Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gamelan Berbunyi, Tradisi Nginang Kembali Mengikat Kenangan

by eko
Agustus 20, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Lastri, 65 tahun, warga Sukoharjo, terus mengikuti tradisi nginang saat Sekaten sejak sang ibu mengenalkannya pada usia 15 tahun.

Tabooo.id – Suara gamelan Kiai Guntur Madu menggema dari sisi selatan halaman Masjid Agung Solo.

Saat para pengrawit mulai menabuh gamelan pusaka itu, ratusan warga langsung bergerak. Sebagian warga mengambil janur. Sebagian lainnya membawa beberangen dan mulai nginang.

Di antara kerumunan itu, Lastri ikut menjalankan tradisi yang telah menemaninya selama puluhan tahun.

Warga Sukoharjo berusia 65 tahun itu mulai mengenal nginang saat masih remaja. Sang ibu mengajaknya datang ke Sekaten dan mengenalkan kebiasaan tersebut ketika usianya baru 15 tahun.

Sejak saat itu, Lastri terus datang ketika Sekaten tiba.

Ini Belum Selesai

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

Dua Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Kesempatan Jadi Nyata

Ajakan Ibu yang Bertahan Lima Puluh Tahun

Bagi Lastri, Sekaten membawa lebih dari sekadar suara gamelan.

Tradisi itu juga membawanya kembali pada satu kenangan dari masa remaja. Saat berusia 15 tahun, ia datang bersama ibunya dan pertama kali mengikuti tradisi nginang.

Sang ibu mengajaknya mengunyah sirih saat masyarakat menyambut tabuhan gamelan Sekaten.

Lastri kemudian terus mengikuti kebiasaan itu hingga sekarang.

“Saya sudah mulai menginang sejak umur 15 tahun. Saat itu diajak ibu untuk nginang saat Sekaten dan terus menerus ikut sampai sekarang,” tutur Lastri.

Kini, usia Lastri mencapai 65 tahun.

Lima puluh tahun telah berlalu sejak pertama kali ia mengikuti nginang. Namun, ajakan sang ibu tetap hidup dalam kebiasaan yang ia jalankan setiap Sekaten datang.

Setiap suara gamelan kembali menggema, Lastri kembali menemukan jejak masa remajanya.

Tabuhan Gamelan Membuka Momen Sekaten

Tradisi itu berlangsung saat para pengrawit menabuh Kiai Guntur Madu.

Gamelan pusaka tersebut berada di sisi selatan halaman Masjid Agung Solo atau Surakarta. Tabuhan gamelan kemudian menarik perhatian ratusan masyarakat yang memenuhi kawasan itu.

Sebagian warga langsung mengambil janur.

Warga lain menyiapkan beberangen dan mulai nginang.

Kegiatan tersebut hadir bersama tabuhan gamelan dan menjadi bagian dari momen awal Sekaten di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Suasana pun berubah.

Suara gamelan mengisi udara. Masyarakat berkumpul. Janur berpindah dari tangan ke tangan. Sementara itu, sebagian warga melanjutkan lelaku nginang yang telah mereka kenal sejak lama.

Bagi masyarakat, setiap unsur dalam momen itu memiliki arti tersendiri.

Lastri Memegang Keyakinannya tentang Nginang

Lastri juga memiliki alasan pribadi untuk terus menjalankan kebiasaan tersebut.

Ia percaya nginang membantu menjaga kekuatan giginya. Ia juga mengaitkan kebiasaan itu dengan kondisi tubuh yang tetap sehat.

Menurut Lastri, pengalaman hidupnya membuat ia semakin yakin untuk mempertahankan tradisi tersebut.

“Dulu gak percaya kalau nginang dapat memperkuat gigi dan awet muda, tapi saya gak percaya. Namun kenyataan gigi saya masih kuat dan sekarang saya masih diberi sehat,” terangnya.

Lastri melihat sendiri kondisi giginya hingga sekarang.

Ia mengaku masih memiliki gigi yang kuat. Ia juga bersyukur karena masih menikmati kesehatan di usia 65 tahun.

Pengalaman itu membuat nginang memiliki makna pribadi bagi Lastri.

Namun, keyakinan Lastri tentang manfaat tersebut berasal dari pengalaman pribadinya. Cerita itu menjadi bagian dari alasan yang membuatnya terus menjalankan tradisi nginang.

Apa Itu Nginang?

Nginang merupakan lelaku mengunyah sirih.

Masyarakat biasanya menyiapkan beberapa bahan untuk melengkapi sirih. Bahan tersebut antara lain pinang, gambir, tembakau, kapur, dan campuran cengkeh.

Warga mengenal campuran bahan itu sebagai bagian dari beberangen yang mereka bawa saat menjalankan tradisi nginang.

Di tengah Sekaten, lelaku tersebut kembali hadir di antara kerumunan masyarakat.

Bagi Lastri, setiap kunyahan tidak hanya mengingatkan pada rasa atau kebiasaan. Tradisi itu juga menghubungkannya dengan masa ketika sang ibu pertama kali mengajaknya mengikuti Sekaten.

Di situlah sebuah kebiasaan kecil mendapat arti yang lebih besar.

Sekaten Menyimpan Cerita di Balik Keramaian

Banyak orang datang ke Sekaten untuk melihat keramaian.

Ada yang menunggu suara gamelan pusaka, ada yang menikmati suasana di sekitar Masjid Agung Solo. Ada pula yang datang bersama keluarga.

Namun, Lastri datang sambil membawa cerita yang jauh lebih panjang.

Ia datang sebagai perempuan yang telah menjalankan kebiasaan sama selama sekitar lima dekade.

Sekaten mempertemukan kembali Lastri dengan ingatan tentang ibunya.

Dulu, sang ibu mengajak seorang remaja berusia 15 tahun untuk ikut nginang.

Kini, remaja itu telah berusia 65 tahun. Namun, ia masih datang dan meneruskan kebiasaan tersebut.

Ini bukan sekadar cerita tentang sirih. Ini cerita tentang bagaimana sebuah tradisi bertahan ketika seseorang terus membawanya dalam hidup.

Tradisi tidak selalu hidup dalam buku atau bangunan tua.

Tradisi juga hidup dalam kebiasaan manusia.

Seorang ibu mengajak anaknya.

Anak itu mengingatnya.

Lalu, puluhan tahun kemudian, anak itu masih menjalankannya.

Saat Gamelan Berbunyi, Kenangan Kembali Datang

Ketika Kiai Guntur Madu kembali mengeluarkan bunyinya, Sekaten kembali membuka ruang bagi banyak cerita.

Ada suara pengrawit yang menabuh gamelan , ada ratusan warga yang mengambil janur.

Ada masyarakat yang membawa beberangen dan nginang.

Dan di tengah semuanya, ada Lastri.

Ia masih mengingat saat sang ibu pertama kali mengajaknya. Lima puluh tahun kemudian, ajakan itu masih membawanya kembali ke Sekaten.

Waktu terus berjalan.

Generasi terus berganti.

Namun, Lastri tetap datang ketika Sekaten memanggil.

Sebab bagi Lastri, setiap tabuhan gamelan bukan hanya tanda Sekaten dimulai. Suara itu juga membawa kembali satu kenangan yang tak pernah benar-benar pergi: ajakan ibunya untuk menginang.@eko

Tags: GamelanKraton SurakartaMasjid Agung KratonNginangSolo

Kamu Melewatkan Ini

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

by eko
Agustus 21, 2026

Rajamala menempuh perjalanan dari Canthik hingga menjadi ikon Solo. Namun, seberapa jauh masyarakat memahami cerita dan makna di balik wajah...

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

by eko
Agustus 21, 2026

45 peserta meriahkan Pawai Pembangunan Solo 2026 dari Perempatan Gendengan menuju depan Bank Indonesia Solo dengan tema Sayangi Semesta, Hidup...

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

by eko
Agustus 20, 2026

Tradisi nginang kembali hadir di Sekaten Solo. Dari sirih hingga beberangen, kebiasaan lama ini menjaga jejak budaya lintas generasi. Tabooo.id...

Next Post
15 PLTU Emisi Tinggi Mau Pensiun, Listrik Jangan Ikut Pensiun Dulu

15 PLTU Emisi Tinggi Mau Pensiun, Listrik Jangan Ikut Pensiun Dulu

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id