Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kalau Niatnya Baik, Masih Salah Pakai Nama Yakuza?

by teguh
Mei 22, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Nama “Yakuza” selama ini identik dengan bayangan dunia kriminal Jepang: kekerasan, mafia, dan ketakutan. Namun di Kediri, Jawa Timur, nama itu justru dipelintir menjadi simbol pertobatan dan perjalanan spiritual Orang sering menghukum nama lebih cepat daripada memahami niat.

Tabooo.id – Begitu publik mendengar kata “Yakuza”, banyak kepala langsung memutar bayangan mafia Jepang, kekerasan, dan dunia kriminal. Hampir tidak ada yang langsung membayangkan pengajian, ruang hijrah, atau perjalanan spiritual.

“Organisasi Yakuza Maneges ini bukan sekadar wadah berkumpul, namun sarana perubahan dan pengabdian.”
— Den Gus Thuba, pendiri YAKUZA Maneges, Sabtu, 9 Mei 2026.

Karena itu, kemunculan YAKUZA Maneges di Kediri pada Sabtu, 9 Mei 2026 langsung memancing debat.

Sebagian orang menganggapnya kreatif. Sebagian lain merasa nama itu terlalu problematik. Ada juga yang memilih menahan penilaian dan melihat dulu gerakannya.

Lalu muncul pertanyaan yang bikin publik terbelah:

Kalau tujuannya baik, masih salah memakai nama yang buruk?

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

Sebab organisasi itu justru membawa kepanjangan yang terdengar spiritual:

“Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.”

Terdengar kontras. Tapi mungkin justru itu tujuannya.

Saat Nama Mengalahkan Isi

Publik sebenarnya tidak cuma memperdebatkan kata “Yakuza”.

Mereka memperdebatkan simbol. Nama punya kekuatan besar. Satu istilah kontroversial bisa langsung menarik perhatian, memancing rasa penasaran, sekaligus memicu penolakan.

Pengamat komunikasi sosial dari Universitas Airlangga, Suko Widodo, pernah mengingatkan bahwa simbol kuat memang cepat menarik perhatian publik. Namun, organisasi tetap harus menjelaskan konteksnya secara terang.

“Dalam komunikasi publik, simbol yang kuat memang cepat viral. Tapi organisasi juga harus siap menjelaskan konteks agar publik tidak berhenti pada sensasi nama,” ujarnya pada 2024.

Masalahnya ada di sini. Media sosial membentuk kebiasaan baru orang membaca judul, lalu buru-buru menyimpulkan.

Publik melihat nama, lalu bereaksi. Mereka membaca sepintas, lalu merasa sudah tahu semuanya.

Padahal nama kadang hanya pintu masuk, bukan keseluruhan cerita. Pertanyaannya, apa kita terlalu cepat menilai sesuatu yang terasa asing?

Bisakah Orang Merebut Makna dari Simbol Gelap?

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan barang baru.

Sosiologi mengenal istilah reclaiming identity, yaitu upaya mengambil simbol negatif lalu mengubah maknanya menjadi alat perubahan.

Banyak komunitas marjinal memakai strategi itu. Mereka berbicara lewat bahasa yang terasa dekat dengan pengalaman hidup anggotanya.

Sosiolog Musni Umar pernah menjelaskan bahwa kelompok pinggiran sering lebih mudah menerima pendekatan yang terasa akrab.

“Pendekatan kepada masyarakat pinggiran tidak selalu bisa dilakukan dengan bahasa formal dan akademik. Kadang mereka justru tersentuh lewat simbol yang mereka kenal,” ujarnya pada 2022.

Kalau memakai logika itu, YAKUZA Maneges tampaknya mencoba jalan yang berbeda. Mereka tidak menghapus masa lalu. Mereka justru mengakuinya.

Organisasi itu tampak ingin berkata: sebagian orang memang pernah hidup di sisi gelap, tapi mereka tetap punya kesempatan pulang.

Lalu pertanyaan berikutnya muncul Haruskah dakwah selalu tampil rapi supaya orang mau menerima?

Atau justru perubahan sering lahir dari hidup yang berantakan?

Kritik Publik Juga Punya Alasan

Tetapi kritik terhadap nama “Yakuza” juga masuk akal. Sejarah tetap melekat pada simbol.

Sebagus apa pun niatnya, banyak orang tetap mengenal kata “Yakuza” sebagai organisasi kriminal Jepang.

Budayawan Sujiwo Tejo pernah menilai manusia modern hidup di era simbol. Nama sering bergerak lebih cepat daripada penjelasan.

“Simbol bisa menjadi pintu masuk kesadaran. Kadang sesuatu yang dianggap gelap justru dipakai untuk mengingatkan manusia tentang terang,” ujarnya dalam diskusi budaya di Yogyakarta, 2023.

Pendapat itu menarik sekaligus memancing debat. Kalau orang bisa memakai simbol gelap untuk mengingat terang, apakah simbol itu juga berpotensi menormalisasi sisi gelapnya?

Di titik inilah polemik YAKUZA Maneges terasa penting. Publik sebenarnya tidak cuma membahas nama.

Mereka sedang memperdebatkan batas antara strategi dakwah dan potensi glorifikasi.

Jalan Pulang atau Sekadar Sensasi?

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar pernah menegaskan bahwa agama harus hadir sebagai jalan pulang, bukan alat untuk menghakimi.

“Agama harus hadir sebagai jalan pulang, bukan sekadar alat menghakimi,” ujarnya pada Hari Santri Nasional 2025.

Kalimat itu terasa relevan dengan polemik ini. Karena mungkin pertanyaan paling jujur bukan lagi soal nama “Yakuza”.

Pertanyaannya justru ini Apa kita benar-benar percaya manusia bisa berubah?

Atau jangan-jangan, kita hanya nyaman mendengar kisah pertobatan selama tampilannya tetap sopan dan tidak mengganggu?

Polling Tabooo Talk

Kalau niatnya dakwah, menurut kamu nama YAKUZA masih problematik?

  • Problematis
  • Tidak masalah
  • Lihat dulu isi gerakannya
  • Nama tetap penting

Lalu, kamu di kubu mana menilai simbol, atau memberi ruang perubahan?. @teguh

Tags: BudayaDakwah MarjinalFenomena SosialGusMiekJalan PulangKontroversiKota KediriOpini PublikPertobatanSimbolSpiritualitasStigma SosialYAKUZA KediriYakuza Maneges

Kamu Melewatkan Ini

Barikan Warnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta

Barikan Warnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta

by dimas
Juli 4, 2026

Barikan mewarnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta sebagai simbol syukur, keselamatan, dan pelestarian filosofi budaya Jawa. Tabooo.id: Surakarta - Kraton...

TABOOO Cinema Lab: Mengubah Realitas Menjadi Film Dokumenter

TABOOO Cinema Lab: Mengubah Realitas Menjadi Film Dokumenter

by dimas
Juli 1, 2026

TABOOO Cinema Lab menghadirkan pelatihan film dokumenter bersama filmmaker Wahyu Utami untuk mengubah cerita budaya menjadi karya yang bermakna. Tabooo.id...

Dari Lereng Lawu, Kraton Surakarta Gelar Wilujengan Kiblat Sekawan

Dari Lereng Lawu, Kraton Surakarta Gelar Wilujengan Kiblat Sekawan

by dimas
Juni 30, 2026

Kraton Surakarta menggelar Wilujengan Kiblat Sekawan di lereng Gunung Lawu sebagai tradisi Bulan Sura untuk menjaga harmoni alam, budaya, dan...

Next Post
Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id