Tradisi nginang kembali hadir di Sekaten Solo. Dari sirih hingga beberangen, kebiasaan lama ini menjaga jejak budaya lintas generasi.
Tabooo.id – Suara gamelan Kiai Guntur Madu menggema dari sisi selatan halaman Masjid Agung Solo. Saat tabuhan dimulai, warga bergerak mengikuti rangkaian tradisi Sekaten. Sebagian mengambil janur, sementara yang lain membawa beberangen dan mulai nginang.
Nginang bukan sekadar mengunyah sirih.
Di tengah Sekaten, kebiasaan ini membawa jejak panjang budaya yang terus hidup. Sirih, pinang, gambir, kapur, tembakau, dan cengkeh kembali hadir dalam beberangen yang dibawa warga.
Sekaten lalu menunjukkan satu hal.
Tradisi lama masih bisa menemukan tempat di tengah zaman yang terus berubah.
Saat Gamelan Berbunyi, Nginang Kembali Hadir
Kiai Guntur Madu mengawali salah satu momen penting dalam Sekaten. Tabuhan gamelan pusaka itu mengundang perhatian masyarakat yang memenuhi kawasan Masjid Agung Solo.
Warga kemudian mengikuti kebiasaan yang telah mereka kenal sejak lama.
Ada yang mengambil janur, ada yang membawa beberangen.
Ada pula yang menyiapkan sirih dan mulai nginang.
Suasana Sekaten pun tidak hanya menghadirkan keramaian. Tradisi kecil ikut mengisi ruang di antara suara gamelan dan kerumunan masyarakat.
Nginang menjadi salah satunya.
Kebiasaan ini tampak sederhana. Namun, setiap bahan dalam beberangen membawa cerita tentang hubungan masyarakat dengan tradisi yang mereka warisi.
Apa Itu Nginang?
Nginang merupakan kebiasaan mengunyah sirih bersama beberapa bahan pelengkap.
Masyarakat biasanya menggunakan daun sirih, pinang, gambir, kapur, tembakau, dan cengkeh. Mereka mencampurkan bahan-bahan itu sesuai kebiasaan yang berkembang di lingkungannya.
Masyarakat mengenal kumpulan bahan tersebut sebagai beberangen.
Tradisi nginang telah lama hidup di berbagai daerah di Nusantara, termasuk di Jawa. Setiap daerah memiliki cara dan makna tersendiri.
Namun, nginang selalu membawa lebih dari sekadar rasa.
Ada kebiasaan yang turun dari generasi ke generasi, ada cerita yang terus bergerak dari mulut ke mulut dan ada pula ingatan yang bertahan karena masyarakat terus menjalankannya.
Sirih Membawa Jejak Masa Lalu
Zaman berubah semakin cepat.
Anak muda kini mengenal budaya lewat layar ponsel. Media sosial menyajikan sejarah dalam video singkat. Banyak kebiasaan lama pun hanya muncul saat perayaan tertentu.
Namun, Sekaten menawarkan pengalaman yang berbeda.
Saat Kiai Guntur Madu berbunyi, masyarakat tidak hanya datang untuk menonton. Mereka juga menjalankan kebiasaan yang telah lama tumbuh dalam kehidupan budaya Jawa.
Nginang menjadi bagian dari momen itu.
Tradisi tidak selalu hidup di museum.
Tradisi juga tidak hanya tinggal di halaman buku sejarah.
Manusia membuat tradisi tetap hidup melalui kebiasaan yang terus mereka ulang.
Seseorang mengajarkannya.
Generasi berikutnya mengingatnya.
Lalu, mereka meneruskannya.
Dari tangan ke tangan, dari cerita ke cerita, dari generasi ke generasi.
Sekaten Menyimpan Lebih dari Keramaian
Banyak orang datang ke Sekaten untuk menikmati suasana.
Mereka mendengar gamelan pusaka, mereka melihat kerumunan masyarakat dan mereka juga menyaksikan janur yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
Namun, Sekaten menyimpan lapisan cerita yang lebih dalam.
Nginang memperlihatkan hubungan antara masa lalu dan masa kini. Tradisi lama tetap muncul ketika kehidupan modern bergerak semakin cepat.
Ini bukan sekadar kebiasaan mengunyah sirih.
Ini tentang cara masyarakat menjaga hubungan dengan budaya.
Di situlah makna Sekaten terasa lebih luas.
Keramaian mungkin menarik orang untuk datang. Namun, kebiasaan kecil seperti nginang membantu menjaga ingatan tentang apa yang pernah hidup sebelumnya.
Budaya Bertahan Lewat Kebiasaan Kecil
Nginang mungkin tidak menghasilkan suara sebesar gamelan.
Tradisi ini juga tidak selalu menjadi pusat perhatian.
Namun, justru di situlah kekuatannya.
Budaya tidak selalu bertahan melalui bangunan besar atau perayaan megah. Budaya sering bertahan melalui kebiasaan kecil yang terus dilakukan masyarakat.
Seseorang membawa beberangen, seseorang menyiapkan sirih dan seseorang mengajak generasi berikutnya mengenal kebiasaan itu.
Lalu, tradisi terus berjalan.
Ini bukan sekadar cerita tentang nginang. Ini cerita tentang pola yang membuat budaya tetap hidup.
Tradisi tidak otomatis hilang karena zaman berubah.
Tradisi mulai kehilangan jejak ketika generasi berhenti mengenalnya.
Saat Kiai Guntur Madu kembali berbunyi, Sekaten kembali membuka ruang bagi kebiasaan lama.
Suara gamelan memenuhi udara.
Warga mengambil janur.
Beberangen kembali hadir.
Sirih kembali dikunyah.
Di tengah dunia yang terus mengejar hal baru, tradisi lama masih berjalan dengan caranya sendiri.
Pelan.
Sederhana.
Namun, tetap hidup.
Sebab budaya tidak selalu membutuhkan panggung besar untuk bertahan.
Kadang, budaya hanya membutuhkan satu generasi yang mau mengenal, menjaga, lalu meneruskannya.@eko








