Tabooo.id: Food – Pernah nggak, pas hujan pertama turun, kamu lagi rebahan santai lalu tiba-tiba rumah berubah jadi bandara mini? Lampu mendadak dikerubungi makhluk bersayap yang bikin setengah populasi Indonesia memilih minggat ke kamar sebelah. Ya, benar laron. Serangga mungil yang entah kenapa selalu muncul kayak undangan tahunan begitu hujan perdana datang.
Lucunya, sementara sebagian orang buru-buru nutup pintu dan ngelepakin laron pakai bantal, sebagian lainnya justru berlari keluar rumah sambil bawa baskom. Bukan buat ngusir, tapi buat panen. Karena di beberapa daerah, laron bukan hama… tapi cemilan istimewa yang hanya muncul setahun sekali. Aneh? Iya. Unik? Banget. Enak? Jangan salah.
Laron: Dari “Ih geli!” jadi “Eh, tambah dong!”
Bentuknya boleh bikin kita ingin menjauh, tapi soal rasa? Banyak yang menyerah kalah. Begitu sayapnya rontok, laron dibersihkan dan langsung masuk wajan. Hasilnya: aromanya wangi, teksturnya crunchy, dan rasanya mirip kacang yang buttery yang bikin orang-orang tiba-tiba lupa kalau mereka baru saja makan serangga.
Nggak berhenti sampai situ, kreativitas warga selalu menemukan jalannya. Ada yang bikin rempeyek laron yang renyah maksimal. Ada juga yang diolah jadi bothok kelapa pedas gurih. Bayangin kamu makan nasi panas dengan bothok laron… selesai sih. Sebakul pun bisa hilang tanpa kamu sadar.
Fenomena kuliner ini bukan baru, dan bukan sekadar “makan serangga biar viral”. Di banyak desa, ini tradisi turun-temurun. Munculnya cuma sebentar, panennya cepat, rasanya spesial. Dan kayak semua hal musiman durian, mangga golek, sampai film Marvel yang dulu cuma rilis sesekali kelangkaan membuatnya makin dicari.
Sebentar, enak… tapi aman nggak?
Nah, di balik rasa gurihnya yang bikin nagih, laron tetap punya sisi kontroversial. Beberapa orang mengaku setelah makan laron muncul bentol, bibir gatal, atau mual. Kenapa? Karena serangga mengandung protein tertentu yang bisa memicu alergi mirip kayak orang yang nggak bisa makan udang, cumi, atau kacang.
Beberapa catatan kesehatan juga mengingatkan bahwa histamin alami pada tubuh laron bisa memicu reaksi pada orang yang sensitif. Jadi, meskipun laron aman untuk sebagian besar orang, tetap ada risiko yang mesti dipertimbangkan.
Tapi kalau kamu tanya para pecinta kuliner ekstrem? Jawabannya simpel “Worth it.”
Dan begitulah hidup kadang kita tetap memilih sesuatu yang enak walau tahu konsekuensinya. Mirip cinta, tapi ini versi renyahnya.
Kenapa sih laron selalu jadi heboh tiap awal musim hujan?
Ada alasan sosial dan psikologis yang menarik di balik hype ini.
Pertama, soal nostalgia.
Laron itu memanggil kenangan masa kecil: lampu teras, suara hujan, dan momen panen bareng keluarga. Generasi yang besar di desa tahu betul sensasi “berburu” laron malam-malam. Makanan bukan cuma soal rasa, tapi soal memori.
Kedua, soal komunitas.
Fenomena laron bukan aktivitas individual. Orang-orang keluar rumah, ngobrol, dan berbagi hasil panen. Di era serba digital di mana interaksi makin jarang momentum seperti ini menciptakan ruang pertemuan alami. Dan itu mahal nilainya.
Ketiga, fenomena ini menyentuh tren global: makan serangga sebagai sumber protein masa depan.
FAO pernah merilis laporan bahwa konsumsi serangga adalah opsi pangan berkelanjutan yang efisien dan ramah lingkungan. Indonesia sudah punya tradisi itu… bahkan sebelum dunia barat menjadikannya topik konferensi.
Keempat, faktor psikologis paling kuat: rasa penasaran.
Kita hidup di era FOMO, di mana mencicipi sesuatu yang ekstrem itu dianggap prestasi kecil. “Gue udah pernah makan laron goreng,” terdengar seperti badge kehormatan yang bisa dipamerkan di tongkrongan.
Jadi, apa dampaknya buat kamu?
Pertanyaannya apakah kamu siap mencicipi laron saat hujan turun berikutnya, atau tetap memilih menutup pintu sambil teriak “Ih, menjijikkan!”?
Fenomena kuliner musiman ini sebenarnya mengingatkan kita pada satu hal penting:
Bahwa budaya makan orang Indonesia itu luas, liar, dan penuh kejutan. Kadang, makanan terbaik muncul dari hal yang tidak kita duga.
Dan di balik segala keunikannya, laron memberi kita pelajaran sederhana:
Tidak semua hal bernilai datang dari sesuatu yang cantik. Kadang yang bentuknya bikin merinding justru yang paling lezat, paling dicari, dan paling meninggalkan cerita.
Jadi, saat hujan pertama tiba dan lampu rumahmu mulai diserbu “tamu tak diundang”, kamu tinggal pilih: ikut panen, atau cuma teriak dari dalam kamar.
Yang jelas… tiap awal musim hujan, laron selalu berhasil jadi spotlight. Dan kamu? Tinggal tentukan mau ikut hype atau tetap jadi penonton. @Anisa N





