Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

by dimas
Maret 22, 2026
in Bisnis, Reality
A A
Home Reality Bisnis
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Bisnis – Harga Bitcoin turun ke kisaran US$70.000 setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) memberi sinyal kebijakan moneter yang tetap ketat. Pasar langsung merespons arah kebijakan tersebut dengan aksi ambil untung dan penyesuaian portofolio.

Bank sentral AS menahan suku bunga di level 3,50%-3,75% dan menaikkan proyeksi inflasi menjadi sekitar 2,7%. Ketua Jerome Powell menegaskan bahwa penurunan suku bunga masih bergantung pada perkembangan inflasi. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi bahwa likuiditas global belum akan longgar dalam waktu dekat.

Dari Reli ke Koreksi Cepat

Sebelum tekanan muncul, Bitcoin sempat menguat mendekati US$76.000. Arus dana institusional ke ETF Bitcoin spot mendorong optimisme pasar, dengan total aliran dana mencapai lebih dari US$1,16 miliar dalam sepekan.

Namun, arah berubah cepat setelah hasil FOMC dirilis. Investor langsung menyesuaikan strategi, memicu koreksi harga sekitar 7-8%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar kripto tetap sangat sensitif terhadap kebijakan makroekonomi, terutama arah suku bunga Amerika Serikat.

Likuiditas Menyempit, Risiko Meningkat

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pasar sedang mencerna ekspektasi baru. Ia melihat sikap hawkish The Fed membuat aliran dana ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Ketika inflasi belum turun sesuai harapan, bank sentral cenderung menahan kebijakan ketat lebih lama. Kondisi ini mempersempit ruang bagi investor untuk mengambil risiko tinggi. Dampaknya terasa langsung di pasar kripto yang bergantung pada likuiditas global.

Level Kritis Jadi Penentu Arah

Saat ini, Bitcoin bergerak di kisaran US$70.000-US$72.000. Level ini menjadi titik krusial yang terus dipantau investor. Selama harga bertahan di zona tersebut, pasar masih memiliki peluang stabil dalam jangka pendek.

Namun, jika tekanan jual menembus batas bawah, koreksi bisa berlanjut ke level yang lebih dalam. Di sisi lain, arus dana institusional masih menjadi penopang yang membantu menahan penurunan lebih tajam.

Investor Ritel Paling Rentan

Di tengah dinamika ini, investor ritel menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka menghadapi volatilitas tinggi tanpa selalu memiliki akses informasi dan strategi yang memadai seperti investor institusi.

Fluktuasi harga yang cepat bisa menggerus modal dalam waktu singkat. Sementara itu, ketidakpastian global mulai dari inflasi hingga konflik geopolitik menambah tekanan psikologis dalam pengambilan keputusan investasi.

INDODAX mendorong investor untuk tetap rasional dan disiplin, termasuk menggunakan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA). Edukasi dan manajemen risiko menjadi kunci untuk bertahan di tengah pasar yang tidak stabil.

Pada akhirnya, pergerakan Bitcoin saat ini bukan sekadar soal grafik harga. Ia mencerminkan satu hal yang lebih besar ketika bank sentral mengetatkan likuiditas, pasar kripto tidak kebal dan investor kecil biasanya menjadi yang pertama merasakan dampaknya. @dimas

Tags: DigitalEkonomi IndonesiaGlobalInflasiInvestasiKeuanganKriptoMarketPasarSuku Bunga

Kamu Melewatkan Ini

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

by dimas
Agustus 23, 2026

Negara memiliki mandat untuk menguasai sumber daya strategis. Namun, mandat itu bukan sekadar soal izin, regulasi, atau kepemilikan. Ukuran akhirnya...

Pasal 33 UUD 1945: Ekonomi Indonesia Milik Siapa?

Pasal 33 UUD 1945: Ekonomi Indonesia Milik Siapa?

by dimas
Agustus 22, 2026

Pasal 33 UUD 1945 bukan sekadar aturan ekonomi, tetapi tentang pengelolaan sumber daya, distribusi kekayaan, dan kemakmuran rakyat. Tabooo.id -...

Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Investasi

Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Investasi

by eko
Agustus 21, 2026

Ruben Onsu jadi tersangka kasus dugaan penipuan dan penggelapan investasi. Polisi mengungkap kronologi perkara yang bermula dari tawaran usaha. Tabooo.id:...

Next Post
Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id