Hari Damai Aceh di Banda Aceh berakhir ricuh setelah massa dan aparat bentrok terkait larangan pengibaran bendera Bintang Bulan.
Tabooo.id – Hari Damai Aceh seharusnya menjadi ruang untuk mengingat sebuah perdamaian.
Namun, Sabtu (15/8/2026), halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, justru berubah tegang.
Batu melayang. Tembakan peringatan terdengar. Gas air mata menyebar di tengah massa.
Hari yang mestinya membawa ingatan tentang damai malah menghadirkan pemandangan yang berlawanan.
Massa dan aparat gabungan TNI-Polri terlibat bentrokan. Massa melempar batu dan benda lain ke arah petugas. Aparat kemudian melepaskan tembakan ke udara dan menggunakan gas air mata.
Sejumlah kendaraan di sekitar masjid mengalami kerusakan.
Namun, kericuhan itu tidak berhenti pada soal batu, tembakan, atau sebuah bendera.
Ada sejarah panjang yang ikut berdiri di tengah kerumunan.
Sebuah Bendera, Sebuah Ingatan Panjang
Kericuhan bermula ketika sebagian massa hendak memasang bendera Bintang Bulan pada salah satu tiang di kompleks Masjid Raya Baiturrahman.
Aparat TNI yang berjaga di sekitar pagar masjid melarang pemasangan tersebut.
Larangan itu kemudian memicu ketegangan. Aparat melepaskan beberapa tembakan peringatan ke udara.
Suara tembakan membuat massa di halaman masjid spontan tiarap.
Situasi berubah panas setelah sebagian massa meluapkan kemarahan kepada aparat.
Mereka kemudian mengejar personel TNI hingga kawasan depan Gedung DPRK Banda Aceh. Sebagian massa lainnya bergerak menuju lampu Simpang Kodim.
Dalam pengejaran itu, massa melempari aparat dengan batu dan sejumlah benda lain.
Personel TNI kemudian menjauh dari kejaran massa. Bentrokan pun mulai mereda.
Tetapi, ketegangan belum benar-benar hilang.
Massa masih bertahan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Mereka memprotes larangan pengibaran bendera Bintang Bulan.
Sejumlah selongsong peluru juga terlihat di jalan sekitar lokasi.
Kericuhan bahkan memunculkan aksi pembakaran. Massa membakar satu sepeda motor milik aparat TNI yang terparkir di area masjid.
Seorang peserta aksi juga harus menjalani perawatan setelah mengalami luka di kepala.
Bintang Bulan Bukan Sekadar Kain
Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih rumit.
Bendera Bintang Bulan memiliki sejarah panjang dalam perjalanan politik Aceh.
Simbol tersebut juga berkaitan erat dengan sejarah Gerakan Aceh Merdeka dan konflik bersenjata yang berlangsung selama puluhan tahun.
Karena itu, sebuah kain dapat membawa beban sejarah yang jauh lebih berat daripada ukurannya.
Bagi sebagian masyarakat, Bintang Bulan merepresentasikan identitas Aceh dan kekhususan daerah.
Namun, bagi negara, simbol tersebut berkaitan dengan persoalan hukum dan sejarah separatisme.
Perbedaan makna itu membuat sebuah tiang bendera bisa berubah menjadi titik benturan.
Persoalan hukumnya pun bukan perkara baru.
Pada 2021, Polda Aceh menyatakan pengibaran Bintang Bulan ilegal setelah ketentuan terkait Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 dibatalkan Kemendagri.
Artinya, persoalan simbol tersebut sudah lama hidup di ruang publik.
Kericuhan 15 Agustus 2026 hanya menunjukkan bahwa persoalan itu belum benar-benar selesai.
Ironi di Hari yang Seharusnya Damai
Tanggal 15 Agustus memiliki makna khusus bagi Aceh.
Pada 15 Agustus 2005, Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani MoU Helsinki.
Kesepakatan tersebut menjadi tonggak penting berakhirnya konflik bersenjata Aceh.
Kini, 21 tahun setelah kesepakatan itu, bentrokan kembali terjadi pada hari yang sama.
Ironinya terlalu jelas untuk diabaikan.
Hari Damai Aceh justru menghadirkan suara tembakan.
Simbol perdamaian berdiri berhadapan dengan simbol konflik lama.
Masyarakat yang seharusnya mengenang masa damai kembali menyaksikan aparat dan massa saling berhadapan.
Lalu, apa yang sebenarnya belum selesai?
Perdamaian Tidak Sama dengan Lupa
Perdamaian memang menghentikan perang.
Namun, perdamaian tidak otomatis menghapus ingatan.
Ia juga tidak langsung menyelesaikan seluruh perdebatan mengenai identitas, simbol, kewenangan, dan sejarah.
Di sinilah masalahnya.
Sebuah masyarakat bisa berhenti mengangkat senjata, tetapi tetap membawa pertanyaan lama.
Ketika pertanyaan itu tidak menemukan ruang dialog yang cukup, simbol dapat menjadi pemicu.
Bendera kemudian berubah menjadi bahasa politik.
Larangan berubah menjadi sumber kemarahan.
Kerumunan berubah menjadi tekanan massa.
Pada titik tertentu, dialog kalah cepat dari emosi.
Dan ketika emosi mengambil alih, batu mulai terbang.
Ini Bukan Sekadar Kericuhan. Ini Pola.
Melihat kejadian ini hanya sebagai kerusuhan massa terlalu mudah.
Menyebutnya sekadar persoalan keamanan juga belum cukup.
Ada persoalan yang lebih besar di balik benturan tersebut.
Aceh masih menghadapi pekerjaan panjang untuk mendamaikan identitas, sejarah, hukum, dan ingatan kolektif.
Masalahnya bukan hanya bagaimana aparat mengendalikan massa.
Pertanyaan yang lebih besar menyangkut bagaimana negara dan masyarakat menyelesaikan perbedaan sebelum perbedaan berubah menjadi benturan.
Sebab perdamaian tidak hanya membutuhkan jalan yang bebas dari perang.
Perdamaian juga membutuhkan ruang untuk berbeda tanpa rasa takut.
Ruang itu harus memungkinkan masyarakat membicarakan identitas tanpa langsung melihat lawannya sebagai ancaman.
Ketika Simbol Lebih Cepat daripada Dialog
Bendera memiliki kekuatan karena manusia memberinya makna.
Karena itu, larangan terhadap sebuah simbol tidak otomatis menghapus makna tersebut.
Sebaliknya, pengibaran simbol yang dipersoalkan secara hukum juga tidak otomatis menyelesaikan tuntutan identitas.
Keduanya membutuhkan percakapan.
Namun, percakapan membutuhkan ruang.
Tanpa ruang itu, jalanan sering menjadi tempat masyarakat menyampaikan frustrasi.
Kericuhan di Masjid Raya Baiturrahman memperlihatkan bahayanya.
Satu simbol memicu larangan.
Larangan memicu kemarahan.
Kemarahan berubah menjadi pengejaran.
Pengejaran berubah menjadi lemparan batu.
Pada akhirnya, seseorang terluka dan kendaraan mengalami kerusakan.
Rantai seperti itu tidak lahir dalam satu hari.
Ia tumbuh dari persoalan yang tidak menemukan penyelesaian memadai.
Siapa yang Menanggung Harganya?
Kerusuhan tidak pernah berhenti pada dua kelompok yang bertikai.
Warga sekitar ikut merasakan ketegangan.
Pengguna jalan menghadapi gangguan.
Pemilik kendaraan menanggung kerusakan.
Pedagang dan masyarakat sekitar harus berhadapan dengan situasi yang tidak mereka ciptakan.
Lebih jauh lagi, masyarakat Aceh kembali berhadapan dengan bayangan masa lalu.
Padahal, mereka sudah melewati konflik panjang.
Mereka juga sudah melewati proses perdamaian yang tidak sederhana.
Karena itu, setiap benturan seharusnya menjadi alarm.
Bukan alarm untuk kembali memperkeras pendekatan.
Sebaliknya, ini alarm untuk memperluas ruang dialog.
Perdamaian Harus Lebih dari Sekadar Seremoni
Hari Damai Aceh seharusnya tidak berhenti pada upacara dan simbol.
Perdamaian perlu hadir dalam cara negara mendengar.
Perdamaian juga harus terlihat dalam cara masyarakat menyampaikan keberatan.
Keduanya membutuhkan batas yang jelas.
Massa tidak boleh menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk menyerang.
Aparat juga harus menjaga agar penanganan massa tetap terukur dan sesuai aturan.
Di antara dua kepentingan itu, masyarakat membutuhkan jaminan bahwa suara mereka tetap memiliki ruang.
Sebab ketika semua pintu percakapan terasa tertutup, jalanan akan selalu menjadi pilihan terakhir.
Dan pilihan terakhir biasanya tidak pernah menghasilkan akhir yang baik.
Aceh Sudah Berdamai, Tetapi Pekerjaannya Belum Selesai
Kericuhan di halaman Masjid Raya Baiturrahman memberi satu pelajaran penting.
Mengakhiri perang ternyata lebih mudah daripada menyelesaikan seluruh warisannya.
Luka sejarah membutuhkan waktu.
Identitas membutuhkan ruang.
Perbedaan membutuhkan dialog.
Hukum membutuhkan kejelasan.
Negara membutuhkan kepercayaan.
Masyarakat juga membutuhkan cara untuk menyampaikan keresahan tanpa kembali terjebak dalam kekerasan.
Jadi, pertanyaan terbesar dari Hari Damai Aceh tahun ini bukan sekadar siapa yang melempar batu lebih dulu.
Pertanyaan sebenarnya jauh lebih dalam:
Apakah Aceh benar-benar sudah berdamai, atau masyarakat hanya sudah berhenti berperang?
Jika perdamaian hanya berarti tidak ada peluru setiap hari, pekerjaan kita belum selesai.
Sebab damai yang sesungguhnya bukan hanya tentang senjata yang diam.
Ia juga tentang keberanian membicarakan luka tanpa kembali membuka perang. @dimas






