Nino tahun ini bukan sekadar musim kemarau yang lebih panjang. Fenomena ini menjadi peringatan bahwa perubahan iklim telah memperbesar setiap risiko yang sebelumnya banyak orang anggap sebagai siklus alam biasa.

Indonesia tidak cukup hanya bereaksi ketika bencana terjadi. Pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini, menjaga ketahanan pangan, melindungi sumber daya air, memperketat pencegahan kebakaran hutan, dan mempercepat kebijakan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan hidup selama musim kemarau. Indonesia sedang menghadapi ujian besar terhadap ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, stabilitas ekonomi, dan masa depan jutaan warganya. El Nino memang merupakan fenomena alam. Namun, besarnya dampak yang muncul akan sangat bergantung pada kesiapan bangsa dalam mengantisipasi krisis yang kini semakin nyata. @dimas

Tags: El NinoKetahanan PanganKrisis AirKrisis IklimPerubahan Iklim

Kamu Melewatkan Ini

Topan Champi Terjang Taiwan, 527 Orang Luka dan Dua WNI Terdampak

Topan Champi Terjang Taiwan, 527 Orang Luka dan Dua WNI Terdampak

by dimas
Oktober 25, 2026

Topan Champi menerjang Taiwan dengan angin hingga 227 km/jam, menewaskan satu orang, melukai ratusan warga, dan menyebabkan dua WNI mengalami...

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

by teguh
September 26, 2026

Pemalang kering tiga bulan tanpa kepastian air mengubah kemarau menjadi persoalan sehari-hari bagi ribuan keluarga di Pemalang, Jawa Tengah. Tabooo.id...

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

by teguh
September 26, 2026

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang masih berlansung dan air bersih yang biasanya tinggal membuka keran kini berubah menjadi barang yang...

Next Post
APBN Menyusut, Masa Depan Infrastruktur Dipertaruhkan

APBN Menyusut, Masa Depan Infrastruktur Dipertaruhkan

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id