Wayang Potehi kembali hidup di Solo. Namun, pelestarian tidak cukup dengan membuka panggung. Budaya membutuhkan generasi yang mau belajar dan meneruskannya.
Tabooo.id – Panggung bisa kembali dibuka setelah puluhan tahun sunyi. Namun, budaya belum tentu langsung memiliki masa depan. Ketika generasi penerus berhenti belajar, sebuah kesenian bisa tetap dikenal, tetapi perlahan kehilangan orang yang mampu menghidupkannya.
Wayang Potehi kembali bergerak di atas panggung Klenteng Tien Kok Sie, Solo.
Boneka-boneka kayu memainkan cerita klasik Tiongkok. Para dalang menghidupkan setiap tokoh. Penonton pun kembali menyaksikan kesenian yang pernah lama kehilangan ruang.
Sekilas, semuanya terlihat seperti kemenangan.
Wayang Potehi masih hidup. Panggung kembali ramai. Masyarakat kembali bisa menyaksikan kesenian Tionghoa itu secara langsung.
Namun, ada pertanyaan yang lebih besar di balik panggung tersebut.
Siapa yang akan meneruskannya?
Budaya Tidak Hanya Membutuhkan Penonton
Masyarakat sering mengukur keberhasilan pelestarian dari keramaian.
Festival ramai. Penonton memenuhi lokasi. Foto dan video menyebar di media sosial.
Lalu, kita menganggap budaya itu aman.
Padahal, penonton dan penerus memiliki peran berbeda.
Penonton menikmati budaya. Penerus menghidupkannya.
Sebuah kesenian bisa menarik banyak orang hari ini. Namun, kesenian itu tetap menghadapi masalah jika jumlah orang yang mampu memainkannya terus berkurang.
Di sinilah persoalan regenerasi dimulai.
Kita bisa bangga pada sebuah budaya, tetapi belum tentu mau mempelajarinya.
Ketika Panggung Hilang, Rantai Pewarisan Ikut Putus
Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya, mengatakan perjalanan Wayang Potehi tidak bisa lepas dari sejarah panjang budaya Tionghoa di Indonesia.
Menurut dia, kesenian Tionghoa pernah melewati masa sulit.
Wayang Potehi juga kehilangan ruang tampil dalam waktu panjang.
“Semenjak itu, terkuburlah agama dan kesenian Tionghoa,” tutur Sumantri.
Masalah tidak berhenti saat pertunjukan menghilang.
Ketika panggung hilang, proses belajar ikut terganggu.
Dalang kehilangan kesempatan untuk tampil. Generasi muda kehilangan kesempatan untuk melihat. Calon penerus juga kehilangan ruang untuk belajar.
Padahal, budaya hidup melalui proses yang terus berjalan.
Guru mengajarkan pengetahuan.
Murid belajar dan mempraktikkannya.
Kemudian, generasi baru meneruskan pengetahuan itu kepada generasi berikutnya.
Namun, ketika rantai itu putus, budaya kehilangan salah satu penyangga terpentingnya.
Tiga Dekade Bisa Mengubah Banyak Hal
Sumantri mengatakan masa panjang tanpa ruang pertunjukan ikut mengganggu regenerasi Wayang Potehi.
Ia bahkan mengaku terakhir melihat Wayang Potehi di Klenteng Tien Kok Sie pada Juli 1964.
“Wayang Potehi juga termasuk dilarang. Saya melihat Wayang Potehi itu terakhir kali Juli 1964 di Klenteng Tien Kok Sie,” tuturnya.
Pernyataan itu menunjukkan satu persoalan penting.
Budaya tidak selalu langsung pulih ketika hambatan hilang.
Sebuah kesenian membutuhkan waktu untuk membangun kembali ekosistemnya.
Ia membutuhkan guru dan ia membutuhkan murid.
Ia membutuhkan ruang latihan.
Ia juga membutuhkan panggung.
Tanpa semua itu, pengetahuan sulit berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Larangan bisa berhenti dalam satu hari. Regenerasi membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Ketika Penerus Justru Datang dari Luar
Di tengah persoalan tersebut, Wayang Potehi menghadirkan cerita yang menarik.
Sumantri mengatakan sebagian besar dalang Wayang Potehi saat ini bukan berasal dari masyarakat Tionghoa.
“Bahkan sekarang itu, para dalang bukan orang Tionghoa. Para dalang itu 90 persen adalah orang Jawa,” katanya.
Di sinilah muncul sebuah ironi.
Wayang Potehi lahir dari tradisi Tionghoa. Namun, masyarakat Jawa kini ikut mengambil peran besar dalam menjaga pertunjukan itu.
Mereka belajar memainkan boneka, mereka menghidupkan cerita dan mereka juga menjaga agar panggung Potehi tidak kembali sunyi.
Fakta tersebut memperlihatkan dua sisi.
Regenerasi internal sempat mengalami gangguan. Namun, masyarakat di luar komunitas Tionghoa ikut menyambung rantai yang hampir putus.
Ketika satu generasi kehilangan jalannya, orang lain bisa datang untuk menjaga warisan itu tetap hidup.
Siapa yang Berhak Menjaga Budaya?
Pertanyaan tentang regenerasi sering membawa persoalan identitas.
Apakah hanya kelompok asal yang boleh menjaga sebuah budaya?
Wayang Potehi memberi gambaran berbeda.
Budaya tetap memiliki akar dan sejarah. Asal-usulnya tetap penting.
Namun, pelestarian membutuhkan siapa pun yang mau belajar dengan sungguh-sungguh.
Dalang Jawa tidak menghapus identitas Tionghoa dari Wayang Potehi.
Sebaliknya, mereka membantu menjaga kesenian itu agar tetap memiliki pelaku.
Di titik ini, budaya melampaui batas etnis.
Bukan untuk kehilangan identitas.
Tetapi untuk memperluas orang-orang yang bersedia menjaganya.
Panggung Kembali, Tugas Baru Dimulai
Era Reformasi membuka kembali ruang bagi budaya Tionghoa.
Pemerintah mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000.
Keppres Nomor 6 Tahun 2000 — JDIH BPK RI
Setelah itu, berbagai ekspresi budaya Tionghoa kembali hadir di ruang publik.
Barongsai kembali tampil.
Liong kembali bergerak dalam berbagai perayaan.
Wayang Potehi kembali menemukan panggung.
Namun, kebebasan bukan akhir perjuangan.
Kebebasan hanya membuka pintu.
Setelah itu, masyarakat harus mengisi ruang yang tersedia.
Seorang penerus tidak muncul hanya karena pemerintah membuka kesempatan.
Ia harus melihat keseniannya, dia harus tertarik dan ia harus belajar.
Kemudian, ia harus berani mengambil peran.
Regenerasi tidak lahir dari kebebasan saja. Regenerasi tumbuh dari proses belajar.
Festival Ramai Belum Tentu Menjamin Masa Depan
Klenteng Tien Kok Sie menggelar Wayang Potehi pada 1-12 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya nguri-uri budaya.
Pertunjukan itu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal Wayang Potehi.
Panggung seperti ini sangat penting.
Anak muda mungkin pertama kali tertarik setelah melihat pertunjukan. Seorang calon dalang mungkin mulai belajar setelah menyaksikan pemain senior.
Namun, pertunjukan tidak bisa menjadi satu-satunya jawaban.
Budaya membutuhkan proses yang lebih panjang.
Masyarakat harus menyediakan ruang belajar.
Para pelaku harus membagikan pengetahuan.
Generasi muda juga harus mendapat kesempatan untuk mencoba.
Jika pelestarian hanya berhenti pada acara tahunan, masyarakat hanya merayakan budaya hari ini.
Mereka belum tentu membangun masa depannya.
Pertanyaannya bukan hanya apakah panggung ramai hari ini. Pertanyaannya, siapa yang akan berdiri di atas panggung itu nanti?
Klenteng Menjaga Ruang, Manusia Menjaga Budaya
Klenteng Tien Kok Sie telah berdiri selama 248 tahun.
Bangunan itu menyimpan perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Solo.
Namun, bangunan tidak bisa memainkan Wayang Potehi.
Tembok tidak bisa menggerakkan boneka.
Ruang juga tidak akan berarti tanpa manusia yang mengisinya.
Klenteng bisa menyediakan tempat.
Pemerintah bisa membuka jalan.
Komunitas bisa menggelar pertunjukan.
Namun, manusia tetap menentukan masa depan budaya.
Harus ada yang mau belajar menjadi dalang, harus ada yang mau mengajarkan cerita dan harus ada generasi yang mau mengambil warisan dari generasi sebelumnya.
Bangunan bisa bertahan ratusan tahun. Budaya membutuhkan manusia baru di setiap generasi.
Budaya Tidak Selalu Mati dalam Satu Hari
Tidak semua budaya hilang melalui peristiwa besar.
Kadang, prosesnya berjalan perlahan.
Seorang maestro tidak memiliki murid.
Pemain senior berhenti.
Anak muda memilih tidak belajar.
Panggung semakin jarang.
Pengetahuan pun berhenti berpindah.
Lalu, masyarakat baru menyadari masalah ketika orang terakhir yang menguasai kesenian itu sudah tidak ada.
Nama budayanya mungkin masih tercatat.
Foto dan video mungkin masih tersimpan.
Namun, dokumentasi tidak selalu bisa menggantikan manusia yang menguasai pengetahuan tersebut.
Budaya hidup ketika seseorang masih memainkannya, budaya hidup ketika pengetahuan masih berpindah dan budaya hidup ketika generasi baru mulai mengambil peran.
Masa Depan Ada pada Orang yang Mau Belajar
Wayang Potehi di Klenteng Tien Kok Sie menunjukkan bahwa budaya masih bisa bangkit setelah melewati masa sulit.
Kesenian itu kembali mendapat panggung.
Para dalang kembali memainkan cerita.
Masyarakat kembali datang untuk menonton.
Namun, tantangan berikutnya tetap sama.
Mereka harus memastikan pengetahuan tidak berhenti pada generasi sekarang.
Sumantri dan pengelola Klenteng Tien Kok Sie terus menjaga ruang bagi Wayang Potehi karena kesenian itu pernah melewati masa sulit.
Kini perjuangannya memasuki tahap baru.
Bukan lagi sekadar memperjuangkan hak untuk tampil.
Mereka harus memastikan selalu ada orang yang siap meneruskan pertunjukan.
Sebab budaya mungkin bisa selamat dari larangan.
Budaya juga bisa kembali setelah puluhan tahun kehilangan panggung.
Namun, ketika generasi berikutnya berhenti belajar, ancaman datang dengan cara yang lebih sunyi.
Tidak ada yang melarang.
Tidak ada yang menutup panggung.
Hanya tidak ada lagi yang mampu meneruskannya.
Dan ketika itu terjadi, budaya tidak kehilangan masa depannya karena sejarah.
Budaya kehilangan masa depannya karena generasi berikutnya berhenti mengambil warisannya.@eko








