Tabooo.id: Global – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mulai menekan gas di sektor pendidikan. Dalam kunjungan kerjanya ke Inggris, Prabowo menjajaki kerja sama dengan sejumlah universitas papan atas yang tergabung dalam Russell Group, klub elite kampus riset Inggris yang isinya bukan kaleng-kaleng Oxford, Cambridge, LSE, hingga Imperial College London.
Di London, Prabowo blak-blakan. Sejumlah kampus Russell Group, kata dia, sebenarnya sudah lebih dulu “menjejak” Indonesia lewat kerja sama dengan universitas besar seperti UI dan UGM, bahkan ada yang membuka aktivitas akademik di Singosari dan Bandung. Pemerintah mengarahkan kerja sama ini langsung ke sektor digital, teknologi, dan bidang strategis yang selama ini masih jadi pekerjaan rumah Indonesia.
“Jadi kita ingin mempercepat, kita ingin mengejar,” ujar Prabowo. Targetnya ambisius tapi lugas pendidikan Indonesia harus sejajar dengan yang terbaik di dunia.
Kampus Asing Masuk, Standar Naik?
Russell Group dikenal sebagai tulang punggung riset nasional Inggris. Dari 24 universitas anggotanya, sebagian besar menjadi rujukan global dalam sains, teknologi, kebijakan publik, hingga kedokteran. Pemerintah Indonesia melihat ini sebagai jalan pintas untuk mengejar ketertinggalan, terutama di sektor teknologi tinggi dan medis.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan, salah satu opsi yang dijajaki adalah pembukaan kampus langsung di Indonesia. Artinya, bukan cuma pertukaran dosen atau riset, tapi kehadiran fisik institusi asing di tanah air.
Bagi mahasiswa dan dunia akademik, ini bisa jadi angin segar. Akses ke kurikulum kelas dunia tanpa harus ke luar negeri jelas menguntungkan. Industri ikut menikmati dampaknya: tenaga kerja menjadi lebih siap, riset semakin tajam, dan inovasi melaju lebih cepat.
Tapi Tak Semua Tersenyum
Namun, di balik ambisi besar itu, ada pihak yang perlu waspada. Perguruan tinggi lokal kelas menengah dan kecil bisa tertekan jika tak segera berbenah. Persaingan dosen, mahasiswa unggulan, hingga pendanaan riset bisa makin ketat. Belum lagi soal biaya pendidikan apakah kampus asing ini akan membuka akses luas, atau sengaja mematok harga tinggi agar hanya segelintir orang yang bisa masuk?
Pemerintah meraup keuntungan politik karena agenda peningkatan kualitas SDM kini tampil di panggung global. Inggris pun jelas tak rugi ekspansi pendidikan adalah bisnis sekaligus diplomasi lunak.
Pendidikan Dikebut, PR Tak Boleh Dilupakan
Kerja sama internasional memang penting, tapi tantangan lama tetap ada pemerataan akses, kualitas guru, dan kesiapan regulasi. Kampus kelas dunia tak otomatis melahirkan SDM kelas dunia jika fondasi di dalam negeri masih timpang.
Indonesia tampaknya sedang berlari mengejar ketertinggalan. Pertanyaannya sederhana tapi menohok kita sedang menyiapkan lompatan besar, atau hanya menambah gedung megah tanpa memperbaiki lantai dasarnya? (red)




