Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ruang Rapat, Asbak, dan Game Online: Paket Lengkap Demokrasi?

by teguh
Mei 16, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Di ruang rapat membahas soal stunting mestinya menghadirkan kegelisahan bersama. Angka kematian ibu, kesehatan bayi, hingga campak jelas bukan bahan obrolan santai. Namun di Jember, perhatian publik justru bergeser ke video viral yang memperlihatkan seorang anggota DPRD diduga bermain game online sambil merokok ketika rapat berlangsung.

Tabooo.id – Alih-alih membahas solusi kesehatan, media sosial ramai memperdebatkan satu pertanyaan sederhana bagaimana mungkin ruang rapat berubah seperti ruang tunggu yang terlalu santai karena seorang anggota DPRD diduga bermain game online.

Video itu memancing kritik dari berbagai arah. Mahasiswa ikut bersuara. Warganet menyerbu kolom komentar. Sementara itu, Badan Kehormatan (BK) DPRD Jember memilih tetap berjalan di jalur prosedur.

Viral Belum Tentu Langsung Diproses

Anggota BK DPRD Jember, Muhammad Holil Asy’ari, menegaskan lembaganya belum dapat memeriksa anggota Komisi D DPRD Jember, Achmad Syahri As Siddiqi. Hingga kini, BK belum menerima laporan resmi dari pimpinan DPRD maupun masyarakat. Holil menjelaskan, BK tetap harus mengikuti mekanisme kode etik.

“Ketika ada pengaduan dan yang mengadukan itu juga menyertakan identitas, baik itu dari masyarakat umum maupun dari anggota DPRD, maka akan kita verifikasi. Setelah itu, kita lakukan penyelidikan. Setelah itu, pemeriksaan,” ujarnya.

Publik mungkin bertanya bukankah video viral sudah cukup jelas? Namun bagi BK, prosedur tetap menjadi pintu utama.

Ini Belum Selesai

Emil Dardak dan Bagus Panuntun Serukan Persaudaraan Pendekar

Lulus Seleksi, Gugur di Barak: Tragedi Lima Calon Manajer Kopdes

Sebelumnya, Ketua DPRD Jember Ahmad Halim sempat menyampaikan bahwa kasus ini akan masuk ke BK karena menyangkut etika kelembagaan. Meski begitu, sampai sekarang BK masih menunggu langkah resmi dari pimpinan DPRD.

“Kami menunggu dari Ketua DPRD. Karena ketua DPRD sudah berjanji kemarin bahwa ini nanti akan ditindaklanjuti oleh BK,” kata Holil.

Bukan Soal Main Game, Tapi Soal Momentum

Mari luruskan satu hal: bermain game bukan masalah besar. Banyak orang menjadikannya hiburan setelah hari panjang atau bahkan sumber penghasilan. Namun konteks mengubah segalanya.

Rapat tersebut membahas stunting, campak, angka kematian ibu dan bayi, hingga Universal Health Coverage (UHC). Saat isu sepenting itu hadir di meja pembahasan, publik tentu berharap perhatian penuh dari wakil rakyat. Di titik ini, masalahnya bukan sekadar game. Masalahnya terletak pada situasi.

Ketua DPC GMNI Jember, Faizin, menilai perilaku tersebut mencerminkan rendahnya sensitivitas terhadap persoalan publik.

Menurut dia, masyarakat membiayai rapat melalui pajak daerah. Dalam DPA-SKPD Kabupaten Jember 2026, anggaran koordinasi dan konsultasi SKPD mencapai Rp356 juta per tahun. Selain itu, fasilitas rapat menelan Rp44 juta dan konsumsi rapat mencapai Rp57 ribu per orang.

“Semua itu berasal dari pajak rakyat, tetapi fasilitas yang dibiayai publik justru dipertontonkan dengan perilaku bermain game,” ujarnya.

Faizin juga menyoroti ironi lain. Sosok yang tersorot justru berasal dari generasi muda.

“Namun yang terjadi justru sebaliknya. Perilaku tersebut malah memperkuat stigma negatif tentang budaya rebahan, mageran, dan kecanduan game tanpa mengenal situasi,” katanya.

Politik Kadang Terasa Seperti Meme yang Kebablasan

Kasus ini terasa absurd bukan karena ada game. Publik sering melihat hal lebih aneh di panggung politik. Namun kali ini, kontrasnya terlalu mencolok: rapat kesehatan rakyat bertemu dugaan sesi gaming pribadi.

Pengamat politik kerap mengingatkan bahwa krisis terbesar demokrasi lokal bukan cuma soal uang atau kekuasaan. Publik juga kehilangan kepercayaan ketika pejabat tampak tidak serius menjalankan perannya.

Meski begitu, satu hal tetap penting semua pihak perlu menunggu proses etik berjalan.

Holil kembali mengingatkan bahwa BK belum mengambil kesimpulan apa pun.

“Kita tidak bisa langsung men-justice bahwa ini nanti akan dikenai sanksi atau tidak,” tegasnya.

Namun publik tetap punya hak bertanya jika video viral belum cukup memantik evaluasi cepat, lalu standar kedaruratannya ada di level apa?

Ini Bukan Sekadar Dugaan Main Game

Kasus ini sebenarnya bukan cuma tentang layar ponsel, rokok, atau beberapa menit video.

Persoalan utamanya jauh lebih sederhana sekaligus lebih rumit bagaimana rakyat memandang keseriusan wakilnya sendiri.

Saat ruang rapat membahas kesehatan anak dan ibu, masyarakat ingin melihat kehadiran penuh, bukan perhatian yang terpecah.

Sebab dalam demokrasi, rasa kecewa sering muncul bukan karena keputusan buruk. Kadang, rasa itu hadir ketika pemimpin terlihat seperti sedang online, tapi pikirannya offline. @teguh

Tags: Badan Kehormatan DPRD JemberDemokrasiDPRD JemberEtika PejabatGMNIKrisis EmpatiOpini PublikPolitik IndonesiaStuntingTabooo TalkVideo ViralViral IndonesiaWakil Rakyat

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

by teguh
Juni 25, 2026

Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui pihak yang diduga membiayai sejumlah aksi demonstrasi. Ia menyampaikan klaim itu saat menghadiri Puncak Pekan...

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

by teguh
Juni 20, 2026

Ribuan mahasiswa mendatangi Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (19/06/2026). Mereka membawa satu kegelisahan yang kini makin keras terdengar karena...

Next Post
Nyaris Berhenti Belajar, Kini Anak-anak Ini Punya Harapan Baru

Nyaris Berhenti Belajar, Kini Anak-anak Ini Punya Harapan Baru

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id