Modal tak kembali dan keuntungan tak datang bisa mengubah kesepakatan investasi menjadi konflik. Kasus Ruben Onsu membuka pertanyaan soal kepercayaan.
Tabooo.id – Uang masuk dengan harapan keuntungan. Kesepakatan tercipta karena kepercayaan. Namun, ketika keuntungan tak datang dan modal tak kembali, hubungan bisnis bisa berubah menjadi konflik.
Kasus dugaan penipuan dan penggelapan investasi yang menyeret Ruben Onsu memperlihatkan bagaimana sebuah kesepakatan bisnis dapat berakhir di kantor polisi.
Menurut keterangan Polres Metro Jakarta Selatan, perkara bermula ketika terlapor menawarkan investasi kepada korban melalui usaha yang dimilikinya pada 2025.
Korban tertarik. Kedua pihak kemudian menyepakati investasi dan keuntungan yang akan diperoleh.
Masalah muncul ketika waktu kesepakatan tiba.
Keuntungan belum diterima. Modal korban juga belum kembali.
Dari Kesepakatan ke Laporan Polisi
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi Wibowo menjelaskan, korban akhirnya melaporkan persoalan tersebut ke polisi.
“Tiba waktu kesepakatan, ternyata keuntungan belum didapatkan dan modal pun juga belum dikembalikan. Makanya, si korban melaporkan kejadian ini ke Polres Jakarta Selatan,” kata Joko.
Laporan itu tercatat pada 22 Agustus 2025. Polisi kemudian melakukan penyelidikan untuk mengumpulkan fakta dan keterangan terkait perkara tersebut.
Pada 25 April 2026, Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan menaikkan perkara dari tahap penyelidikan ke penyidikan.
Kini, polisi menetapkan Ruben Samuel Onsu atau RSO sebagai tersangka. Penyidik juga masih mendalami jumlah dana dan total kerugian korban.
Proses hukum itu masih berjalan.
Ketika Uang Berhenti, Kepercayaan Ikut Retak
Dalam setiap investasi, uang memang menjadi modal utama. Namun, kepercayaan sering menjadi fondasi yang membuat kesepakatan bisa berjalan.
Seseorang menyerahkan dana karena percaya pada usaha, peluang keuntungan, dan orang yang menawarkan investasi tersebut.
Karena itu, konflik tidak selalu langsung muncul saat bisnis mengalami masalah.
Risiko bisa datang. Usaha bisa menghadapi kerugian. Keuntungan juga bisa meleset dari rencana.
Namun, situasi berubah ketika salah satu pihak merasa tidak memperoleh kejelasan mengenai dana yang telah masuk.
Di titik itu, pertanyaan mulai muncul.
Ke mana uang pergi? Mengapa keuntungan tak datang? Kapan modal kembali?
Pertanyaan yang awalnya muncul dalam ruang bisnis akhirnya dapat bergerak ke ruang hukum.
Bukan Sekadar Angka yang Hilang
Sengketa investasi tidak hanya bicara soal nominal.
Bagi korban, uang yang masuk mungkin berasal dari tabungan, hasil kerja, atau aset yang mereka kumpulkan bertahun-tahun.
Ketika dana itu tak kembali, dampaknya tidak berhenti pada rekening.
Ada rencana yang tertunda, ada kebutuhan yang terganggu dan ada rasa percaya yang runtuh.
Ini bukan sekadar soal investasi yang gagal. Ini soal ketika uang hilang dari kendali, sementara kejelasan juga ikut menghilang.
Di sinilah konflik menjadi lebih besar.
Satu pihak mungkin melihat masalah sebagai persoalan bisnis. Namun, pihak lain bisa merasa telah mengalami kerugian yang membutuhkan penjelasan dan pertanggungjawaban.
Investasi Butuh Untung, Tapi Lebih Dulu Butuh Kejelasan
Kasus yang menyeret Ruben Onsu masih berada dalam proses hukum. Polisi belum mengungkap jumlah kerugian korban dan masih mendalami materi penyidikan.
Karena itu, publik perlu melihat perkara ini berdasarkan fakta yang muncul dalam proses hukum, bukan sekadar spekulasi.
Namun, kasus ini juga meninggalkan pertanyaan yang lebih luas.
Mengapa orang mau menyerahkan uang kepada pihak lain?
Jawabannya sederhana: karena mereka percaya.
Kepercayaan memang tidak tercatat dalam nominal investasi. Tapi ketika modal tak kembali, justru kepercayaan itulah yang sering runtuh lebih dulu.
Dan ketika kepercayaan sudah pecah, keuntungan bukan lagi satu-satunya hal yang dipertanyakan. Semua janji sebelumnya ikut masuk ke dalam sengketa.@eko








