Di tengah cuaca panas yang makin ekstrem akibat fenomena El Nino, satu pertanyaan besar muncul: jika suhu yang terus naik mampu mempercepat penyebaran penyakit, seberapa siap kita menghadapi lonjakan demam berdarah yang diam-diam mengintai? Ketika alam tak bisa dikendalikan, apakah sistem kesehatan kita benar-benar cukup sigap melindungi masyarakat?
Tabooo.id: Health – Fenomena El Nino, terutama yang ekstrem hingga dijuluki “Godzilla”, kini tidak lagi sekadar soal panas dan kekeringan. Fenomena ini langsung mendorong peningkatan risiko demam berdarah dengue (DBD) di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Cuaca memang terasa lebih terik, tapi ancaman sebenarnya bergerak lebih cepat: penyebaran penyakit yang makin sulit dikendalikan.
Fenomena ini memperbesar risiko penularan dengue secara nyata. Suhu tinggi mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sekaligus mempercepat perkembangan virus di dalam tubuhnya. Akibatnya, nyamuk menjadi lebih agresif dan lebih sering menggigit manusia.
“Lingkungan panas membuat nyamuk lebih aktif dan frekuensi gigitan meningkat,” tulis temuan ilmiah dalam jurnal Nature pada September 2025.
Suhu Naik, Siklus Nyamuk Makin Cepat
Kondisi panas mendorong nyamuk berkembang biak lebih cepat. Siklus hidup yang biasanya berlangsung lebih lama kini berlangsung dalam waktu lebih singkat.
Selain itu, suhu tinggi juga mempercepat masa inkubasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Dengan kondisi ini, nyamuk lebih cepat membawa dan menyebarkan virus ke manusia.
Penelitian global di 57 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa sekitar 63 persen variasi kasus dengue berkaitan dengan fenomena El Nino, khususnya di wilayah endemik.
Data global memperlihatkan lonjakan kasus yang signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan dari 0,5 juta kasus pada tahun 2000 menjadi 5,2 juta kasus pada 2019. Pada 2024, jumlah kasus melonjak hingga 14,1 juta dengan sekitar 9.000 kematian.
El Nino Picu Lonjakan Kasus DBD
Sejarah menunjukkan pola yang konsisten. Setiap El Nino besar selalu diikuti peningkatan kasus dengue.
Pada periode:
- 1982-1983 kasus meningkat sekitar 0,2 juta
- 1997-1998 kasus meningkat 1,4 juta
- 2015-2016 kasus meningkat 4,1 juta
- 2023-2024 kasus melonjak hingga 9,6 juta
Para peneliti memprediksi peningkatan kasus dengue global sebesar 39 hingga 81,7 persen pada periode 2020–2029 akibat El Nino.
Penelitian lain dalam jurnal Environmental Research juga menunjukkan korelasi positif antara El Nino dan peningkatan kasus dengue di berbagai wilayah.
Empat Strategi Indonesia Hadapi Ancaman
Pemerintah Indonesia menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue 2026–2029 untuk merespons ancaman ini.
Strategi tersebut meliputi:
- Meningkatkan deteksi dini agar tenaga kesehatan bisa menangani kasus lebih cepat
- Memperkuat layanan klinis dan sistem rujukan untuk menekan angka kematian
- Mengembangkan pencegahan terintegrasi melalui pengendalian nyamuk, teknologi Wolbachia, vaksinasi, dan edukasi publik
- Memperkuat sistem surveilans dan peringatan dini agar respons terhadap wabah lebih cepat
Pendekatan ini menegaskan bahwa penanganan dengue membutuhkan kerja terpadu. Pengendalian lingkungan, pengurangan populasi nyamuk, dan perlindungan manusia harus berjalan bersamaan.
Pencegahan Dimulai dari Kebiasaan Harian
WHO mendorong masyarakat untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk. Gunakan pakaian tertutup, pasang kelambu, dan gunakan obat antinyamuk berbahan DEET atau picaridin.
Masyarakat juga perlu menjalankan program 3M secara konsisten: menguras, menutup, dan mengubur. Lingkungan yang bersih dapat menekan perkembangbiakan nyamuk secara signifikan.
Jika seseorang terinfeksi dengue, ia perlu beristirahat cukup dan memperbanyak cairan. Untuk meredakan demam, ia bisa mengonsumsi parasetamol. Hindari penggunaan ibuprofen dan aspirin karena berisiko memperparah kondisi.
Alarm Bahaya yang Tak Terlihat
Banyak orang masih menganggap El Nino hanya sebagai fenomena panas dan kekeringan. Padahal, fenomena ini memicu ancaman kesehatan yang lebih luas dan serius.
DBD tetap menjadi masalah besar di Indonesia. Ketika El Nino datang dengan intensitas lebih kuat, risiko wabah ikut meningkat.
Kita memang tidak bisa menghentikan fenomena alam. Tapi kita bisa mempercepat respons dan memperkuat kesiapan.
Jangan tunggu sampai kasus melonjak. Saat nyamuk bergerak lebih cepat, kita harus bergerak lebih cepat. @dimas





