Wayang Potehi Tien Kok Sie kembali hidup setelah puluhan tahun vakum. Kini, 90 persen dalangnya disebut berasal dari masyarakat Jawa.
Tabooo.id – Wayang Potehi kembali hidup di Klenteng Tien Kok Sie, Solo. Setelah puluhan tahun kehilangan ruang tampil, kini 90 persen dalangnya disebut berasal dari masyarakat Jawa.
Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya, mengatakan perjalanan Wayang Potehi tidak bisa lepas dari dinamika sejarah Indonesia.
Menurut Sumantri, pada masa Belanda hingga awal Orde Lama, kesenian Tionghoa masih tampil di ruang publik.
Situasi berubah pada era Orde Baru.
Pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang mengatur agama, kepercayaan, dan adat istiadat masyarakat Tionghoa.
“Semenjak itu, terkuburlah agama dan kesenian Tionghoa,” tutur Sumantri.
Ia mengatakan masyarakat hampir tidak melihat kesenian Tionghoa di ruang publik sepanjang 1967-1998.
Wayang Potehi ikut kehilangan panggung.
Sumantri mengaku terakhir melihat pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Tien Kok Sie pada Juli 1964.
Setelah itu, kesenian tersebut tidak lagi tampil seperti sebelumnya.
Tiga Dekade Tanpa Panggung
Masalahnya bukan hanya pertunjukan yang berhenti.
Ketika panggung hilang, proses regenerasi dalang ikut terganggu. Anak-anak muda kehilangan kesempatan untuk belajar langsung dari pertunjukan dan para pemain senior.
Akibatnya, rantai pewarisan Wayang Potehi tidak berjalan normal selama puluhan tahun.
Namun, sejarah kemudian menghadirkan sebuah ironi.
Ketika ruang pertunjukan kembali terbuka, masyarakat di luar etnis Tionghoa justru ikut mengambil peran.
“Bahkan sekarang itu, para dalang bukan orang Tionghoa. Para dalang itu 90 persen adalah orang Jawa,” kata Sumantri.
Di sinilah kisah Wayang Potehi menjadi lebih menarik.
Budaya Tionghoa justru mendapat tenaga dari orang yang tidak lahir dari komunitas Tionghoa.
Ketika Orang Jawa Menjadi Dalang
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berjalan dari orang tua kepada anak.
Kadang, orang lain datang untuk menyambung rantai yang hampir putus.
Para dalang Jawa tidak mengubah Wayang Potehi menjadi kesenian Jawa. Mereka justru membantu menjaga kesenian Tionghoa agar tetap punya panggung.
Kondisi itu juga memperlihatkan bahwa budaya bisa melintasi batas identitas.
Seseorang tidak harus lahir dalam sebuah komunitas untuk ikut menjaga warisannya.
Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk belajar, memainkan, dan mengenalkannya kepada publik.
Reformasi Membuka Kembali Ruang Budaya
Perubahan mulai terasa setelah era Reformasi.
Pemerintah mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000. Keputusan tersebut membuka kembali ruang bagi masyarakat Tionghoa untuk menjalankan agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya. Keppres Nomor 6 Tahun 2000 JDIH BPK RI
Sumantri menyebut sejumlah pemerintahan setelah Orde Baru ikut menghadirkan regulasi yang mendukung perkembangan hak sipil masyarakat Tionghoa.
“Semenjak itulah bermunculan Barongsai, Liong, dan Wayang Potehi,” terangnya.
Ruang publik perlahan kembali terbuka.
Kesenian yang pernah menghilang mulai muncul lagi di tengah masyarakat.
Tien Kok Sie Memilih Menghidupkan Panggung
Klenteng Tien Kok Sie kini terus mementaskan Wayang Potehi sebagai bagian dari upaya nguri-uri budaya.
Bagi Sumantri, pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan.
“Wayang Potehi salah satu budaya yang masih kita lestarikan, karena pernah mengalami masa-masa yang sangat sulit,” jelasnya.
Pagelaran pada 1-12 Agustus menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali kesenian tersebut kepada masyarakat.
Klenteng juga membuka ruang bagi pengunjung umum untuk menyaksikan pertunjukan.
Dengan begitu, Wayang Potehi tidak hanya menjadi milik satu komunitas.
Ia hadir sebagai bagian dari kekayaan budaya yang bisa dinikmati siapa saja.
Budaya Tidak Cukup Hanya Dibebaskan
Ada satu pelajaran penting dari perjalanan Wayang Potehi.
Membuka kembali ruang budaya memang penting. Namun, kebebasan saja tidak cukup untuk menjamin sebuah kesenian tetap hidup.
Kesenian membutuhkan pemain. Ia membutuhkan penonton. Ia juga membutuhkan generasi baru.
Di titik ini, regenerasi menjadi pekerjaan rumah.
Jika 90 persen dalang kini berasal dari masyarakat Jawa seperti yang disampaikan Sumantri, fakta tersebut menunjukkan satu hal: rantai pewarisan internal sempat mengalami gangguan serius.
Namun, kondisi itu juga membawa harapan.
Orang dari luar komunitas ternyata bisa ikut menjaga budaya yang bukan warisan keluarganya.
Dari Budaya yang Pernah Sunyi Menjadi Panggung Bersama
Wayang Potehi di Tien Kok Sie akhirnya bukan sekadar cerita tentang boneka kayu dan kisah klasik Tiongkok.
Ini cerita tentang budaya yang pernah kehilangan ruang.
Ini cerita tentang regenerasi yang sempat tersendat.
Dan ini cerita tentang masyarakat yang memilih menjaga kesenian meski mereka tidak lahir dari tradisi tersebut.
Budaya ternyata tidak selalu mati karena ditinggalkan pemiliknya. Kadang, budaya bertahan karena orang lain memilih untuk merawatnya.
Sumantri berharap dukungan pemerintah terhadap agama, budaya, dan kesenian Tionghoa terus berjalan.
Namun setelah pintu kembali terbuka, tugas berikutnya ada di masyarakat.
Menjaga agar panggung yang dulu sunyi itu tidak kembali kosong.@eko








