Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

by teguh
Agustus 21, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan aktivitas sederhana. Dibalik akses buku belum merata Sekitar 30 menit sebelum pelajaran, siswa membuka buku dan membaca.

Tabooo.id – Sekilas, kebiasaan itu tidak berbeda dari kegiatan literasi di sekolah lain. Namun, Ketika akses buku belum merata dan keterbatasan koleksi bacaan membuat 30 menit tersebut memiliki arti lebih dalam.

Dari halaman buku, anak-anak mencoba mengenal pengetahuan yang lebih luas. Mereka menemukan cerita, informasi, dan gagasan yang mungkin belum hadir dalam keseharian.

30 Menit Melawan Jarak Karena Akses Buku Belum Merata

Kepala SDN 2 Najaten Elis Soliha mengatakan sekolah terus berupaya membangun budaya membaca meski koleksi buku masih terbatas.

“Dengan adanya Program Jagat Literasi ini memacu minat baca anak sekaligus membantu program pemerintah,” ujar Elis kepada Kompas.com, Kamis, 13/08/2026.

Kehadiran Program Jagat Literasi dari Kompas.com bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Gramedia, dan MR.DIY kemudian membawa tambahan koleksi buku.

Ini Belum Selesai

OTT KPK Rektor Unsoed, Dugaan Suap Buka Celah Korupsi Kampus

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

Bagi sekolah yang memiliki pilihan bacaan terbatas, tambahan tersebut berarti lebih banyak pintu menuju pengetahuan.

Cerita yang berbeda dapat memperluas imajinasi. Buku pengetahuan bisa memunculkan pertanyaan baru. Dari sana, rasa ingin tahu anak mendapat ruang untuk berkembang.

Apalagi, gawai semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, buku tetap memiliki peran penting sebagai sumber pengetahuan.

“Program seperti ini sangat diperlukan dan sangat dinantikan,” ucap Elis.

Pernyataan tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih besar. Jika sebuah sekolah masih menunggu tambahan buku untuk memperluas pilihan bacaan, pemerataan literasi belum benar-benar tuntas.

Ketika Buku Tak Mudah Ditemukan Karena Akses Buku Belum Merata

Pembicaraan tentang literasi sering berfokus pada satu hal: kemauan anak membaca. Namun, kemauan saja tidak cukup.

Ketika seorang anak ingin membaca, apakah cukup banyak buku tersedia untuknya?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika sekolah menghadapi keterbatasan bahan bacaan akinat akses buku belum merata.

Minat membutuhkan ruang untuk berkembang. Ruang tersebut membutuhkan buku, guru, fasilitas, dan kebijakan yang saling mendukung.

Di SDN 2 Najaten, Program Jagat Literasi membantu memperluas pilihan bacaan. Tambahan koleksi membuat siswa memiliki lebih banyak bahan untuk dibaca dan didiskusikan.

Meski begitu, program bantuan tidak seharusnya menjadi satu-satunya jalan.

Pemerataan membutuhkan sistem yang mampu menjaga akses buku secara konsisten.

Membaca Tak Berhenti di Halaman

Guru SDN 2 Najaten Novi Pebriana Putra mengatakan kebiasaan membaca berlangsung sekitar 30 menit sebelum pembelajaran.

“Sangat baik untuk meningkatkan literasi sekolah. Biasanya sebelum pembelajaran kami, anak-anak membaca dulu selama 30 menit,” katanya.

Setelah membaca, siswa tidak langsung masuk ke pelajaran berikutnya.

Guru mengajak mereka berdiskusi mengenai isi bacaan. Anak-anak kemudian menceritakan kembali informasi yang mereka peroleh dan mencoba menarik kesimpulan.

Cara tersebut membuat kegiatan membaca berubah menjadi latihan berpikir.

Siswa belajar memahami informasi. Mereka juga berlatih menyampaikan gagasan dan mendengar pendapat teman.

Itje Chodidjah, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, menekankan bahwa literasi tidak cukup hanya dengan kemampuan membaca.

Menurutnya, literasi juga mencakup kemampuan memahami teks dan konteks secara kritis.

Dengan begitu, membaca bukan garis akhir. Halaman pertama justru menjadi awal dari proses berpikir.

Dari Kipas Angin ke Cara Berpikir

Pengalaman belajar siswa kemudian bergerak dari buku menuju praktik.

Program Jagat Literasi menghadirkan aktivitas STEM berupa tantangan merakit kipas angin kecil. Novi menilai kegiatan tersebut dapat melatih kemampuan memecahkan masalah.

“Itu bagus untuk melatih anak-anak memecahkan masalah, bagaimana cara merakit kipas angin hingga bisa berfungsi,” ungkap Novi.

Petunjuk perlu dipahami. Komponen harus dikenali. Setelah itu, siswa mencoba merakit perangkat hingga bekerja. Ketika kipas belum berfungsi, mereka mencari penyebabnya.

Kesalahan tidak berhenti sebagai kegagalan. Justru dari sana, siswa belajar menguji kembali cara berpikir mereka.

Buku memberikan pengetahuan. Praktik menguji pengetahuan. Masalah mendorong anak menggunakan informasi untuk mencari solusi.

Literasi Bukan Cuma Soal Buku

Program Jagat Literasi menyambangi tiga sekolah di Kecamatan Cibalong pada 10–15/08/2026.

Ketiganya ialah SDN 2 Simpang, SDN 2 Najaten, dan SMPN 3 Satap Cibalong.

Kolaborasi Kompas.com, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Gramedia, dan MR.DIY menunjukkan bahwa pemerataan literasi membutuhkan banyak pihak.

Akan tetapi, bantuan tetap perlu berjalan bersama sistem pendidikan yang kuat.

Sekolah membutuhkan koleksi bacaan yang memadai. Guru membutuhkan dukungan. Siswa membutuhkan kesempatan untuk membaca secara berkelanjutan.

Tanpa itu, program literasi mudah berhenti sebagai kegiatan sesaat.

Ini Bukan Sekadar Donasi Buku

Di sinilah cerita SDN 2 Najaten berubah menjadi persoalan yang lebih besar.

Ini bukan sekadar cerita tentang buku yang datang ke sekolah. Ini cerita tentang jarak pendidikan yang belum selesai.

Jarak itu tidak selalu berbentuk kilometer. Kadang, jarak terlihat dari jumlah buku yang tersedia di sebuah rak.

Anak yang tumbuh dengan perpustakaan lengkap memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjelajah pengetahuan.

Sementara itu, anak dengan pilihan bacaan terbatas harus menunggu lebih lama untuk menemukan informasi baru.

Rasa ingin tahu mereka mungkin sama. Kesempatannya belum tentu. Karena itu, pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun ruang kelas.

Akses terhadap pengetahuan juga menentukan seberapa jauh seorang anak dapat melihat dunia.

Satu Buku Bisa Membuka Dunia

Pada akhirnya, 30 menit membaca di SDN 2 Najaten memang terlihat sederhana. Satu buku dapat mengenalkan seorang anak pada tempat yang belum pernah ia datangi.

Sebuah cerita juga bisa memunculkan pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Dari pertanyaan itu, rasa ingin tahu tumbuh.

Selanjutnya, proses belajar bergerak lebih jauh dari halaman buku. Maka, persoalannya bukan apakah anak-anak di pelosok mau membaca.

Mereka sudah menunjukkan kemauan tersebut. Tantangan sebenarnya terletak pada kesempatan.

Apakah setiap anak memiliki akses yang cukup untuk menemukan buku, memahami isinya, berdiskusi, dan menggunakan pengetahuan?

Literasi baru benar-benar menjadi hak ketika kesempatan tersebut hadir secara lebih merata. Di SDN 2 Najaten, perjuangan itu dimulai setiap pagi.

Hanya 30 menit, Namun untuk memangkas jarak pendidikan, Indonesia membutuhkan komitmen yang jauh lebih panjang. @teguh

Tags: Akses BukuGarutJagat LiterasiLiterasiPendidikan AnakPendidikan IndonesiaSDN 2 NajatenSekolah Pelosok

Kamu Melewatkan Ini

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan buku. Selama sekitar 30 menit anak-anak Najaten melawan jarak,...

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

by teguh
Agustus 21, 2026

Masuk kampus punya jalur. Ada jalur prestasi, jalur tes, sampai jalur mandiri. Namun, Kamis, 20/08/2026, publik melihat jalur lain di...

Guru PPPK Jadi Pegawai Pusat, Benarkah Nasib Guru Berubah?

Guru PPPK Jadi Pegawai Pusat, Benarkah Nasib Guru Berubah?

by dimas
Agustus 21, 2026

Pemerintah mengalihkan guru PPPK dari pemerintah daerah menjadi pegawai pusat. Benarkah perubahan status ini mampu memperbaiki kesejahteraan, karier, dan kepastian...

Next Post
Investasi dan Harga Sebuah Kepercayaan

Investasi dan Harga Sebuah Kepercayaan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id