Tjokroaminoto memadukan Islam dan sosialisme sebagai jalan menuju keadilan sosial. Gagasan yang lahir seabad lalu itu masih relevan untuk Indonesia hari ini.
Tabooo.id – Suatu sore di Yogyakarta pada pertengahan 1920-an, sebuah ruang kursus dipenuhi anak-anak muda yang datang dengan rasa penasaran. Mereka duduk rapat sambil menunggu seorang tokoh yang namanya sudah lebih dulu beredar dari mulut ke mulut. Ketika sosok itu akhirnya masuk dan mulai berbicara, suasana langsung berubah. Percakapan berhenti. Ruangan menjadi tenang.
Di antara para peserta itu ada seorang pemuda Minangkabau bernama Abdul Malik Karim Amrullah.
Kelak Indonesia mengenalnya sebagai Buya Hamka.
Dalam kenangannya, Hamka menceritakan bagaimana para peserta kursus terpikat oleh cara sang guru menjelaskan hubungan antara Islam, masyarakat, dan keadilan. Sosok yang berdiri di depan mereka adalah H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam yang kelak dikenang sebagai salah satu guru bangsa. Hamka bahkan mengaku merasa seperti sedang bermimpi karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan orang yang selama ini memengaruhi jalan pikirannya.
Namun ada satu bagian dari pelajaran Tjokroaminoto yang mungkin membuat sebagian orang Indonesia hari ini terkejut.
Ia berbicara tentang sosialisme.
Bahkan lebih jauh, ia tidak serta-merta mencela Karl Marx dan Friedrich Engels. Menurut Hamka, Tjokroaminoto justru mengapresiasi keduanya karena teori mereka membantu menjelaskan aspek sosial dalam ajaran Islam.
Jika kalimat seperti itu muncul hari ini, media sosial mungkin langsung gaduh. Potongan video bisa beredar tanpa konteks. Sebagian orang mungkin buru-buru menghakimi sebelum mendengar penjelasan utuhnya.
Padahal Tjokroaminoto sedang mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana:
Bagaimana cara membangun masyarakat yang adil?
Ketika Sebuah Kata Menjadi Momok
Di Indonesia modern, kata “sosialisme” sering memicu reaksi yang lebih cepat daripada diskusi.
Banyak orang langsung menghubungkannya dengan komunisme, konflik ideologi, atau trauma politik masa lalu. Akibatnya, ruang dialog menyempit. Label bekerja lebih cepat daripada rasa ingin tahu.
Padahal, persoalan yang dulu melahirkan gagasan sosialisme belum benar-benar hilang.
Kesenjangan ekonomi masih terlihat di banyak tempat. Sebagian kecil kelompok menguasai kekayaan dalam jumlah besar, sementara jutaan orang terus berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Harga tanah naik. Biaya pendidikan meningkat. Kesempatan ekonomi tidak selalu terbuka secara merata.
Dalam situasi seperti itu, istilah “keadilan sosial” tetap terdengar indah dalam pidato dan slogan. Namun suasana sering berubah tegang ketika pembicaraan mulai menyentuh distribusi kekayaan, hak buruh, atau ketimpangan kelas.
Seolah-olah masyarakat boleh membahas gejalanya, tetapi enggan membicarakan akar persoalannya.
Di sinilah Tjokroaminoto mengambil jalan yang berbeda.
Alih-alih menolak sosialisme karena berasal dari Barat, ia memilih mempelajarinya terlebih dahulu. Ia menelaah gagasannya, mengkritik bagian yang tidak sesuai, lalu mengambil nilai yang menurutnya bermanfaat. Dari proses itulah lahir konsep yang ia sebut sebagai sosialisme berdasarkan Islam.
Sosialisme yang Berakar pada Ketuhanan
Bagi Tjokroaminoto, sosialisme bukan sekadar teori ekonomi atau alat perebutan kekuasaan.
Ia memahaminya sebagai semangat persaudaraan, tanggung jawab bersama, dan kehidupan sosial yang menempatkan kepentingan masyarakat di atas ego individu. Dalam pandangannya, manusia tidak hidup sendirian. Setiap orang memikul tanggung jawab moral terhadap sesamanya.
Pandangan itu sebenarnya terasa dekat dengan banyak nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia.
Gotong royong.
Tolong-menolong.
Solidaritas.
Kepedulian terhadap tetangga.
Semua nilai itu tumbuh jauh sebelum istilah sosialisme populer di Nusantara.
Namun Tjokroaminoto menambahkan satu fondasi yang menurutnya sangat penting: ketuhanan.
Ia percaya bahwa keadilan sosial tidak cukup berdiri di atas kepentingan materi. Manusia membutuhkan tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi. Karena itu, menurutnya, sosialisme hanya bisa mencapai bentuk terbaiknya ketika manusia menyadari hubungannya dengan Tuhan.
Pandangan inilah yang membuatnya berbeda dari Marx.
Tjokroaminoto mengagumi beberapa analisis Marx tentang ketimpangan sosial. Akan tetapi, ia menolak gagasan yang menganggap agama sebagai candu masyarakat. Ia juga tidak menerima pandangan materialisme yang menempatkan benda sebagai pusat segala sesuatu. Dalam keyakinannya, kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.
Karena itu, ia tidak memilih salah satu kubu secara membabi buta.
Ia memilih membangun jembatan.
Mengapa Kita Sulit Berdialog?
Pertanyaannya, apakah jembatan seperti itu masih mungkin dibangun hari ini?
Atau kita sudah terlalu nyaman hidup dalam dunia yang serba hitam dan putih?
Media sosial sering mendorong orang untuk memilih posisi ekstrem. Setiap isu berubah menjadi pertarungan dua kubu. Setiap perdebatan seolah harus melahirkan pemenang dan pecundang. Ruang abu-abu dianggap kelemahan.
Padahal sejarah jarang bergerak sesederhana itu.
Banyak tokoh besar justru lahir karena keberanian mereka menolak cara berpikir yang sempit. Tjokroaminoto termasuk salah satunya.
Ia mampu menjadi seorang muslim yang taat sekaligus mempelajari pemikiran Barat. Ia mengkritik kapitalisme kolonial tanpa kehilangan identitas keagamaannya. Ia berdialog dengan gagasan yang berbeda tanpa merasa keyakinannya terancam.
Kemampuan seperti itu terasa semakin langka hari ini.
Masyarakat modern sering lebih tertarik mencari siapa yang salah daripada memahami apa yang sebenarnya terjadi. Perdebatan berubah menjadi pertandingan identitas. Argumen kalah oleh emosi. Label mengalahkan penjelasan.
Padahal sebuah gagasan tidak otomatis berbahaya hanya karena datang dari pihak yang berbeda.
Yang jauh lebih berbahaya adalah hilangnya kemampuan berpikir kritis terhadap semua gagasan, termasuk gagasan yang kita sukai sendiri.
Warisan yang Jarang Dibicarakan
Hari ini banyak orang mengenang Tjokroaminoto sebagai guru para pendiri bangsa. Sejarah mencatat rumahnya pernah menjadi tempat belajar sejumlah tokoh besar Indonesia. Orang juga mengingat pidato-pidatonya yang membakar semangat perlawanan terhadap kolonialisme.
Namun ada satu warisan penting yang jarang mendapat perhatian.
Warisan keberanian intelektual.
Keberanian untuk membaca sebelum menghakimi, keberanian untuk mendengar sebelum memusuhi, keberanian untuk menerima bahwa kebenaran tidak selalu datang dari kelompok yang kita sukai.
Warisan itu terasa relevan di tengah zaman yang semakin gaduh oleh polarisasi.
Banyak orang berlomba berbicara. Hanya sedikit yang mau memahami.
Banyak orang cepat marah. Tidak banyak yang bersedia mendengar.
Banyak orang ingin menang dalam perdebatan. Lebih sedikit lagi yang sungguh-sungguh ingin menemukan kebenaran.
Bukan Soal Sosialisme Semata
Pada akhirnya, pertanyaan yang ditinggalkan Tjokroaminoto bukan semata-mata tentang sosialisme.
Pertanyaannya jauh lebih mendalam dan lebih mengganggu.
Mengapa kita sering takut pada sebuah istilah, tetapi tidak takut pada ketidakadilan yang nyata di depan mata?
Mengapa kita begitu sibuk memperdebatkan label, sementara persoalan yang melahirkan label itu terus hidup di sekitar kita?
Dan mengapa, hampir satu abad setelah Tjokroaminoto berbicara tentang keadilan sosial, kesenjangan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar bangsa ini?
Mungkin karena membahas sebuah ide jauh lebih mudah daripada memperbaiki kenyataan.
Mungkin juga karena label memberi rasa aman, sementara pemikiran kritis menuntut keberanian.
Di situlah pemikiran Tjokroaminoto tetap terasa hidup hingga hari ini.
Ini bukan sekadar kisah tentang seorang guru dan muridnya. Ini kisah tentang keberanian berpikir di tengah zaman yang lebih suka menghakimi daripada memahami.
Dan mungkin, justru keberanian itulah yang paling langka di Indonesia saat ini. @dimas







