Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

by Tabooo
Maret 22, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Siang di Gang Poppies terasa biasa saja. Turis lalu-lalang, motor parkir, musik samar dari bar yang belum sepenuhnya hidup. Tapi di satu titik, ada kalimat yang menolak untuk jadi “biasa”, “KUTA NOT CRIME.”

Tulisan itu tidak dicetak rapi, tidak juga disetujui siapa pun, tapi justru itu yang membuatnya terasa penting. Tulisan seperti ini tidak muncul tanpa alasan.

Ketika Sebuah Tempat Mulai Diadili

Dalam beberapa tahun terakhir, Kuta, terutama area seperti Gang Poppies, tidak lagi hanya dilihat sebagai destinasi.

Ia juga jadi bahan pembicaraan. Tentang kriminalitas, tentang turis bermasalah, tentang aktivitas ekonomi malam yang dianggap “abu-abu”. Narasi itu pelan-pelan membentuk stigma.

“Sekarang orang sering ngomong Kuta kayak tempat bermasalah,” ujar Raka (nama samaran), salah seorang pekerja bar di Gang Poppies. “Padahal… gak semua yang di sini kayak gitu,” imbuhnya.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Ia berhenti sebentar, lalu menunjuk ke arah tembok itu, “Makanya ada yang nulis itu.”

“Kuta Not Crime” Sebagai Reaksi

Tulisan itu bukan kampanye, bukan juga proyek seni resmi. Mungkin lebih tepat disebut… reaksi spontan.

Ketika sebuah tempat terus diberi label, akan selalu ada yang mencoba melawan—meski dengan cara sederhana.

“Kadang kita ngerasa dihakimi,” kata Raka. “Kayak semua orang di sini sama aja,” keluhnya.

Padahal menurutnya, kenyataan yang ada jauh lebih kompleks. Ada yang kerja jujur, ada yang bertahan hidup, namun tak sedikit pula yang terjebak sistem. Tapi di mata luar, semuanya sering disamaratakan.

Stigma yang Menular ke Orang

Ayu (nama samaran), pernah bekerja di salah satu spa di sekitar Poppies, mengaku pernah merasakan dampaknya langsung.

“Kadang tamu datang udah curiga duluan,” kata Ayu. “Padahal kita cuma kerja biasa,” tambahnya.

Ia menarik napas pelan.

“Cap itu bukan cuma ke tempat. Tapi ke orang-orangnya juga,” terangnya lebih lanjut.

Di titik ini, tulisan di tembok itu berubah makna. Ia bukan lagi soal Kuta, melainkan soal manusia yang hidup di dalamnya.

Kenapa Harus di Tembok?

Karena tidak semua orang punya akses ke media. Tidak semua suara dianggap penting. Tembok pun jadi alternatif. Murah, mudah terlihat, dan tidak butuh izin.

“Kalau ngomong langsung, siapa yang denger?” kata Raka. “Kalau ditulis di situ, semua orang lewat bisa baca,” tegasnya.

Graffiti, dalam konteks ini, bukan sekadar ekspresi, tapi strategi. Sebuah cara sederhana untuk masuk ke ruang publik, tanpa harus diundang.

Gang Poppies: Ruang Kecil, Tekanan Besar

Gang Poppies mungkin hanya lorong sempit di peta wisata Bali. Tapi di dalamnya, banyak hal terjadi bersamaan. Perputaran ekonomi cepat, interaksi lintas budaya, relasi kerja yang tidak selalu setara.

Semua itu menciptakan tekanan yang tidak selalu terlihat. Dan ketika tekanan tidak punya saluran, ia akan keluar dengan cara yang paling mungkin. Salah satunya cat di tembok.

Yang Tidak Pernah Masuk Konten Liburan

Kuta sering dilihat dari sudut yang menyenangkan, pantai, party, kebebasan. Jarang dari sudut yang melelahkan, seperti jam kerja panjang, penghasilan yang tidak pasti, dan stigma yang terus menempel.

“Kita bukan gak tahu sisi gelapnya,” kata Ayu. “Tapi bukan berarti semuanya gelap,” ucapnya lirih.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menjelaskan kenapa tulisan itu ada.

Setiap stigma butuh lawan, dan ketika tidak ada ruang untuk membantah, perlawanan pun akan muncul di tempat yang tidak terduga. Seperti Graffiti di tembok.

“KUTA NOT CRIME.”

Kalimat itu mungkin kecil, mungkin seringkali hanya dilewati, atau mungkin dianggap tidak penting. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah satu-satunya cara untuk berkata:

“Jangan nilai kami dari cerita yang kamu dengar, tapi dari realita yang kamu belum lihat.”

Dan mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi, “kenapa tulisan itu ada?” melainkan “kenapa sampai harus ada?” @tabooo

Tags: baliDeepKuta

Kamu Melewatkan Ini

Pertalite Langka, Antrean SPBU Mengular di Bali dan Malang

Pertalite Langka, Antrean SPBU Mengular di Bali dan Malang

by dimas
Oktober 15, 2026

Kelangkaan Pertalite di Bali dan Malang memicu antrean panjang di SPBU. Pertamina menyebut keterlambatan bongkar muat kapal dan lonjakan permintaan...

Aksara Bali Kembali ke Jalanan: Antara Identitas, Aturan, dan Modernitas

Aksara Bali Kembali ke Jalanan: Antara Identitas, Aturan, dan Modernitas

by teguh
September 26, 2026

Bali punya banyak cara untuk memperkenalkan dirinya. Pura, gamelan, upacara adat, kain tradisional, hingga lanskap desa menjadi bagian dari identitas...

Gubernur Bali Deadline: Semua Papan Nama Wajib Pakai Aksara Bali Sebelum April 2027

Gubernur Bali Deadline: Semua Papan Nama Wajib Pakai Aksara Bali Sebelum April 2027

by teguh
September 26, 2026

Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Namun, setelah aturan penggunaan Aksara Bali berjalan sejak 2018, masih banyak papan nama usaha,...

Next Post
SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id