Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

by Tabooo
Maret 22, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Siang di Gang Poppies terasa biasa saja. Turis lalu-lalang, motor parkir, musik samar dari bar yang belum sepenuhnya hidup. Tapi di satu titik, ada kalimat yang menolak untuk jadi “biasa”, “KUTA NOT CRIME.”

Tulisan itu tidak dicetak rapi, tidak juga disetujui siapa pun, tapi justru itu yang membuatnya terasa penting. Tulisan seperti ini tidak muncul tanpa alasan.

Ketika Sebuah Tempat Mulai Diadili

Dalam beberapa tahun terakhir, Kuta, terutama area seperti Gang Poppies, tidak lagi hanya dilihat sebagai destinasi.

Ia juga jadi bahan pembicaraan. Tentang kriminalitas, tentang turis bermasalah, tentang aktivitas ekonomi malam yang dianggap “abu-abu”. Narasi itu pelan-pelan membentuk stigma.

“Sekarang orang sering ngomong Kuta kayak tempat bermasalah,” ujar Raka (nama samaran), salah seorang pekerja bar di Gang Poppies. “Padahal… gak semua yang di sini kayak gitu,” imbuhnya.

Ini Belum Selesai

Di Balik ‘Shadow Organization’ Chromebook Nadim Makarim

Adrenalin: Mesin Kreativitas di Era Tekanan

Ia berhenti sebentar, lalu menunjuk ke arah tembok itu, “Makanya ada yang nulis itu.”

“Kuta Not Crime” Sebagai Reaksi

Tulisan itu bukan kampanye, bukan juga proyek seni resmi. Mungkin lebih tepat disebut… reaksi spontan.

Ketika sebuah tempat terus diberi label, akan selalu ada yang mencoba melawan—meski dengan cara sederhana.

“Kadang kita ngerasa dihakimi,” kata Raka. “Kayak semua orang di sini sama aja,” keluhnya.

Padahal menurutnya, kenyataan yang ada jauh lebih kompleks. Ada yang kerja jujur, ada yang bertahan hidup, namun tak sedikit pula yang terjebak sistem. Tapi di mata luar, semuanya sering disamaratakan.

Stigma yang Menular ke Orang

Ayu (nama samaran), pernah bekerja di salah satu spa di sekitar Poppies, mengaku pernah merasakan dampaknya langsung.

“Kadang tamu datang udah curiga duluan,” kata Ayu. “Padahal kita cuma kerja biasa,” tambahnya.

Ia menarik napas pelan.

“Cap itu bukan cuma ke tempat. Tapi ke orang-orangnya juga,” terangnya lebih lanjut.

Di titik ini, tulisan di tembok itu berubah makna. Ia bukan lagi soal Kuta, melainkan soal manusia yang hidup di dalamnya.

Kenapa Harus di Tembok?

Karena tidak semua orang punya akses ke media. Tidak semua suara dianggap penting. Tembok pun jadi alternatif. Murah, mudah terlihat, dan tidak butuh izin.

“Kalau ngomong langsung, siapa yang denger?” kata Raka. “Kalau ditulis di situ, semua orang lewat bisa baca,” tegasnya.

Graffiti, dalam konteks ini, bukan sekadar ekspresi, tapi strategi. Sebuah cara sederhana untuk masuk ke ruang publik, tanpa harus diundang.

Gang Poppies: Ruang Kecil, Tekanan Besar

Gang Poppies mungkin hanya lorong sempit di peta wisata Bali. Tapi di dalamnya, banyak hal terjadi bersamaan. Perputaran ekonomi cepat, interaksi lintas budaya, relasi kerja yang tidak selalu setara.

Semua itu menciptakan tekanan yang tidak selalu terlihat. Dan ketika tekanan tidak punya saluran, ia akan keluar dengan cara yang paling mungkin. Salah satunya cat di tembok.

Yang Tidak Pernah Masuk Konten Liburan

Kuta sering dilihat dari sudut yang menyenangkan, pantai, party, kebebasan. Jarang dari sudut yang melelahkan, seperti jam kerja panjang, penghasilan yang tidak pasti, dan stigma yang terus menempel.

“Kita bukan gak tahu sisi gelapnya,” kata Ayu. “Tapi bukan berarti semuanya gelap,” ucapnya lirih.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menjelaskan kenapa tulisan itu ada.

Setiap stigma butuh lawan, dan ketika tidak ada ruang untuk membantah, perlawanan pun akan muncul di tempat yang tidak terduga. Seperti Graffiti di tembok.

“KUTA NOT CRIME.”

Kalimat itu mungkin kecil, mungkin seringkali hanya dilewati, atau mungkin dianggap tidak penting. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah satu-satunya cara untuk berkata:

“Jangan nilai kami dari cerita yang kamu dengar, tapi dari realita yang kamu belum lihat.”

Dan mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi, “kenapa tulisan itu ada?” melainkan “kenapa sampai harus ada?” @tabooo

Tags: baliDeepKuta

Kamu Melewatkan Ini

Bali Tidak Kotor, Kita yang Menunda Masalah Sampai Jadi Gunung

Gunung Sampah di Bali: Surga Wisata yang Diam-Diam Tenggelam oleh Limbah?

by dimas
Mei 5, 2026

Sampah Bali kini tak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan sinyal krisis pengelolaan destinasi wisata. Lonjakan volume limbah dari rumah...

Ayah ini Arahnya Kemana ya? Ketika anak perempuan yang kehilangan sosok jiwa sang ayah

Ayah ini Arahnya Kemana ya? Ketika anak perempuan yang kehilangan sosok jiwa sang ayah

by jeje
April 23, 2026

Banyak film keluarga memilih cara mudah, menghilangkan sosok ayah untuk menciptakan tragedi. Film ini justru melakukan sebaliknya. Ia mempertahankan ayah...

Bali Macet Parah, Taksi Air Jadi Harapan Baru atau Sekadar Wacana Mahal?

Bali Macet Parah, Taksi Air Jadi Harapan Baru atau Sekadar Wacana Mahal?

by dimas
April 20, 2026

Di tengah wacana pembangunan taksi air sebagai solusi mengurai kemacetan di Bali yang kian parah, satu pertanyaan besar muncul: jika...

Next Post
SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id