Tabooo.id: Nasional – Kebakaran lahan gambut mulai muncul bahkan sebelum puncak musim kemarau 2026 tiba. Kondisi ini langsung memicu alarm bahaya, karena Indonesia berpotensi menghadapi cuaca lebih panas dan kering akibat El Nino.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan El Nino bisa berkembang pada semester kedua 2026. Meski tergolong lemah hingga moderat, dampaknya tetap signifikan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan risiko ini dalam rapat koordinasi mitigasi kemarau panjang. Ia mengingatkan bahwa kombinasi kemarau dan El Nino sering memicu lonjakan kebakaran.
“Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau terjadi bersamaan dengan fase aktif El Nino,” tegasnya.
Ribuan Titik Panas Sudah Mengepung Gambut
Pantau Gambut mencatat 23.546 titik panas sejak awal tahun. Angka ini muncul bahkan sebelum kemarau mencapai puncaknya.
Sebagian besar titik panas terkonsentrasi di area fungsi ekosistem gambut lindung. Wilayah ini menyimpan lapisan gambut dalam yang menghasilkan emisi karbon lebih besar saat terbakar.
Riau mencatat jumlah tertinggi dengan 8.930 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 8.842 titik. Data ini menunjukkan bahwa wilayah dengan gambut luas menjadi pusat kerawanan kebakaran.
Masalahnya, titik api juga muncul di area berizin. Pantau Gambut menemukan 6.192 titik di kawasan HGU dan 1.334 titik di wilayah IUPHHK.
Temuan ini memperlihatkan celah serius antara aturan dan praktik di lapangan.
Putra Saptian dari Pantau Gambut menegaskan pentingnya pengawasan ketat.
“Pengawasan restorasi berbasis KHG harus diperkuat agar pemulihan benar-benar menyentuh dampak ekologis,” katanya.
Teknologi Satelit Ungkap Kebakaran Lebih Detail
Peneliti dari The TreeMap, David Gaveau, mengembangkan sistem pemetaan berbasis satelit Sentinel-2. Teknologi ini mampu mendeteksi area terbakar hingga resolusi 20 meter.
Sistem tersebut menangkap kebakaran kecil yang sering luput dari pemantauan global.
Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 5,62 juta hektar wilayah pernah terdampak kebakaran. Dari jumlah itu, sekitar 4,04 juta hektar mengalami kebakaran aktif.
Kalimantan, Sumatera, dan Nusa Tenggara menjadi wilayah dengan konsentrasi kebakaran tertinggi. Enam provinsi bahkan menyumbang 68 persen dari total area terbakar nasional.
El Nino Perkuat Risiko Kebakaran
Data historis menunjukkan pola yang konsisten. Aktivitas kebakaran meningkat saat El Nino dan Indian Ocean Dipole berada dalam fase positif.
Pada 2019 dan 2023, kebakaran melonjak tajam mulai Juli dan mencapai puncak pada September hingga Oktober.
Sebaliknya, periode 2020 hingga 2022 menunjukkan penurunan kebakaran karena kondisi iklim lebih basah.
Temuan ini menegaskan bahwa faktor iklim memainkan peran besar dalam memperparah kebakaran hutan dan lahan.
Saatnya Bertindak Sebelum Terlambat
Kondisi saat ini menunjukkan satu hal jelas: kebakaran tidak lagi menunggu puncak kemarau. Api sudah muncul lebih cepat, sementara pengawasan belum maksimal.
Pemerintah perlu mempercepat pembentukan regulasi terpadu, termasuk RUU Perlindungan Ekosistem Gambut berbasis KHG. Integrasi tata ruang, perizinan, dan penegakan hukum harus berjalan serentak.
Jika tidak, kebakaran akan terus berulang setiap tahun dengan dampak yang semakin besar.
Lalu pertanyaannya: saat tanda bahaya sudah muncul lebih awal, apakah kita masih akan bergerak terlambat? @dimas





