Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Wayang Potehi Tien Kok Sie Bangkit dari Masa Sunyi

by eko
Agustus 15, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Wayang Potehi Tien Kok Sie kembali hidup setelah puluhan tahun vakum. Kini, 90 persen dalangnya disebut berasal dari masyarakat Jawa.

Tabooo.id – Wayang Potehi kembali hidup di Klenteng Tien Kok Sie, Solo. Setelah puluhan tahun kehilangan ruang tampil, kini 90 persen dalangnya disebut berasal dari masyarakat Jawa.

Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya, mengatakan perjalanan Wayang Potehi tidak bisa lepas dari dinamika sejarah Indonesia.

Menurut Sumantri, pada masa Belanda hingga awal Orde Lama, kesenian Tionghoa masih tampil di ruang publik.

Situasi berubah pada era Orde Baru.

Pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang mengatur agama, kepercayaan, dan adat istiadat masyarakat Tionghoa.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

“Semenjak itu, terkuburlah agama dan kesenian Tionghoa,” tutur Sumantri.

Ia mengatakan masyarakat hampir tidak melihat kesenian Tionghoa di ruang publik sepanjang 1967-1998.

Wayang Potehi ikut kehilangan panggung.

Sumantri mengaku terakhir melihat pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Tien Kok Sie pada Juli 1964.

Setelah itu, kesenian tersebut tidak lagi tampil seperti sebelumnya.

Tiga Dekade Tanpa Panggung

Masalahnya bukan hanya pertunjukan yang berhenti.

Ketika panggung hilang, proses regenerasi dalang ikut terganggu. Anak-anak muda kehilangan kesempatan untuk belajar langsung dari pertunjukan dan para pemain senior.

Akibatnya, rantai pewarisan Wayang Potehi tidak berjalan normal selama puluhan tahun.

Namun, sejarah kemudian menghadirkan sebuah ironi.

Ketika ruang pertunjukan kembali terbuka, masyarakat di luar etnis Tionghoa justru ikut mengambil peran.

“Bahkan sekarang itu, para dalang bukan orang Tionghoa. Para dalang itu 90 persen adalah orang Jawa,” kata Sumantri.

Di sinilah kisah Wayang Potehi menjadi lebih menarik.

Budaya Tionghoa justru mendapat tenaga dari orang yang tidak lahir dari komunitas Tionghoa.

Ketika Orang Jawa Menjadi Dalang

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berjalan dari orang tua kepada anak.

Kadang, orang lain datang untuk menyambung rantai yang hampir putus.

Para dalang Jawa tidak mengubah Wayang Potehi menjadi kesenian Jawa. Mereka justru membantu menjaga kesenian Tionghoa agar tetap punya panggung.

Kondisi itu juga memperlihatkan bahwa budaya bisa melintasi batas identitas.

Seseorang tidak harus lahir dalam sebuah komunitas untuk ikut menjaga warisannya.

Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk belajar, memainkan, dan mengenalkannya kepada publik.

Reformasi Membuka Kembali Ruang Budaya

Perubahan mulai terasa setelah era Reformasi.

Pemerintah mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000. Keputusan tersebut membuka kembali ruang bagi masyarakat Tionghoa untuk menjalankan agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya. Keppres Nomor 6 Tahun 2000 JDIH BPK RI

Sumantri menyebut sejumlah pemerintahan setelah Orde Baru ikut menghadirkan regulasi yang mendukung perkembangan hak sipil masyarakat Tionghoa.

“Semenjak itulah bermunculan Barongsai, Liong, dan Wayang Potehi,” terangnya.

Ruang publik perlahan kembali terbuka.

Kesenian yang pernah menghilang mulai muncul lagi di tengah masyarakat.

Tien Kok Sie Memilih Menghidupkan Panggung

Klenteng Tien Kok Sie kini terus mementaskan Wayang Potehi sebagai bagian dari upaya nguri-uri budaya.

Bagi Sumantri, pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan.

“Wayang Potehi salah satu budaya yang masih kita lestarikan, karena pernah mengalami masa-masa yang sangat sulit,” jelasnya.

Pagelaran pada 1-12 Agustus menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali kesenian tersebut kepada masyarakat.

Klenteng juga membuka ruang bagi pengunjung umum untuk menyaksikan pertunjukan.

Dengan begitu, Wayang Potehi tidak hanya menjadi milik satu komunitas.

Ia hadir sebagai bagian dari kekayaan budaya yang bisa dinikmati siapa saja.

Budaya Tidak Cukup Hanya Dibebaskan

Ada satu pelajaran penting dari perjalanan Wayang Potehi.

Membuka kembali ruang budaya memang penting. Namun, kebebasan saja tidak cukup untuk menjamin sebuah kesenian tetap hidup.

Kesenian membutuhkan pemain. Ia membutuhkan penonton. Ia juga membutuhkan generasi baru.

Di titik ini, regenerasi menjadi pekerjaan rumah.

Jika 90 persen dalang kini berasal dari masyarakat Jawa seperti yang disampaikan Sumantri, fakta tersebut menunjukkan satu hal: rantai pewarisan internal sempat mengalami gangguan serius.

Namun, kondisi itu juga membawa harapan.

Orang dari luar komunitas ternyata bisa ikut menjaga budaya yang bukan warisan keluarganya.

Dari Budaya yang Pernah Sunyi Menjadi Panggung Bersama

Wayang Potehi di Tien Kok Sie akhirnya bukan sekadar cerita tentang boneka kayu dan kisah klasik Tiongkok.

Ini cerita tentang budaya yang pernah kehilangan ruang.

Ini cerita tentang regenerasi yang sempat tersendat.

Dan ini cerita tentang masyarakat yang memilih menjaga kesenian meski mereka tidak lahir dari tradisi tersebut.

Budaya ternyata tidak selalu mati karena ditinggalkan pemiliknya. Kadang, budaya bertahan karena orang lain memilih untuk merawatnya.

Sumantri berharap dukungan pemerintah terhadap agama, budaya, dan kesenian Tionghoa terus berjalan.

Namun setelah pintu kembali terbuka, tugas berikutnya ada di masyarakat.

Menjaga agar panggung yang dulu sunyi itu tidak kembali kosong.@eko

Tags: KlentengSoloThionghoaTien Kok SieWayang Potehi

Kamu Melewatkan Ini

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

by teguh
Oktober 13, 2026

Museum tak harus menunggu pengunjung datang. Kali ini, koleksi sejarah dan budaya Solo yang biasanya tersimpan di gedung museum justru...

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

by eko
Oktober 8, 2026

Patriot Bengawan siap berlaga di PORPROV Jateng 2026. Kontingen Surakarta membidik posisi kedua dengan target 95 medali emas. Tabooo.id: Surakarta...

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

by teguh
September 25, 2026

Api kembali muncul di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis 24/9/2026. Petugas sebelumnya terus membasahi titik panas setelah kebakaran besar melanda...

Next Post
Hari Damai Aceh Ricuh: Saat Perdamaian Bertemu Bendera dan Peluru

Hari Damai Aceh Ricuh: Saat Perdamaian Bertemu Bendera dan Peluru

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id