Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

by dimas
Oktober 13, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter
JABFest 2026 di Yogyakarta menghadirkan seni, buku, film, dan diskusi untuk melawan pendangkalan berpikir serta menjaga ingatan kolektif.

Tabooo.id: Yogyakarta – Ketika ruang publik semakin bising oleh informasi singkat dan perdebatan yang dangkal, seni dan buku menawarkan jalan berbeda: berhenti sejenak, membaca lebih dalam, dan mempertanyakan sesuatu yang kerap dianggap biasa.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Jogja Art + Books Festival (JABFest) 2026 di The Ratan, Yogyakarta. Berlangsung pada 30 September–12 Oktober 2026, festival ini mempertemukan seni, literasi, dan diskusi publik dalam satu ruang yang terbuka bagi masyarakat.

Mengusung tema “Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja”, JABFest 2026 tidak sekadar menawarkan pameran seni atau bazar buku. Festival ini juga menghadirkan ruang untuk merawat ingatan, menguji gagasan, dan membicarakan persoalan sosial-politik melalui kebudayaan.

Selama 13 hari, penyelenggara menghadirkan sekitar 20.000 judul buku dari penerbit independen dan reguler, karya tujuh seniman, tujuh film, serta 25 panel diskusi. Seluruh rangkaian agenda dapat diakses secara gratis.

Di tengah derasnya arus informasi, festival ini mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: ketika banyak orang berlomba berbicara, siapa yang masih bersedia mendengarkan, membaca, dan berpikir lebih dalam?

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Seni, literasi, dan politik warga

Tim Program Jogja Art Festival, Doel Rohim, menjelaskan bahwa festival ini dirancang untuk mempertemukan dunia seni dengan literasi. Penyelenggara membuka ruang bagi penerbit, seniman, penulis, dan masyarakat untuk saling bertemu melalui karya maupun pertukaran gagasan.

“Yang di sini ada berbagai program yang mencoba menghubungkan antara kesenian, terus dunia literasi,” kata Doel.

Menurut dia, program literasi mencakup bazar buku dan rangkaian diskusi yang berlangsung hampir sepanjang festival. Penyelenggara juga memberikan kesempatan kepada penerbit di Yogyakarta untuk memperkenalkan karya mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Bazar tersebut melibatkan sekitar 100 penerbit, menurut perkiraan Doel. Pengunjung dapat menjelajahi beragam buku sekaligus bertemu dengan ekosistem penerbitan yang tumbuh di Yogyakarta.

Sementara itu, program seni rupa menghadirkan karya tujuh seniman. Rangkaian lainnya mencakup Berbincang Ngobrolin Buku, The Sounds of Poetry, Kuliah (Ora) Umum, Pidato Kebudayaan, Pameran Literasi, Seniman Bicara, Layar Tancep, peluncuran buku, dan bazar buku.

JABFest juga memasuki penyelenggaraan tahun keempat. Doel berharap festival ini dapat terus bertahan, berkembang, dan menjadi ruang bersama bagi komunitas literasi Yogyakarta.

“Harapannya semakin bisa istikamah, bisa terus berjalan, terus semakin baik secara program, dan bisa terus mewakili perasaan teman-teman di dunia literasi,” ujarnya.

Namun, keberlanjutan festival bukan satu-satunya hal yang dipertaruhkan. Di tengah perubahan lanskap sosial dan politik, ruang kebudayaan juga berhadapan dengan pertanyaan mengenai siapa yang berhak berbicara dan sejauh mana kritik dapat tumbuh.

Ketika seni mengambil posisi

Tema JABFest 2026 memperoleh penegasan melalui pernyataan kurator pameran, Ayos Purwoaji. Ia memandang praktik artistik sebagai tindakan politik dalam pengertian mendasar, yakni membuka ruang bagi kritik, ingatan, dan imajinasi kolektif.

Ayos mengutip pandangan Toni Morrison, “All good art is political.” Baginya, seni dapat menjadi saksi mata yang menolak pelupaan dan membantu masyarakat merebut kembali bahasa ketika suara publik menghadapi pembungkaman.

Dalam kerangka itu, seni tidak berhenti pada keindahan visual atau pengalaman estetis. Karya juga dapat menjadi cara untuk merekam kenyataan, mempertanyakan kekuasaan, dan menjaga kemungkinan lahirnya gagasan alternatif.

Pameran JABFest 2026 berupaya menempatkan praktik artistik sebagai tindakan politik melalui ruang tumbuh bagi kritik, ingatan, dan imajinasi kolektif. Ketiganya menjadi modal masyarakat untuk mempertahankan harapan di tengah ketidakpastian.

Pandangan tersebut memperlihatkan hubungan erat antara tema festival dan kondisi ruang publik. Ketika persoalan sosial semakin kompleks, pendalaman menjadi penting agar masyarakat tidak hanya bereaksi terhadap potongan informasi, tetapi juga memahami konteks yang membentuknya.

Seni memang tidak otomatis mengubah kebijakan atau menyelesaikan ketimpangan. Namun, seni dapat membuka pertanyaan yang luput dari percakapan sehari-hari, menyimpan pengalaman yang berisiko dilupakan, dan memberi bentuk kepada kegelisahan yang belum menemukan bahasa.

Di sinilah gagasan “saksi mata” memperoleh maknanya. Karya seni bukan sekadar objek untuk dipandang, melainkan kemungkinan untuk membaca kembali realitas dari sudut yang berbeda.

Seni sebagai perpanjangan suara warga

Pandangan serupa disampaikan Oca SMI. Ia melihat Jogja Art Fest sebagai bentuk tindakan politik yang dilakukan kolektif-kolektif di Yogyakarta melalui pertemuan seni, literasi, dan politik.

Menurut Oca, festival tersebut menyediakan wadah bagi warga untuk mengekspresikan aspirasi yang selama ini mereka anggap tidak memperoleh ruang memadai.

“Ini adalah bentuk satu wadah pelampiasan politik warga negara yang selama ini diabaikan,” ujarnya.

Oca berharap festival ini terus berlangsung dan menjadi perpanjangan suara masyarakat untuk menyampaikan kritik kepada pemegang kekuasaan.

Pernyataan itu menempatkan festival dalam hubungan yang lebih luas dengan kehidupan demokrasi. Politik tidak selalu hadir melalui partai, pemilu, atau gedung pemerintahan. Ia juga tumbuh melalui percakapan, karya, pertemuan komunitas, dan keberanian masyarakat menyampaikan pengalaman mereka.

Meski demikian, ruang kebudayaan tetap membutuhkan keterbukaan. Diskusi yang mempertemukan berbagai pandangan harus memberi kesempatan bagi perbedaan untuk muncul, diuji, dan diperdebatkan tanpa kehilangan penghormatan terhadap manusia.

Karena itu, ukuran keberhasilan festival bukan hanya jumlah pengunjung atau banyaknya agenda. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah ruang tersebut benar-benar memungkinkan masyarakat berbicara, mendengarkan pandangan berbeda, dan membawa pulang pemahaman baru.

Di balik festival, ada ekonomi kecil yang ikut bergerak

JABFest juga mempertemukan agenda kebudayaan dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di antara stan yang meramaikan acara, Yoi Coffee menjadi salah satu usaha yang mencoba menjangkau pengunjung festival.

Robith, perwakilan Yoi Coffee, mengatakan bahwa jumlah penjualan selama festival mengalami perubahan. Pada hari ketiga hingga hari kesepuluh, penjualan biasanya hanya berkisar 14-15 cangkir per hari, bahkan terkadang kurang.

Namun, dua hari terakhir penyelenggaraan menunjukkan peningkatan. Penjualan mencapai lebih dari 25 hingga 30 cangkir per hari.

“Kalau traffic hari pertama, hari kedua lumayan. Mulai hari ketiga sampai hari ke-10 mungkin satu hari paling cuma 14 cup, 15 cup. Kadang enggak sampai 15 juga,” kata Robith.

Ia mengaku baru pertama kali mengikuti pameran Jogja Art tahun ini. Sebelumnya, Yoi Coffee biasa beroperasi di kawasan Warung Boto dan mengikuti sejumlah acara lain, termasuk konser.

Robith menilai penyelenggaraan festival tersebut positif. Meski begitu, perubahan jumlah penjualan menunjukkan bahwa kehadiran dalam sebuah acara tidak selalu langsung menghasilkan transaksi yang stabil.

Pengalaman Yoi Coffee memberi gambaran kecil tentang dimensi ekonomi sebuah festival. Selain menghadirkan karya dan gagasan, acara semacam ini juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk bertemu calon pelanggan.

Akan tetapi, data penjualan satu stan belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan dampak ekonomi JABFest. Pengukuran yang lebih utuh membutuhkan informasi mengenai jumlah pengunjung, transaksi, serta manfaat yang dirasakan berbagai pelaku usaha selama acara.

Di titik ini, penyelenggaraan festival budaya juga menghadapi pekerjaan lanjutan: memastikan ruang pertemuan tidak hanya ramai secara gagasan, tetapi memberi manfaat yang lebih luas bagi ekosistem di sekitarnya.

Gratis bukan berarti tanpa nilai

Seluruh rangkaian JABFest 2026 terbuka secara gratis. Kebijakan ini mengurangi hambatan biaya bagi masyarakat yang ingin mengakses pameran, diskusi, pemutaran film, maupun kegiatan literasi lainnya.

Namun, akses gratis tidak dengan sendirinya menjamin keterlibatan yang setara. Waktu, jarak, kebiasaan membaca, dan akses terhadap informasi tetap memengaruhi siapa yang dapat hadir serta mengikuti kegiatan.

Karena itu, tantangan festival literasi bukan hanya menyediakan buku dalam jumlah besar. Tantangan berikutnya ialah mengubah pertemuan dengan buku menjadi kebiasaan membaca, mengubah diskusi menjadi pertukaran pengetahuan, dan menghubungkan kritik kebudayaan dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.

Dua puluh ribu judul buku dapat membuka banyak pintu pengetahuan. Namun, jumlah tersebut baru menjadi berarti ketika pembaca menemukan karya yang relevan, mengujinya dengan pengalaman, dan mengembangkan pemahamannya sendiri.

Begitu pula dengan 25 panel diskusi. Nilainya tidak semata-mata terletak pada jumlah forum, tetapi pada gagasan yang tumbuh, perbedaan yang dapat dibicarakan, dan percakapan yang berlanjut setelah festival berakhir.

Di tengah banjir informasi, pendalaman memang membutuhkan lebih banyak waktu. Ia menuntut kesediaan membaca sampai tuntas, mendengar sebelum menyimpulkan, serta membedakan fakta dari prasangka.

Merawat ruang berpikir setelah festival berakhir

JABFest 2026 membawa pesan bahwa seni dan literasi dapat menjadi ruang untuk membaca realitas secara lebih kritis. Festival ini mempertemukan penerbit, seniman, penulis, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam rangkaian kegiatan yang menghubungkan kebudayaan dengan persoalan publik.

Bagi Doel Rohim, harapan utamanya ialah menjaga festival tetap berlangsung sebagai ruang bersama bagi dunia literasi Yogyakarta. Sementara itu, Oca SMI menekankan pentingnya menjadikan festival sebagai wadah ekspresi politik warga.

Keduanya memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hidup hanya di atas panggung atau di dalam galeri. Kebudayaan tumbuh ketika masyarakat memperoleh ruang untuk mengolah pengalaman, menyampaikan kegelisahan, dan membangun percakapan.

Pada akhirnya, festival yang berlangsung selama 13 hari itu menyisakan pekerjaan yang jauh lebih panjang. Buku perlu terus dibaca, karya seni perlu terus ditafsirkan, dan ruang diskusi perlu terus dirawat setelah stan dibongkar serta lampu pameran dipadamkan.

Sebab, seperti semangat yang diusung festival ini, seni dapat berumur panjang, sementara rezim hanya sementara. Namun, panjang umur kebudayaan tidak terjadi dengan sendirinya. Ia membutuhkan warga yang bersedia menjaga ingatan, merawat kebebasan berpikir, dan menolak berhenti pada pemahaman yang dangkal.

Ketika pendangkalan memperoleh ruang untuk berkuasa, siapa yang bersedia bekerja lebih dalam? @anisa

Tags: BudayaJABFest 2026Jogja Art Books FestivalLiterasiSastraseniYogyakarta

Kamu Melewatkan Ini

Sempat Hidup, Hiu Tutul 7 Meter Mati Usai Terdampar di Parangkusumo

Sempat Hidup, Hiu Tutul 7 Meter Mati Usai Terdampar di Parangkusumo

by dimas
Oktober 18, 2026

Hiu tutul sepanjang sekitar tujuh meter terdampar di Pantai Parangkusumo, Bantul. Sempat hidup saat ditemukan, satwa itu akhirnya mati. BKSDA...

JOFAFEST 6 Usung “Transcend”, Ajak Sineas Muda Melampaui Batas

JOFAFEST 6 Usung “Transcend”, Ajak Sineas Muda Melampaui Batas

by dimas
Oktober 16, 2026

JOFAFEST 6 mengusung tema “Transcend” di Yogyakarta pada 22-24 Oktober 2026, mengajak sineas muda melampaui batas kreativitas melalui film dan...

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana tinggal kelas kembali membuka perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Sebelum meminta siswa mengulang pelajaran, pemerintah perlu memastikan sekolah mampu...

Next Post
Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id